
Jeremy mengikuti perawat yang membawa Marsha menuju ruang observasi. Pria itu sampai melupakan bayi perempuan yang baru saja dilahirkan oleh sang istri. Jeremy bersikap seperti ini karena sangat mencemaskan Marsha, hingga tidak memedulikan apa pun kecuali kondisi sang istri.
Rey juga sama, dia hendak menyusul Jeremy, tapi lebih dulu dipanggil perawat yang mengurus bayi Marsha.
“Apa ayahnya ingin melihat dulu sebelum kami bawa ke ruang observasi bayi?” tanya perawat.
Bayi yang lahir karena tindakan, pasti akan masuk ke ruang bayi untuk mendapatkan pantaun lebih lanjut, sebelum diberikan ke orangtuanya.
“Bentar, Sus.”
Rey pun menyusul Jeremy, kemudian menarik tangan Jeremy untuk pergi melihat bayinya lebih dulu.
“Apa sih, Rey? Aku mau ikut perawat yang membawa Marsha,” kata Jeremy menolak.
“Lihat dulu bayimu, Kak. Kalau kamu nggak lihat dulu, terus nanti bayimu tiba-tiba ditukar sama bayi lain seperti di film-film gimana? Kamu mau?” Rey menakut-nakuti agar Jeremy mau melihat anaknya.
Jeremy terlihat bingung, di satu sisi ingin segera menemani sang istri, tapi sisi lain Rey malah menakut-nakuti. Akhirnya Jeremy pun ikut Rey untuk melihat bayinya dulu.
__ADS_1
Perawat masih menunggu, kemudian mengajak Jeremy ke ruangan di mana sang bayi berada sebelum dipindah. Di sana Jeremy melihat anaknya dan Marsha yang begitu cantik dan menggemaskan, pria itu sangat terharu karena Marsha melahirkan bayi yang sangat lucu.
“Dia mirip Marsha,” ucap Jeremy menyentuh pipi bayinya dengan telunjuk yang bergetar.
“Setelah ini saya akan membawanya ke ruang observasi dulu ya, Pak,” kata perawat.
Jeremy mengangguk karena ingin segera pergi menyusul Marsha. Dia pun bergegas pergi karena takut terjadi sesuatu kepada Marsha, sebab tadi melihat sendiri istrinya tidak sadarkan diri saat keluar dari ruang operasi.
Richie ternyata juga langsung datang ke rumah sakit saat mendengar kabar jika Marsha melahirkan. Dia bertemu Kimi di depan ruangan tempat Marsha dipindahkan.
Kimi sudah menjelaskan kondisi Marsha dan kini begitu mencemaskan putrinya. Dia berulangkali mengusap kening, mencoba menghilangkan rasa pening di kepala.
Jeremy yang berjalan cepat melihat Richie dan Kimi yang berbincang, dia lantas mendekat dan langsung menyapa keduanya.
“Bagaimana keadaan Marsha, Mi?”
Richie dan Kimi langsung menatap Jeremy. Mereka bisa membaca dengan jelas kecemasan di wajah sang menantu.
__ADS_1
“Marsha butuh banyak darah, tapi pihak rumah sakit sudah mengusahakannya,” jawab Kimi.
Jeremy menoleh ke pintu tempat Marsha dirawat, hingga kemudian meminta izin untuk masuk dan melihat kondisi istrinya.
Langkah kaki pria itu terasa sangat berat, Jeremy merasa tak tega melihat Marsha yang masih belum sadarkan diri, dadanya berdenyut ngilu melihat kondisi sang istri yang biasanya ceria menjadi diam tak berdaya seperti ini.
“Sya, kamu harus segera bangun. Kalau kamu nggak bangun-bangun, aku akan marah. Aku bahkan tidak akan bisa menyayangi anak kita, kalau kamu seperti ini. Aku pasti akan membencinya jika sampai kehilanganmu. Jadi aku mohon cepatlah sadar,” ucap Jeremy dengan suara berat, bola matanya berkaca-kaca dengan jantung berdegup cepat karena rasa takut.
Kimi dan Richie pun ikut masuk menyusul, mereka tahu Jeremy begitu terpukul dengan kondisi Marsha.
“Tenangkan pikiranmu dulu! kita harus yakin kalau Marsha pasti baik-baik saja,” ucap Richie mencoba menenangkan Jeremy.
“Marsha seharusnya sadar sekitar tiga sampai empat jam lagi, jadi kita harus banyak berdoa agar tidak ada hal buruk terjadi,” timpal Kimi.
Jeremy hanya menganggukkan kepala, dia duduk di kursi yang ada di samping ranjang. Pria itu terus menatap dan berharap Marsha segera bangun. Bahkan Jeremy sampai mengabaikan perutnya yang keroncongan, tidak memikirkan lagi putrinya yang belum dicarikan nama, karena selama sembilan bulan ini, yang ada dipikirannya hanya kesehatan sang istri.
"Sya, cepat bangun. Anak itu cantik sepertimu. Aku tidak bisa hidup tanpamu, aku benar-benar sangat mencintaimu," bisik Jeremy.
__ADS_1