
Peter tahu kenapa Jeremy terlambat datang ke perusahaan, jika tidak bangun ke siangan pasti bosnya itu baru saja melakukan yoga menyenangkan.
Ya, semenjak hubungan pria itu dan istrinya menghangat, Jeremy memang banyak menunjukkan perubahan, salah satunya lebih riang dibanding sebelum-sebelumnya.
Seperti saat ini, Jeremy membalik berkas di atas meja dengan penuh perasaan, atau lebih tepatnya dibuat-buat agar mendapat perhatian dari Peter.
“Apa kamu tidak mau tahu alasan kenapa aku terlambat lagi?”
“Ban mobil Anda bocor,” jawab Peter asal, menghindari tingkah Jeremy yang malah akan menyombongkan diri ke pria jomlo sepertinya jika ditanggapi.
“Bukan, aku melakukan SKJ. Senam Kejantanan Jeremy.”
Dada Peter hampir saja meledak, tapi sekuat tenaga dia menahan kesal karena tak ingin sang atasan besar kepala. Namun, di sisi lain Peter juga sadar, jika hanya diam dan tidak menjawab, Jeremy akan mengatakan hal yang jauh lebih aneh lagi.
“Oh … baguslah jika Anda sudah mendapat suntikan vitamin, karena hari ini jam tiga sore ada pertemuan dengan Pak menteri perhubungan.”
“Apa? kenapa kamu tidak bilang?” Jeremy menyipitkan mata, dia curiga Peter sengaja memberitahu jadwal secara dadakan untuk membuatnya kesal.
__ADS_1
“Karena seperti biasa, ajudannya baru memberitahu rencana ini lima belas menit yang lalu.”
Peter menjawab dengan gaya yang sengaja dibuat kemayu. Kali ini dia menang karena sukses membuat Jeremy kesal.
_
“Serius kamu mau pacaran sama om-om, apa kamu nggak takut?” Marsha meminta ketegasan Zie atas keinginannya meminta nomor HP peter. “Om-om itu ganas, Zie.”
Marsha berbisik, bukannya membuat sang sahabat takut tapi malah iri. Zie tak gentar, dia tetap meminta sang sahabat memberikan nomor Peter karena dia juga ingin merasakan sensasi berpacaran dengan pria yang usianya jauh lebih tua.
“Ya sudah, kemarikan ponselmu! Aku dulu juga ingin menjodohkannya denganmu, agar kamu tidak terus-teruskan memikirkan sepupuku yang dinginnya seperti gelato itu.” Marsha mengambil ponsel Zie, dia ketikkan nomor Peter bahkan mendialnya hingga membuat panggilan itu tersambung.
“Halo, kak Pet. Ini Marsha, aku menghubungi menggunakan nomor Zie, simpan ya!”
Marsha hanya ingin mengatakan itu kemudian mematikan panggilan, dia mengembalikan ponsel milik Zie sambil tertawa. Marsha tak sadar sudah membuat seorang perjaka tua bingung dengan apa yang baru saja dia ucapkan.
“Untuk apa aku menyimpan nomor Zie, istri Jeremy memang ada-ada saja,”gerutu Peter. Ia letakkan ponselnya di atas meja dan kembali bekerja, sudah dibuat kesal oleh Jeremy dia tidak ingin kesal lagi karena Marsha.
__ADS_1
_
Sementara itu, di rumah sakit Kimi ikut merayakan perpisahan yang dilakukan oleh dokter-dokternya untuk Mia. Gadis itu memang akan berangkat ke Inggris untuk melanjutkan kuliah.
Kimi duduk berbincang sambil menikmati hidangan yang secara swadaya disiapkan. Hingga Mia mendekat dan menyapa, gadis itu mengucapkan terima kasih atas apa yang Kimi berikan kepadanya.
“Aku mungkin tidak akan bisa membalas kebaikan dokter.”
“Bagaimana bisa kamu bicara seperti itu? setelah lulus kamu harus bekerja dan mengabdi di rumah sakitku ini,”jawab Kimi.
Senyumannya berangsur hilang saat melihat Mia memasang muka sedih, gadis itu menunduk seolah sebuah beban berat menekan pundaknya, sejujurnya Mia ingin berterus terang tentang hubungannya dan Jeremy agar tak ada lagi ganjalan di dada. Namun, dia takut Kimi salah paham.
Hingga, tanpa Mia duga Kimi meraih tangannya dan berkata,”Aku tahu kamu memiliki hubungan spesial dengan Jeremy. Aku tahu putriku adalah orang ketiga di antara kalian. Hal seperti ini jelas tidak bisa kamu tutupi dariku Mia, kamu tahu siapa suamiku ‘kan? Aku bahkan tahu kalau Jeremy dan Marsha hanya pura-pura saling mencintai.”
“Dokter Kim!”
-
__ADS_1
-
Scroll ke bawah 👇