Pernikahan Tak Terduga : UNEXPECTED MARRIAGE

Pernikahan Tak Terduga : UNEXPECTED MARRIAGE
Bab 106 : Istri Sempurna


__ADS_3

Jeremy menoleh istrinya. Menyenggol lengan Marsha agar gadis itu sadar dan tidak aneh-aneh.


Jika waktu bisa diputar kembali mungkin Jeremy akan memilih untuk berbohong pada tuan Kevin, kalau sang istri sedang sakit, dari pada harus mengajak ke Bali dan berakhir dengan membawa malu tanpa terjalin kesepakatan bisnis.


“Jaga sikapmu Marsha, aku sudah peringatkan! Sekali lagi kamu bersikap aneh aku akan menguncimu di kamar,” bisik Jeremy mengancam.


Sebenarnya bukan tanpa alasan Marsha tertawa, hal ini karena Tuan Kevin dan istrinya mengingatkannya pada tokoh bintang laut dan spon kuning di serial kartun kesukaannya. Saat melihat Tuan Kevin Marsha langsung membayangkan bintang laut merah muda teman si spon kuning. Pasangan suami istri itu memakai baju pink dan kuning.


“Jangan tertawa Marsha, jangan tertawa! Please.” Marsha berbicara pada dirinya sendiri tapi berakhir terbahak-bahak dan itu membuat Tuan Kevin dan istrinya yang bernama Melinda heran.


Marsha langsung mendekat dan sukses membuat Jeremy terkesiap. Pria itu merasa nyawanya berada di ujung tanduk. Ia sudah hampir pingsan jika saja Peter yang berdiri di belakangnya tak memintanya untuk bertahan.


“Pak, stay cool,” bisik Peter.


“Tuan Kevin, Nyonya Linda. Saya Marsha istri Jeremy. Kami sudah menunggu Anda berdua sejak tadi, saya sangat bahagia akhirnya bisa bertemu dan tidak bisa menahan tawa melihat Anda yang begitu serasi,” cerocos Marsha.


Jeremy pun menoleh ke Peter. Sekretarisnya itu mengangguk-angguk sambil menunjukkan ibu jari tangan kanan, ternyata Marsha pintar sekali menjilaat.

__ADS_1


“Dia pintar menjilaat, Pet,” lirih Jeremy.


“Apa Anda sudah pernah merasakannya, Pak.”


“Belum,” jawab Jeremy dengan polosnya. Setelah itu dia memasang muka garang. “Tunggu, jangan sampai kita salah persepsi,” potong Jeremy.


“Ih … Bapak, tentu saja yang saya maksud itu,” jawab Peter dengan senyum aneh di wajah.


“Itu yang mana?”


Peter belum merespon lagi ucapan sang atasan karena Marsha, tuan Kevin dan nyoya Linda mulai mendekat. Pria tua dengan rambut putih itu tertawa, sepertinya Tuan Kevin senang dengan kesan pertama yang diberikan oleh Marsha.


“Sembilan belas tahun,” jawab Jeremy meski ragu.


“Masih muda? Kenapa kamu menikahi daun muda?” tanya Tuan Kevin dengan kening terlipat, kerutan di kulitnya nampak semakin jelas.


“Jika tidak saya nikahi, takutnya dinikahi orang lain,” jawab Jeremy dengan senyuman lebar.

__ADS_1


Jeremy membuat Linda yang sejak tadi berdiri di samping Marsha tertawa, wanita itu pun berkata, “Tidak apa-apa, aku dulu juga menikah muda. Jangan dengarkan omongan suamiku.”


Marsha mengangguk, mereka pun berkumpul di ruang tengah. Berbincang tentang keindahan alam yang dimiliki oleh pulau Dewata, hingga Linda berkata dirinya sudah lelah dan ingin istirahat. Ia mempersilahkan Jeremy dan Marsha untuk berjalan-jalan.


“Bukankah kita di sini untuk double date? Saya tidak mau pergi, kita bisa bersenang-senang bersama besok,” ucap Marsha dengan sangat manis.


Lagi-lagi Jeremy dan Peter saling pandang. Jeremy berharap sang istri akan terus bersikap manis sampai kesepakatan antara dirinya dan Pak Kevin terjalin. Pria tua itu pun tertawa, dia tepuk lengan Jeremy sebelum masuk bersama Linda.


Marsha melambaikan tangan sambil menarik bibirnya lebar. Setelah punggung dua orang penting itu menghilang, gadis itu memutar tumit dan bersedakap dada. Marsha manaikkan dagu lalu berucap dengan sombongnya bahwa dia bisa juga menjadi istri yang sempurna.


Jeremy tersenyum miring, dia mendekat ke arah Marsha dan berbisik di telinga gadis itu, “Istri yang sempurna harus rela melayani suaminya.”


_


_


_

__ADS_1


Scroll ke bawah


__ADS_2