Pernikahan Tak Terduga : UNEXPECTED MARRIAGE

Pernikahan Tak Terduga : UNEXPECTED MARRIAGE
Bab 16 : Perjaka Tua


__ADS_3

Marsha membeku, dia hanya bisa melihat mobil sang Mama pergi dari halaman sekolah. Langkahnya gontai menuju kelasnya. Ia langsung merebahkan kepala ke atas meja dan meletakkan buku tulisnya. Marsha merasa menjadi anak yang tak berguna. Meski dia sering terlibat masalah tapi jujur saja semua itu tidak dia sengaja.


 


Marsha mendesau berkali-kali sampai ketukan seseorang di meja membuyarkan lamunan. Gadis itu mendongak, dia melihat Rai tersenyum dan menyodorkan sebuah kotak makan.


“Apa ini?”


“Roti buatan Oma, dia juga berpesan kamu harus rajin belajar agar lulus ujian,” jawab Rai.


“Apa Oma pikir aku bodoh sampai tidak akan lulus ujian?” gerutu Marsha, dia menjauhkan kotak makan itu dan kembali merebahkan kepala.


“Apa ada masalah? kenapa kamu terlihat murung, cerita lah padaku. Kita ‘kan saudara.”


Rai menggeser kursi di samping Marsha, dia iseng membuka buku tulis yang berada di atas meja sang sepupu. Mata Rai membeliak lebar, cowok itu menggeleng saat melihat gambar yang terpampang di sana.


Marsha yang sadar dengan apa yang Rai lihat pun memilih untuk merampas buku itu, dengan kasar dia menyobek bagian kertas dimana gambar yang menyebabkan maminya marah berada lalu mengepalnya. Bukannya melempar kertas itu ke tempat sampah, Marsha malah memasukkannya ke dalam mulut.

__ADS_1


“Marsha apa yang kamu lakukan?” Rai nampak kaget, dia apit mulut sang sepupu dan mengeluarkan kertas itu dari dalam sana. “Ini makan roti saja, kenapa kamu makan kertas, apa kamu punya penyimpangan selera?”


“Ya … apa kamu tidak lihat? mami, papi dan omano berencana menikahkan aku dengan om-om. Bukankah memang seleranya menyimpang?"


Marsha memasang muka sedih dan hampir menangis. Rai pun segera membekap mulut gadis itu, bisa-bisanya dia bilang menikah dengan om-om dengan suara lantang.


“Marsha, mulutmu ini harus di filter,” bisik Rai. 


_


_


Andro merapikan helaian rambut Marsha yang berantakan, gadis itu menyuapkan es krim ke dalam mulut dengan sesekali mendesah.


“Apa soal dipanggil BK?” tanya cowok itu lagi.


“Hem … mami marah, dia sampai memukulku dengan buku,” ucap Marsha. “Dan Sabtu ini aku harus menghadiri makan malam dengan si uncle Jerami dan keluarganya. Kalau mau nikah ya nikah saja, tidak usah pakai acara-acara seperti itu, jujur aku malas,” cerocos Marsha.

__ADS_1


“Sha, apa kita masih akan terus berhubungan meski kamu sudah menjadi istrinya?” Andro nampak ragu menanyakan hal itu, tapi mau tak mau dia harus bertanya karena butuh kepastian dari sang kekasih.


“Tentu saja, meski dia tidak menuliskannya dengan gamblang, tapi aku akan bercerai dengannya setelah tiga bulan. Tenang saja! aku berencana menjebaknya dengan tuduhan KDRT,” ujar Marsha dengan santai.


“Lalu bagaimana jika dia memintamu untuk melakukan itu?”


“Hem … melakukan apa?” Marsha melirik Andro dengan wajah tanpa dosa. Mulutnya membentuk huruf O setelah sadar apa maksud dari pertanyaan sang pacar. “Aku tidak akan mau, jika dia butuh melampiaskan napsunya, dia bisa melakukannya seperti biasa.”


“Me-me-melakukan seperti biasa apa maksudmu?”


“Masa kamu tidak mengerti? Dia itu perjaka tua. Jika tidak mencari wanita di lorong indah dia pasti menggunakan jari tangannya, menurutmu apa aku salah?” tanya Marsha dengan santainya, dia bahkan menyuapkan es krim ke mulut Andro yang nampak termenung melihatnya.


“Jadi tenang saja! saat dia ingin itu aku akan menolaknya mentah-mentah. Lagi pula ada kesepakatan di antara kami, jadi tidak mungkin dia berani macam-macam. Berani macam-macam dengan Marsha sama saja cari mati,” imbuhnya dengan nada jemawa. 


_


_

__ADS_1


Scroll ke bawah👇


 


__ADS_2