
Mengulur waktu pernikahan atau bahkan membatalkannya terdengar tidak mungkin. Jeremy kembali tertimpa kesialan hari itu, sebuah kesepakatan besar gagal karena sang kolega tiba-tiba tidak bisa datang ke Indonesia karena istrinya sakit. Jeremy sadar bahwa Marsha memang jimat hidupnya, dan malam harinya dia bersama Rey dan Cantika datang ke rumah Nova untuk makan bersama.
Marsha heran, dia menatap satu persatu pria yang berada satu meja dengannya. Tak gadis itu sangka dia ternyata dikelilingi pria-pria tampan nan rupawan. Sean, meski dingin tapi siapa yang bisa mengelak ketampanan sepupunya itu, dia sangat mirip dengan pamannya Daniel, tapi semoga saja sifat Daniel yang suka bermain perempuan saat muda tak menurun.
Raiga, cowok itu masuk ke fakultas kedokteran. Otaknya benar-benar cerdas. Ia juga baik hati dan hangat, beruntung gadis yang akan menjadi jodohnya nanti. Dan Rey … oh Rey, direktur Baskomsel yang akan menjadi adik iparnya. Pria manis yang berkata ingin menjadi teman baik Marsha itu juga tak kalah mempesona. Bibir Marsha tersenyum tapi seketika manyun saat pandangannya tertuju ke Jeremy.
Pria itu terlihat paling dewasa di antara tiga pria yang satu meja dengannya. Meski begitu, Marsha tak bisa memungkiri kalau Jeremy memang tampan. Dari samping, depan, belakang, atas, bawah benar-benar tanpa cela.
“Mi, Pi, Oma, Nenek. Aku ingin menikahi Marsha minggu depan.”
“Brttt …. “ Marsha menoleh tak percaya. Sepertinya hanya dia sendiri yang bersikap berlebihan, karena semua orang nampak santai menanggapi ucapan Jeremy
__ADS_1
“Tak masalah menikah di KUA, untuk resepsi tiga bulan lagi,” kata Jeremy.
Rey yang awalnya bertingkah sok tak peduli seketika merasa sedikit lara hati. Ia memang menyukai Marsha, lalu bagaimana? Sudah tidak ada kesempatan baginya mendekati gadis itu untuk dijadikan kekasih. Hubungannya dan Marsha hanya akan berakhir sebagai kakak dan adik ipar.
“Hem … Papi setuju, memang sebaiknya disegerakan. Aku dan Maminya sudah sakit mata melihat dia.”
“Papi tega banget sih ngomong gitu,” gerutu Marsha. Ia bahkan sudah tidak mengangkat telepon dari Andro tapi papi dan maminya tetap saja marah.
Tidak enak berada di posisi Marsha saat ini, Jeremy tahu dengan pasti, tapi mau bagaimana lagi? Gadis nakal seperti calon istrinya itu memang perlu sekali-sekali diberi shock therapy.
_
__ADS_1
_
“Aku menikahi uncle Jeramy karena ingin bebas berkencan dengan Andro, tapi hubunganku dengan Andro sedang tidak baik, lalu untuk apa nanti aku menikah?” Marsha bergumam dalam hati. Hingga kaget karena Rey tiba-tiba duduk di sebelahnya.
“Sedang apa? semua orang sibuk bercengkerama di dalam tapi kamu malah sendirian di sini.”
Marsha memindai wajah Rey dengan tatapan sendu, dia ingin sekali bercerita bahwa dia sebenarnya sama sekali tidak mencintai Jeremy. Bahkan jika bisa dia ingin melarikan diri. Pernikahannya dan Jeremy sudah tidak menguntungkannya sama sekali. Marsha pikir hubungan yang dijalinnya dengan Andro akan terus adem ayem, tapi nyatanya dia tertampar dengan sikap cowok itu.
“Kak Rey apa kakak bisa membantu aku?” tanya Marsha dengan suara pelan.
“Bantu? Tentu saja! aku pasti akan membantumu kalau aku bisa,” jawab Rey.
__ADS_1
“Kalau begitu, gagalkan pernikahanku dengan Kak Jeremy.”
“Apa?”