
Pagi itu Zie pergi ke rumah Marsha. Gadis itu membawa keranjang berisi sayuran dan buah untuk diberikan ke sang sahabat.
“Zie, apa yang kamu bawa itu?” tanya Marsha saat melihat Zie datang.
“Ini aku bawakan sayuran dan buah organik untukmu. Ini aku petik langsung dari kebun kakekku. Masih segar dan benar-benar bebas dari bahan kimia,” ujar Zie menjelaskan sambil menyodorkan keranjang yang dibawanya ke Marsha.
Marsha terlihat senang dan langsung menerimanya, dia lantas mengajak Zie duduk di tepi kolam karena dia memang sedang berada di sana menikmati suasana pagi.
“Metik sendiri? kapan kamu pergi ke perkebunan kakekmu?” tanya Marsha penasaran.
“Kemarin, aku butuh udara segar jadi aku jalan-jalan ke sana,”ujar Zie. “Kalau kamu ada waktu, kapan-kapan kita pergi ke sana bersama-sama, sekalian menghirup udara segar, memanjakan paru-paru kita,”imbuhnya.
Marsha pun mengangguk setuju, keduanya lantas berbincang hal-hal random sampai kondisi kandungan Marsha.
Saat keduanya masih berbincang, tanpa diduga Rey muncul di sana dan bermaksud menghampiri keduanya untuk menyapa. Pria itu sengaja mengambil waktu libur sebelum pergi ke luar negeri untuk urusan bisnis.
Zie yang awalnya duduk seketika berdiri untuk menyapa Rey. Namun, sayangnya karena lantai tepian kolam renang yang sedikit licin, membuat gadis itu hampir terpeleset.
Rey yang melihat hal itu pun tidak tinggal diam, dia dengan sigap meraih tangan Zie, sehingga gadis itu tidak sampai tercebur ke kolam renang.
“Kamu tidak apa-apa?” tanya Rey saat melihat Zie yang tampak syok.
Zie salah tingkah, hingga mencoba berdiri dengan tegap. Tangannya masih dipegang oleh Rey begitu erat.
__ADS_1
“Aku tidak apa-apa, terima kasih,” ucap Zie sambil menyelipkan helaian rambut ke belakang telinga dengan pipi merona menahan malu.
Rey pun menatap Zie begitu juga sebaliknya, mereka sama-sama memulas senyum canggung seperti tak sadar, kalau sejak tadi ada Marsha yang terus memerhatikan. Istri Jeremy itu pun tertawa kecil dan mendapat sebuah ide di kepala. Marsha berniat menjodohkan Zie dengan Rey, agar dia dan Zie bisa menjai saudara ipar.
Bukankah itu menyenangkan?
***
Malam harinya, Marsha dan Jeremy berada di kamar. Seperti biasa bercanda dan mengobrol membicarakan apa saja yang sudah dilalu mereka hari itu. Marsha yang memeluk Jeremy tiba-tiba semakin meringsek mendekat, dia merapat hendak mengutarakan ide yang bersarang di kepala.
“Kak, bagaimana menurut kakak? Setelah melihat Zie dan kak Rey berdiri bersisian, aku merasa mereka sangat cocok,” ucap Marsha setelah menceritakan apa yang terjadi pagi tadi.
Jeremy mengerutkan alis, kenapa Marsha malah ingin menjodohkan Zie dengan Rey. “Bukankah Zie dekat dengan Peter?” tanyanya keheranan.
“Nggaklah, kak Peter terlalu tua untuk Zie,” jawab Marsha. “Zie lebih cocok dengan Rey,” imbuhnya.
Marsha keheranan, kalau Zie dan Peter tidak ada hubungan, lantas untuk apa Peter kecewa.
“Memangnya kak Peter menyukai Zie?” tanya Marsha yang penasaran.
“Gimana nggak suka, mereka saja sekarang sedang kencan,” jawab Jeremy.
Marsha melongo tak percaya menanggapi ucapan suaminya karena dia tidak tahu dan Zie juga tidak pernah bercerita.
__ADS_1
“Mana mungkin? kalau benar mereka berkencan, kenapa Zie tidak cerita ke aku.” Marsha menolak ucapan Jeremy dan tidak bisa percaya begitu saja.
“Tidak bisa! Aku harus cari tahu sendiri.” Marsha hendak pergi, tapi langsung dicegah Jeremy.
“Kamu mau ke mana?”
“Nyari Zie, aku mau dengar sendiri darinya,” jawab Marsha.
“Ini sudah jam berapa? jangan keluyuran malam-malam!” cegah Jeremy.
“Sebentar saja, aku hanya ingin memastikan.” Marsha masih saja bersikeras, rasa penasarannya harus segera diobati malam itu juga.
Jeremy menghela napas kasar, dia lantas berdiri dan memegang kedua pundak sang istri. “Kamu ini seharusnya tidur, bukannya keluyuran. Ingat kondisi tubuhmu.”
Pria itu terpaksa memarahi karena Marsha keras kepala.
“Aku baik-baik saja Kak Je, lagi pula besok kita juga akan kontrol ke dokter,” elak Marsha.
“Tapi tetap saja, kamu harus menjaga kondisimu,” ujar Jeremy yang tidak percaya begitu saja dengan ucapan Marsha.
“Aku hanya akan pergi sebentar, aku akan pergi bersama sopir nenek,” ucap Marsha yang masih terus berusaha membujuk.
Hingga Jeremy menekan kedua pundaknya, meminta agar Marsha duduk di tepian ranjang. Ia pun tak bisa melakukan apa-apa selain menuruti. Marsha pasrah dengan tatapan terus tertuju ke sang suami.
__ADS_1
“Sya, ada hal penting yang ingin aku sampaikan. Jadi, tolong dengarkan baik-baik.”
“Hal penting? apa?”