Pernikahan Tak Terduga : UNEXPECTED MARRIAGE

Pernikahan Tak Terduga : UNEXPECTED MARRIAGE
Bab 156 : Kondisikan


__ADS_3

Dugaan Zie membuat perasaan Andro semakin tak enak. Ia sudah tahu apa yang akan dikatakan Marsha saat gadis itu memintanya untuk melepas apron berlogo kafe tempatnya bekerja.


Jeremy meminta izin ke manager kafe secara pribadi untuk bisa membebas tugaskan Andro beberapa menit ke depan karena dia ingin bicara.


Zie dan Peter yang duduk beberapa meja dari mereka pun hanya bisa sesekali menoleh. Pembicaraan di antara ke tiga orang itu nampaknya sangat serius hingga Jeremy juga meminta meja yang berada di kiri, kanan dan belakangnya dikosongkan.


“Mereka mengusir semua pengunjung kafe, bukankah begitu?” Zie menoleh sekeliling, jelas tak ada lagi pengunjung selain mereka di sana.


“Ya, mungkin jika itu bukan kita mereka pasti juga sudah meminta kita pergi.” Peter menyesap expresso miliknya tanpa sedikitpun menunjukkan kepahitan. Bahkan Zie sampai mengedik karena pernah sekali dia meminum kopi jenis itu dan akhirnya tidak bisa tidur semalaman.


“Marsha ingin mengakhiri hubungannya dengan Andro, hanya saja dia tidak berani sendirian. Dasar cemen,”cibir Zie. Ia dan Peter malah sibuk menjadi penonton bukannya melakukan kencan layaknya pria dan wanita pada umumnya.


Andro sejak duduk bersama Jeremy dan Marsha memilih diam. Ia tidak ingin bertanya apa yang terjadi karena sejatinya hanya ada dua kemungkinan yang ada di pikirannya. Pertama, Marsha ingin menagih hutang. Kedua, mengakhiri apa yang menggantung di antara mereka.

__ADS_1


“Ndro, kamu sejak awal tahu apa yang menjadi kesepakatan kita, tapi seiring berjalannya waktu aku dan Marsha kini benar-benar menjalin hubungan yang serius.”


Jeremy memulai pembicaraan. Ia bahkan tak menunjukkan keramahannya karena tak ingin Andro berpikir dirinya sedang bernegosiasi.


“Marsha sudah memberitahuku bagaimana hubungan kalian, jadi aku harap kalian benar-benar selesai dan menjalani hidup masing-masing,” tegas Jeremy. Ia cukup lega setelah mengucapkan ini.


“Ndro, untuk hutangmu aku memilih untuk mengikhlaskannya, jadi mulai detik ini kita berteman saja. Aku bukan lagi pacarmu, dan kamu juga bukan lagi pacarku.” Marsha kini ikut bicara.


Zie yang masih mengamati sejak tadi menggigit ujung sedotan minumannya. Ia benar-benar penasaran dengan perbincangan sahabatnya, sampai Peter tiba-tiba menyodorkan roti bakar ke depan mulutnya.


“Makan!”


Bagai pasangan kekasih, Zie membuka mulut dan menerima suapan dari Peter, tapi setelahnya gadis itu meminta Peter untuk diam dulu karena dia ingin melihat apa yang terjadi selanjutnya di meja Jeremy.

__ADS_1


“Aku tahu aku tidak pantas untukmu, Sya. Meski aku sudah mencoba berubah, tapi tetap saja kamu tidak akan mungkin mau kembali bersamaku, karena aku tidak bisa dibandingkan dengan kak Je,” kata Andro.


“Kamu pasti akan mendapatkan gadis yang baik nanti, aku yakin. Aku itu bukan gadis baik, aku sering membuat keributan, juga merepotkan. Iya ‘kan kak Je?”


“Hah!” Jeremy bingung, dia mencoba menelaah lebih dulu kalimat Marsha setelah itu baru menjawab.


“Ah … iya, dia ini sangat merepotkan, jadi dia memang butuh pria dewasa yang bisa membimbingnya seperti aku.”


Andro tertawa, meski berat tapi mau bagaimana lagi. Ia tahu di dalam hidup ini tidak boleh menggantungkan hidup ke siapapun, apa lagi ke wanita.


“Aku paham, mulai detik ini aku dan Marsha sudah tidak ada hubungan.”


Marsha tersenyum lega, dia sentuh punggung tangan Andro yang berada di atas meja tapi tak lama mengaduh karena Jeremy memukulnya.

__ADS_1


“Auch!”


“Tolong dikondisikan! tanganmu itu tidak boleh sembarangan menyentuh tangan pria lain,” ujar Jeremy. Terdengar sangat posesif hingga membuat Andro merinding.


__ADS_2