Pernikahan Tak Terduga : UNEXPECTED MARRIAGE

Pernikahan Tak Terduga : UNEXPECTED MARRIAGE
Bab 100 : Mau Pergi Bulan Madu


__ADS_3

[ Aku sudah di mobil ]


Marsha baru saja keluar dari ruangan tempatnya melakukan konsultasi dengan psikolog. Ia heran mendapat pesan seperti itu dari Jeremy. Padahal dia pikir, suaminya yang akan lebih lama berbincang dengan Mia dan dirinyalah yang harus menunggu.


“Kok cepet ngobrolnya?” tanya Marsha. “Oh … pasti nggak nyaman karena banyak orang,” tebaknya.


Jeremy tak menjawab, dia memilih menginjak pedal gas dan pergi dari parkiran rumah sakit. Sepanjang perjalanan, Jeremy tak bersuara, hal ini membuat Marsha heran, dia menduga sesuatu pasti telah terjadi diantara pria itu dan Mia.


“Jumat ini kita berangkat ke Bali, ada kolaga penting yang ingin membicarakan kesepakatan sekaligus mengajak kita kencan ganda,”kata Jeremy.


“Bali? Kenapa dadakan kek tahu bulat? Aku sepertinya tidak punya baju yang pas untuk dipakai ke sana kecuali bikini.” Marsha sampai menyerongkan badan ke arah Jeremy. Wajahnya menunjukkan ekspresi kebingungan.


Di saat yang bersamaan, ponsel Jeremy berbunyi. Marsha melihat nama Mia terpampang di layarnya. Namun, Jeremy hanya melirik sekilas saja, seolah tidak peduli. Hal ini semakin menguatkan kecurigaan Marsha bahwa pasti ada hal yang tidak beres sedang terjadi.


“Kenapa tidak diangkat? Apa kalian bertengkar?” selidik Marsha.


Jeremy lagi-lagi tak menjawab, dia malah meraih ponselnya lalu menekan tombol daya hingga benda pipih itu mati.

__ADS_1


“Apa ada masalah? pasti ada masalah, iya ‘kan?” Marsha masih penasaran, tapi Jeremy tetap bungkam.


_


_


Alunan musik pop terdengar dari speaker, yang ada di sudut sebuah ruang yang tembok dan pernak-perniknya bernuanasa abu-abu. Susananya sedikit sepi dan syahdu, bahkan di luar sana sedang hujan rintik seolah membawa rindu.


Marsha menunduk menyesap jus mangga dari gelas, dia sampai tak sadar Zie sudah duduk di depannya membawa beberapa fotocopyan di tangan dan mengibaskan rambut karena kehujanan.


“Eh … Zie, kapan sampai. Kamu benar-benar seperti kucing, langkah kakimu sama sekali tidak terdengar,” ucap Marsha. Lebih terdengar seperti ledekan dari pada pujian.


Marsha malah tertawa, dia mengeluarkan beberapa batang cokelat dari dalam tasnya juga sebuah kunci mobil.


“Ini cokelat untukmu dan lihat apa yang aku dapat dari paman Nic sebagai hadiah pernikahan.” Marsha pamer, dia tertawa lepas sambil menggoyang-goyangkan bagian atas tubuhnya.


“Wah … apa aku menikah saja, haruskah aku mencari om-om juga?” sahut Zie, dia seketika menghindar karena Marsha hampir memukul kepalanya.

__ADS_1


“Ish … bukankah kamu ingin menjadi istri Sean? makanya buruan ungkapkan perasaanmu sebelum dia mendapat kekasih di kampusnya.” Marsha memberi nasihat, dia memutar-mutar kunci mobil di tangan lalu memainkannya dari dalam, dengan cara menekan berkali-kali sehingga membuat lampu mobil bak sedang berkedip.


“Hanya kecelakaan saja mungkin yang bisa membuatku menikah dengannya,” ucap Zie tanpa semangat.


“Kecelakaan? Maksudnya kamu mau kakimu buntung ditabrak Sean, agar dia bertanggungjawab menikahimu?”


“Mulutmu itu?” Zie mengangkat tangan dan membuat gesture seperti ingin memukul Marsha. Terkadang sahabatnya itu begitu pintar dan kadang dungu di satu waktu. “Bagaimana kalau ucapanmu dicatat oleh malaikat?” sembur Zie.


“Lha … kan kamu sendiri tadi yang ngomong soal kecelakaan, sebelum mencatat ucapanku, malaikat sudah mencatat ucapanmu dulu, atau malah malaikat bingung mau mencatat yang mana,” cerocos Marsha.


Zie tak ingin lagi merespon perkataan sahabat baiknya itu, dia memilih mengangkat tangan memanggil pelayan untuk memesan beberapa makanan dan minuman.


“Zie, temani belanja ya habis ini, besok aku harus pergi ke Bali.”


“Ciye bulan madu, uhuk … “ Zie berpura-pura batuk. “Mau bikin dedek bayi ya, uluh … uluh Marca,” godanya.


“Adik bayi kepalamu, di sana aku harus bertemu kakek-kekek dan nenek-nenek yang merupakan rekan bisnis uncle Jerami. Dia memintaku bersikap manis layaknya putri kerajaan Wakanda, kamu pikir apa aku bisa menjaga sikap?” tanya Marsha.

__ADS_1


“Sudah pasti tidak jawabannya, kenapa masih bertanya?”


__ADS_2