
“Itu bukan ciuman pertama, kamu pernah menciumku sebelumnya.”
Marsha memutar bola matanya mencari ide di kepala untuk menjawab ucapan Jeremy. Sialnya, di saat dia butuhkan otaknya tidak bisa berpikir dengan cepat seperti saat dia mencari gara-gara.
“Ciuman pertama darimu, kalau yang itu dariku,” jawab Marsha asal.
Pipinya merona semerah buah tomat menahan malu. Dia tak menyangka malah akan bertingkah seperti ini alih-alih marah atau menampar pipi pria di hadapannya.
Hah... Mana mungkin? Jeremy adalah suaminya, penyelamat nyawanya juga.
Untuk menyembunyikan rasa malunya yang menjadi-jadi, Marsha memilih berbaring memunggungi Jeremy dan menarik selimut sampai menutupi kepala. Jeremy yang melihat tingkahnya hanya diam tanpa bergerak, pria itu menghitung mundur dari sepuluh sampai satu karena yakin Marsha pasti akan kehabisan napas, jika tidur dengan menutupi muka seperti itu.
Benar saja, tak lama Marsha menyebabkan selimut lalu mengambil oksigen banyak-banyak, memang tidak dihitungan terakhir, tapi setidaknya gadis itu berakhir membuang selimut.
Marsha menoleh, dia kaget mendapati Jeremy masih duduk cengengesan. Pria itu semakin membuatnya salah tingkah.
"Kenapa belum tidur? Sudah aku bilang tidur!"
Satu hal yang bisa Marsha lakukan untuk menyembunyikan detak jantungnya yang bertalu adalah berubah menjadi garang.
"Kenapa? bilang saja kamu malu karena aku baru saja menciummu," goda Jeremy. Ia sadar untuk membuat Marsha tak berkutik, jalan satu-satunya terus membuat gadis itu salah tingkah.
__ADS_1
"Oh... Iya, kamu tidak mungkin bisa tidur kalau tidak melepas kutangmu, kan? Lepas saja, aku juga sudah melihat bagaimana kamu melepas kacamata gunung kembarmu yang tak seberapa besar itu saat di rumah sakit."
"Hah ..."
Baru kali ini seorang Marsha tak bisa membalas ucapan orang. Bukan karena tidak ada hal yang ingin disampaikan, melainkan karena otaknya buntu untuk merespon setiap ucapan sang suami.
Marsha bangkit dari atas ranjang, dia masuk ke kamar mandi untuk melepas apa yang Jeremy bilang tadi. Marsha memang tidak bisa tidur kalau masih mengenakan ********** itu.
_
_
Berharap Jeremy sudah tidur atau paling tidak memejamkan mata. Nyatanya Marsha malah dibuat kesal karena pria itu terus menatap dengan menarik bibir saat dia keluar dari kamar mandi. Jeremy berbaring miring, mengusap bagian ranjang yang kosong lalu menepuknya dua kali.
Seketika bulu kuduk Marsha menari-nari. Pikiran buruk kini berputar di kepalanya karena tingkah Jeremy. Marsha pun menduga apa jangan-jangan ada obat yang diminum pria itu dan mengandung semacam narkotika dan sejenisnya hingga membuat halu.
"Kak, hentikan! aku tidak akan segan meminta kakak tidur di sofa kalau masih bersikap seperti itu," ancam Marsha.
"Apa kamu takut?" tanya Jeremy seolah dia mahkluk paling suci sedunia. "Aku hanya menggodamu," imbuhnya lalu terkekeh seolah puas baru saja membuat hari Marsha kebat kebit.
"Nggak lucu!"
__ADS_1
Marsha melepas sandal rumah lalu melompat ke atas ranjang, dia miringkan badan ke arah Jeremy lalu memeluk gulingnya lagi.
"Kakak tidak boleh membuatku gede rasa!"
"Kenapa?"
"Karena lima bulan lagi kita akan berpisah, jadi jangan membuat aku berada dalam masalah, aku bisa saja tiba-tiba menyukai kakak, jatuh cinta lalu menginginkan kakak selamanya," cerocos Marsha.
"Kalau begitu lakukan saja!"
"Apa? Kakak bercanda," sewot Marsha. "Aku cukup waras untuk tidak melakukan itu. Kakak masih mencintai kak Mia, lalu aku akan jadi selingkuhan saja."
Jeremy mendorong kening gadis cerewet yang kadang sok pintar padahal bodoh itu. Ia berkata bahwa hubungannya dan Mia sudah berakhir.
"Saat bertemu dengannya di kafe itu, aku dan dia sedang membicarakan soal hubungan kami."
"Lalu?" tanya Marsha antusias.
"Kami putus baik-baik."
"Aku tidak percaya. Kakak tidak tahu dia menangis seperti orang putus asa melihat kondisi kakak waktu itu," terang Marsha.
__ADS_1
"Lalu, bagaimana perasaanmu melihatnya seperti itu?"
"Aku merasa seperti menjadi pelakor!"