Pernikahan Tak Terduga : UNEXPECTED MARRIAGE

Pernikahan Tak Terduga : UNEXPECTED MARRIAGE
Bab 43 : Berikan Itu!


__ADS_3

“Apa tidak apa-apa kita bertemu seperti ini?” Mia menoleh sekeliling, dia takut jika ada yang mengenalinya dan Jeremy – yang saat ini sedang duduk berduaan dengannya di sebuah kafe.


“Bukankah ada mereka? kenapa kamu cemas?”


Jeremy menunjuk ke meja yang terpisah beberapa meja darinya dan Mia menggunakan gerakan kepala. Di sana Marsha dan Andro dengan santainya saling menyuapkan kentang goreng ke dalam mulut satu sama lain.


Mia menoleh dan tanpa sengaja Marsha juga melakukan hal yang sama. Gadis itu bahkan melambaikan tangan dan tertawa sebelum menerima suapan kentang lagi dari tangan sang pacar.


“Aku merasa takut, hidupku tidak tenang. Bahkan kamu belum menikah dengannya tapi aku sudah merasa menjadi pelakor,” ucap Mia. Ia terdiam saat pelayan mendekat untuk meletakkan pesanannya dan Jeremy.


“Jangan berpikiran seperti itu, kamu tahu bagaimana perasaanku. Kamu harus lebih berani dari dia,” ucap Jeremy, sedangkan kata ‘dia’ yang baru saja diucapkannya merujuk ke Marsha. Gadis yang cengegesan dan sibuk mengusap bibir pacarnya dengan ibu jari.


“Dia masih muda, belum paham sebab akibat yang ditimbulkan,” ujar Mia. Ia menunduk, hatinya kembali dirundung dilema, ingin rasanya dia mengambil keputusan berpisah dari Jeremy tapi tidak bisa, ada alasan yang membuat Mia tidak bisa berpaling dari pria itu dengan mudah, salah satunya adalah uang. Ya, Mia butuh sokongan dana dari Jeremy yang berjanji akan membiayai pendidikan sekolah spesialis dokternya.

__ADS_1


“Kapan kita bisa jalan-jalan dengan bebas lagi?” tanya Andro. Cowok itu menggenggam erat tangan kiri Marsha di atas meja.


“Tenang saja, setelah enam bulan menikah dan bercerai darinya aku yakin tidak ada seorang pun pria yang mau mendekatiku, di saat itu kamu bisa datang menemui papi dan mamiku, tunjukkan bahwa kamu itu tulus mencintaiku meskipun aku janda,” ujar Marsha dengan entengnya, dia sangat percaya bahwa Andro benar-benar mencintainya.


Cowok itu mengangguk seolah mengamini ucapan Marsha, lalu tiba-tiba saja Andro meminta sesuatu dari Marsha yang membuat gadis itu terperanga.


“A-a-apa?” tanya Marsha terbata-bata.


“Aku ingin itu,” jawab Andro.


“Aku tidak ingin pria lain mendapatkannya.” Andro nampak murung, hingga Marsha merasa tak enak hati.


“Ya sudah akan aku berikan, tapi pipi saja.”

__ADS_1


Marsha berdiri, dia memutari meja dan menggeser kursi di sebelah Andro. Pacarnya itu baru saja meminta ciuman padanya. Selama pacaran kontak fisik yang dilakukan keduanya sejauh ini hanya bergandengan tangan, atau pegangan pinggang saat Marsha membonceng motor. Entah ada angin apa Andro meminta yang satu itu.


“Pipi saja ya, kalau bibir aku juga sudah berjanji pada diriku sendiri hanya akan memberikannya ke suamiku,” kata Marsha.


Andro mengangguk, cowok itu nampak girang saat Marsha menyodorkan pipi. Kelakuan dua ABG itu tanpa sengaja dilihat oleh Jeremy yang sedang mengangkat gelas untuk menyesap minuman soda pesanannya. Karena terlalu kaget, Jeremy bahkan terbatuk-batuk dan langsung berdiri. Pria itu mendekat ke meja Marsha dan langsung menarik telinga calon istrinya hingga berteriak kesakitan.


“Agh … Agh …Agh …. Apa yang Om lakukan sakit tahu!” pekik Marsha.


Andro seketika bangkit, dia cekal tangan Jeremy yang seenaknya menarik kuping pacarnya. Mia yang melihat kejadian itu juga mendekat untuk menghentikan aksi kekanak-kanakan Jeremy.


“Berani-beraninya berciuman di tempat umum,” amuk Jeremy. “Kamu belajar budi pekerti tidak, Ha?”


“Belajar, tapi lepaskan kupingku dulu, kalau sampai putus aku juga akan memotong kuping Om,” teriak Marsha.

__ADS_1


 


__ADS_2