
Jeremy berhenti di depan UGD rumah sakit Kimi dan langsung memanggil perawat. Ia menggendong sendiri Marsha ke dalam. Jeremy sontak membuat kegaduhan karena perawat serta dokter jaga menyadari siapa gadis yang ada di gendongannya.
“Tolong, dia sedang hamil, tapi sejak pagi mual dan tidak ada sama sekali makanan yang masuk ke perutnya,” ucap Jeremy menjelaskan kondisi sang istri.
Dokter pun bergerak cepat meminta infus ke perawat. Ia meminta Jeremy keluar agar pemeriksaan terhadap kondisi Marsha bisa dilakukan secara maksimal.
Kabar datangnya Marsha ke UGD jelas menggemparkan seisi rumah sakit. Berawal dari mulut perawat satu ke perawat lainnya, hingga akhirnya sampai ke telinga Kimi.
“Siapa? putriku? Marsha?”
Kimi masih tak percaya dengan informasi yang baru didengar. Ia masih menatap perawat jaga yang sedang berbicara dengan perawat lainnya. Informasi itu tanpa sengaja sampai ke telinga Kimi saat dia melintas di depan meja perawat jaga.
“Ah …dokter Kim. Apa dokter tidak tahu? Putri dokter ada di UGD.”
“Apa?”
Kimi tak banyak bicara dan langsung berlari menuju lift. Ia takut hal yang buruk terjadi pada putrinya.
__ADS_1
“Dokter Kimi!”
Suara perawat yang menyapa Kimi terdengar sampai ke telinga Jeremy. Pria itu duduk di samping ranjang Marsha dengan tangan yang menggenggam erat tangan sang istri.
“Mami!” Jeremy kaget saat Kimi masuk ke bilik di mana Marsha masih terbaring lemah.
“Je, ada apa? kenapa Marsha?”
Kimi yang panik langsung bertanya, seperti tak sabar menunggu jawaban dari Jeremy, dia memilih bertanya ke dokter jaga.
"Apa indikasinya?"
“Mo-mo-morning sickness?” Kimi terbata-bata, kini dia menoleh ke sang menantu yang masih setia menggenggam tangan putrinya. “Je!”
Kimi tak melanjutkan kalimat karena perawat bangsal sudah datang untuk memindahkan Marsha ke kamar inap. Ia hanya bisa berjalan lemas mengekor di belakang brankar Marsha, sedangkan Jeremy terus berada di samping putrinya itu.
***
__ADS_1
Sunyi, Kimi hanya diam mematung memandangi Marsha. Jeremy sendiri merasa bersalah. Namun, untuk menepis rasa tak nyaman itu, dia menguatkan diri. Ia suami Marsha, jadi dia memiliki hak penuh dan juga akan bertanggungjawab menjaga istrinya.
“Maaf Mi, aku tidak bisa menuruti keinginan Mami untuk tidak membuat Marsha hamil dulu.” Jeremy buka suara.
Kimi masih terdiam, dia sebenarnya marah tapi dia juga merasa tidak memiliki hak lagi ke Marsha. Kimi sadar melepaskan putrinya menikah berarti melepaskan juga tanggungjawabnya sebagai orangtua ke orang lain.
Namun, rasa sesak di dada Kimi tak bisa ditahan. Naluri seorang ibu yang takut terjadi hal yang buruk ke putri semata wayangnya. Belum lagi, mengingat beberapa hari yang lalu pasien remaja yang datang untuk melahirkan ke rumah sakitnya, tidak selamat karena terjadi komplikasi saat persalinan.
“Mi!”
Jeremy semakin merasa bersalah karena Kimi menteskan air mata. Mertuanya itu menghapusnya cepat-cepat lalu pamit pergi dari sana.
“Mami lupa ada pasien yang harus divisit. Kamu jaga Marsha dulu, Mami akan segera kembali ke sini setelah semua selesai.”
Jeremy mengangguk paham, dari nada bicaranya Kimi memang tidak menunjukkan kemarahan, tapi sebagai pria dewasa Jeremy sadar kalau mertuanya pasti sangat kecewa.
“Maaf Mi, tapi mau bagaimana lagi? bibitku memang sangat super, belum lagi kami melakukannya sehari tiga kali seperti minum obat,” gumam Jeremy. Ia tak sadar Marsha sudah bangun dan mendengar ucapaannya.
__ADS_1
“Kak Je, minum obat apa?”