
Semua yang dikatakan orangtua Marsha ternyata bukan hanya ancaman. Gadis itu benar-benar hanya dijatah satu lembar uang berwarna merah . Meja pajangan yang menjadi tempat ditaruhnya uang jajan menjadi saksi betapa kerasnya kehidupan Marsha dimulai hari ini. Marsha ingin mengamuk seperti beruang yang kehilangan satu gentong madu, tapi rasanya akan sia-sia. Kalau saja bukan demi Andro, sudah pasti dia tidak akan mau menderita seperti ini.
“Aku punya orangtua yang mampu membelikanku apa saja tetapi sangat pelit sekarang. Aish … betapa tidak adilnya dunia ini! Papi dan Mami kenapa, sih? Kayak enggak pernah muda saja!” keluh Marsha. Dipandangi selembar uang pecahan seratus ribu itu masih penuh dengan rasa kesal. Apakah cukup atau tidak, Marsha masih belum yakin.
Hari itu semakin menjadi momok yang menyeramkan. Marsha pergi ke kampus diantar oleh sang mami. Wajah gadis itu tidak bisa tersenyum. Jangankan untuk membeli skincare, untuk makan pun rasanya uang seratus ribu tak cukup.
“Pasang sabuk pengamanmu. Mami akan mengantar hari ini. Pak Ogah sedang izin ke luar kota.” Kimi berusaha bersikap biasa saja meski sebenarnya kasihan juga melihat anak gadisnya harus memulai hari dengan uang pas-pasan. Namun, dia mencoba menepis rasa kasihan, karena semua ini dia lakukan demi mendidik Marsha.
“Mendingan Mami kasih aku uang transport. Aku bisa kok mengurus semua ini sendiri.” Marsha mencoba membujuk agar Kimi tidak mengantarnya seperti anak TK.
“Tidak bisa.” Tentu saja Kimi menolak, kini dirinya harus memantau putrinya agar tidak terus berhubungan dengan Andro.
Pedal gas kimi injak dalam-dalam. Wanita itu mengantar Marsha menjemput masa depan. Bahkan saat sampai di parkiran, Marsha masih sempat menggunakan jurus manjanya, berharap mendapatkan tambahan beberapa lembar uang. Namun, sayang nihil -tidak ada hasil. Rasa kesal pun terlihat dari wajah gadis manis yang dijuluki Jeremy ‘beban keluarga Tyaga itu’.
“Sya, kenapa wajahmu seperti pakaian kusut? Ada apa gerangan yang membuat princess cantik ini cemberut?” Zie—sahabat Marsha, sedikit terkejut melihat wajah murung Marsha yang terpampang nyata.
__ADS_1
Marsha meletakkan tas jinjing branded di tangannya lalu berkata, “Zie, aku punya berita yang sangat buruk. Hidupku tidak akan sama lagi.
“Hem … itu terdengar menarik. Jadi apa yang membuat hidupmu tidak akan sama lagi?” tanya Zie penasaran, ditatapnya wajah kusut Marsha yang semakin tertekuk.
“Tidak ada lagi Marsha yang sanggup membeli ini dan itu,” jawab Marsha tapi malah menimbulkan pertanyaan lain di benak sahabatnya.
“Ha?” Zie terkejut hingga menegakkan badan. “Apa maksudnya itu?” tanya Zie penasaran.
“Papi dan Mami menghukumku. Aku akan cerita nanti alasannya.” Marsha membuang napas kasar, dia merasa kismin alias miskin sekarang.
***
“Jadi, kamu beneran cuma dapat seratus ribu per hari?” tanya Zie yang masih tidak percaya dengan cerita Marsha.
“Beneran, untuk apa juga aku berbohong?” Marsha merasa kepalanya pusing karena harus mengatur uang seratus ribu agar cukup untuk jajannya di kampus.
__ADS_1
“Kasihan sekali. Biasanya kamu punya banyak uang dan seperti tak terbatas. Sekarang semuanya lenyap begitu saja.” Zie berdecak setelah mengatakan hal itu. “Aku yakin pasti ada sesuatu yang membuat orangtuamu bersikap seperti ini,”imbuhnya mencoba menebak.
“Ya, karena aku ketahuan mengeluarkan uang dalam jumlah banyak dan tak terkira.” Tanpa sengaja Marsha jujur tentang pemicu kedua orangtuanya memberi hukuman.
“Hm … jadi begitu.” Zie mengetuk-ngetuk dagunya dengan telunjuk. “Lalu kenapa kamu pusing? kenapa kamu tidak meminta uang jajan tambahan dari pria itu?” tanya Zie kemudian sambil menaik-turunkan kedua alis.
“Maksudmu? Pria mana?” Marsha menatap Zie dengan ekspresi bingung.
“Aish …. Dasar Marsha and the bor. Pria itu lah, tunanganmu. siapa lagi?”
“What?” Marsha sangat terkejut mendengar ide sang sahabat.
“Tidak apa-apa, Sya. Lagi pula nantinya kalian juga akan resmi menjadi suami istri. Itu wajar kok.” Zie semakin meyakinkan, sedangkan Marsha hanya diam mendengar ucapan Zie, dia membuat temannya itu merasa curiga.
“Jangan bilang kamu tidak pernah minta uang ke pria itu,” tebak Zie.
__ADS_1
Marsha membeku memikirkan kata-kata Zie. Ada benarnya juga yang dikatakan temannya itu. Tidak ada salahnya dia meminta uang ke Jeremy. Pria berusia tiga puluh tiga tahun itu tentu bisa memberikannya banyak uang meski dengan memejamkan mata.
“Sepertinya ide bagus, tapi apa dia mau memberiku uang?” gumam Marsha di dalam hati.