
“Sebaik apapun mereka menutupi, mereka lupa kami orang tua jauh lebih berpengalaman. Pernikahan mereka didasari atas perjodohan, jadi masih harus banyak penyesuaian, tapi jika kamu tanya kenapa kami mengizinkan, itu karena Jeremy pria baik. Dia dewasa dan bisa menjaga Marsha.”
“Dokter, kapan Dokter tahu? apa setelah peristiwa penusukan Jeremy?” tanya Mia.
Kimi mengangguk, dia berharap Mia tidak menyimpan perasaan benci ke putrinya. Bagaimanapun juga Marsha memang menjadi orang ke tiga.
Setelah mengikuti acara perpisahan yang digelar untuk Mia, Kimi kembali ke ruang kerjanya. Dia memandangi foto keluarga di meja lalu meraihnya. Kimi merasa serba salah, dia usap potret Marsha dan mengucapkan harapan semoga putrinya itu bisa bahagia dengan Jeremy karena Mia akan pergi.
“Aku tidak jahat 'kan? aku meminta Mia melanjutkan study jauh sebelum tahu kebenaran ini,” lirih Kimi. Ia merasa sangat bersalah, hingga memutuskan tetap memberitahu sang putri bahwa Mia akan berangkat ke luar negeri.
‘Untuk apa Mami memberitahuku?’
‘Karena Mami tahu, Sya. Mami sudah tahu semuanya. Mami tidak ingin sampai kamu menjadi sasaran jika Jeremy sedih ditinggal Mia.’
‘Mami tidak perlu cemas, kak Je sangat sayang padaku.’
Marsha tertegun setelah membalas pesan Kimi. Ia menatap jam di ponsel lantas memilih bergegas memacu mobil pulang. Ia juga akan memberitahu Jeremy soal rencana keberangkatan Mia, mungkin saja sang suami ingin mengucapkan perpisahan untuk yang terakhir kali ke dokter cantik itu.
***
__ADS_1
Malam harinya Marsha gelisah, meski sudah diberitahu bahwa akan pulang terlambat tapi dia tetap saja menunggu Jeremy. Beberapa kali Marsha menengok ke arah gerbang dari teras rumah. Sikapnya mengusik rasa pensaran Cantika yang sejak tadi sudah mengajaknya makan malam bersama tapi ditolak.
“Sya, kamu nunggu siapa?”
Pertanyaan Cantika mengagetkan Marsha, dia menoleh dan menjawab apa adanya, sampai wanita tua itu tak bisa menahan rasa ggembiranya.
“Menunggu kak Je, Nek. Kenapa dia lama sekali sih pulangnya?” gerutu Marsha.
Ia awalnya semringah mendapati penjaga membuka pintu gerbang. Namun, pada akhirnya harus kecewa karena yang datang adalah Rey bukan suaminya. Hal ini membuat bibir Marsha cemberut.
“Ih … kenapa kak Rey yang muncul.”
Rey yang seperti tak diharapkan kedatangannya hanya bisa mengerutkan alis, dia mencari tahu ke Cantika karena Marsha masuk ke dalam setelah mengatakan kalimat itu kepadanya. Rey sedikit dibuat iri mendengar alasan yang disebutkan Cantika, kalau Marsha sedang menunggu suaminya pulang.
Jeremy benar-benar pulang larut malam. Ia diberitahu Rey bahwa sejak tadi Marsha menunggunya dengan gelisah. Jeremy yang tidak tahu apa yang terjadi memutuskan langsung naik ke lantai dua di mana kamarnya berada tanpa menyantap makan malam.
“Gadis ini, apa aku sudah menghajarnya terlalu keras?”
Jeremy tertawa. Sambil melepas kancing kemeja dipandanginya Marsha yang tidur meringkuk masih memakai baju biasa. Jeremy pun memutar tumit, memasukkan kemeja kotor miliknya ke dalam keranjang cuci dan hampir melepas ikat pinggang, tapi lebih dulu dia mendengar suara Marsha yang sedikit serak memanggilnya.
__ADS_1
“Kak Je!”
“Hei … “
Marsha mengucek mata, dia tegakkan punggung lantas duduk. Bibir tipisnya tersenyum mesum melihat tubuh bagian atas Jeremy yang terlihat sangat seksi.
“Kak Je peluk!” pinta Marsha dengan suara manja.
“Aku mandi dulu ya, badanku lengket.”
Gelengan kepala Marsha diikuti bibir yang mengerucut membuat Jeremy tahu apa yang harus dilakukan. Ia mendekat ke ranjang lalu duduk mendekat ke sang istri.
“Ada apa?”
Jeremy menyentuh pipi Marsha, wajah polos istrinya ini membuatnya ingin mengulangi apa yang mereka lakukan pagi tadi.
“Aku kangen.”
Marsha memejamkan mata sambil memeluk tubuh Jeremy yang memang sedikit berkeringat, tapi tak mengapa, bau keringat bercampur parfum mahal yang digunakan pria itu dia suka.
__ADS_1
“Aku juga seharian ini terus memikirkanmu, semua baik-baik saja ‘kan?” tanya Jeremy lembut, dia seolah tahu ada yang tidak beres dengan Marsha.
“Kak, kak Mia akan berangkat ke Inggris. Apa kakak tidak ingin mengucapkan selamat tinggal padanya?”