Pernikahan Tak Terduga : UNEXPECTED MARRIAGE

Pernikahan Tak Terduga : UNEXPECTED MARRIAGE
Bab 107 : Mendarat Tepat


__ADS_3

“Iya Sya, terus! Enak. Ah … kamu memang pintar.”


Jeremy tertawa senang saat Marsha memijat betisnya. Gadis itu melakukan pelayanan istri ke suami seperti apa yang diminta oleh Jeremy. Namun, tentu saja hal ini tidak dilakukan secara gratis, Marsha meminta sesuatu yang gila. Dia ingin Jeremy mengizinkannya mencicipi arak.


“Satu sloki saja.”


Meski hanya sedikit tapi Marsha tetap senang, setidaknya dia bisa pamer jika berbincang bersama teman-temannya.


“Sudah ah … capek.” Marsha menepuk kaki Jeremy, dia melompat dari atas kasur lalu meminta suaminya bergeser.


Keduanya pun tidur terlentang menatap langit-langit kamar, bagi mereka tidur bersama sudah bukan menjadi hal tabu. Jeremy menganggap Marsha adalah adik kecil yang harus dijaga, bukan istri untuk diajak hokya-hokya.


Sama halnya dengan Jeremy, Marsha juga tidak memiliki ketertarikan kepada sang suami layaknya wanita ke pria. Marsha memandang Jeremy tak lebih dari seonggok ATM berjalan.


Namun, tak ada yang tahu. Liburan ini bisa jadi akan membawa mereka ke jenjang yang lebih. Lebih rumit.


***

__ADS_1


Semua orang memilih beristirahat, begitu juga dengan Marsha dan Jeremy. Mereka hanya berdiam diri di dalam kamar. Entah setan apa yang merasuki Marsha dan Jeremy malam harinya, hingga saat pagi mereka terbangun dengan posisi saling berpelukan.


“Astaga, empuk sekali guling ini,” gumam Marsha yang masih setengah sadar.


Sementara itu, Jeremy merasa nyaman mencurukkan kepala ke dada Marsha yang besarnya tak seberapa. Bibir pria itu tersenyum, tapi seketika sadar dan membuka kelopak mata.


“A-a-apa ini?”


Jeremy bergumam dalam hati. Ia sampai takut bergerak karena tangan dan kaki Marsha melingkar ke tubuhnya. Jeremy mengerjap dan menalan saliva, dia ingin melepas kungkungan gadis itu, tapi Marsha lebih dulu memeluk dan membuat wajahnya semakin menempel ke dada.


“Awas saja kalau dia bangun dan menendang. Astaga!”


Namun, saat dia baru saja bergeser, Marsha lebih dulu membuka mata. Senyuman di wajah gadis itu seketika berubah dengan eskpresi keterkejutan.


“Om… “


Jeremy membekap mulut Marsha. Ia menyeret gadis itu masuk ke dalam kamar mandi dan setelah itu melepaskan tangannya. Dua mahkluk dengan muka bantal dan penampilan acak-acakan itu berdebat di dalam sana.

__ADS_1


“Om apa-apaan deket-deket aku, Om pasti pegang-pegang,” tuduh Marsha.


“Heh … kita sama-sama tidur jadi tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, jangan asal nuduh!" sembur Jeremy.


“Om sudah membuat tubuhku tidak suci, aku harus mandi kembang tujuh rupa setelah ini.” Marsha mengusap badan, dia bersikap berlebihan dengan sok jijik karena tubuhnya menempel pada tubuh Jeremy.


Bukannya menenangkan, Jeremy yang melihat tingkah Marsha memilih untuk membuat gadis itu semakin sewot. Ia menyentuh lengan kiri dan kanan Marsha bergantian, lalu rambut, pundak, pipi dan lengan lagi. Namun, semua itu ditepis oleh Marsha dengan gesit.


“kenapa pegang-pegang?” bentak Marsha.


“Biar sekalian, dari pada kamu menuduhku yang bukan-bukan,” ucap Jeremy, dia terus menyentuh bagian tubuh Marsha seperti tadi dan gadis itu pun menghindar.


“Hentikan!” pinta Marsha dengan ekspresi kesal.


Jeremy terus berusaha menyentuhnya, hingga saat ingin menyentuh lagi pundak Marsha, gadis itu malah menjauhkan lengan, sehingga tangan Jeremy tanpa sengaja mendarat tepat di gundukan miliknya.


Mereka pun melotot menatap wajah satu sama lain, sebelum Marsha melakukan seriosa.

__ADS_1


“OM JEEEEEEEE.... "


__ADS_2