Pernikahan Tak Terduga : UNEXPECTED MARRIAGE

Pernikahan Tak Terduga : UNEXPECTED MARRIAGE
Bab 155 : Mengurus Perpisahan


__ADS_3

Sejak mengadu nasib ke kota dan akhirnya mendapat pekerjaan menjadi sekretaris Jeremy, Peter tinggal di sebuah apartemen tak jauh dari perusahaan. Ia terbiasa hidup rapi dan teratur. Setelah pulang dia akan berolahraga selama kurang lebih tiga puluh menit, meminum susu energi sebagai pengganti makan malam, lalu mandi dan tidur.


Namun, ada yang berbeda dua hari belakangan ini, keteraturan dan kerapian Peter nampaknya terusik oleh Zie. Gadis itu terus saja menghubunginya.


Dari mulai menanyakan apa yang sedang dia lakukan, sampai apakah dia sudah punya kekasih atau belum.


Peter sempat ingin memblokir nomor Zie, tapi dia merasa sungkan. Bagaimanapun juga gadis itu adalah sahabat baik dari istri atasannya, ada rasa tak enak hati untuk menolak niat baik Zie berkenalan.


Mempertimbangkan hidupnya yang datar dan tak penuh warna, Peter akhirnya menerima ajakan Zie keluar jalan-jalan. Malam itu mereka janjian bertemu di sebuah kafe yang tak jauh dari apartemen Peter.


“Kamu sudah izin orangtuamu ‘kan? Mereka tahu kamu pergi ke mana dan bertemu siapa?”


“Tenang saja Kak Pet, aku tidak mungkin pergi tanpa bilang-bilang ke papa dan mama.” Zie menyanggah pipi, dia memandangi penampilan Peter yang sedikit berbeda.


“Apa? kenapa melihatku seperti itu? apa ada yang salah?”


Peter memindai baju dan celananya. Ia tidak mau berpikiran Zie terpesona.

__ADS_1


Sial bagi Peter, dia tak menyangka akan dibuat salah tingkah oleh seorang gadis yang usianya jauh lebih muda.


“Kakak terlihat tampan dengan kaus kasual.”


“Terima kasih sudah memberi pujian, karena kamu membuatku senang jadi aku akan mentraktirmu makan,”kata Peter. Ia mengangkat tangan dengan tatapan mata tak teralihkan dari Zie.


Seorang pelayan kafe pun mendekat, dia menyerahkan buku menu ke Zie dan Peter. Namun, tak disangka, saat menoleh dan hendak memesan Zie dibuat kaget karena pelayan itu tak lain adalah Andro.


“Ndro, bukannya kamu – “


Zie mengedip kebingungan, setau dia Andro tidak bekerja di kafe ini tapi kafe yang lain. Peter sampai ikut menoleh dan memandangi mantan pacar Marsha itu. Belum juga rasa terkejutnya hilang, Andro malah berkata-


“Ke sini?”


Belum juga Andro menganggukkan kepala, gadis yang disebutkannya tadi benar-benar masuk ke kafe. Zie yang kaget sampai melempar buku menu lalu bersembunyi di bawah meja. Terang saja kelakuannya membuat Peter dan Andro keheranan. Peter bahkan menundukkan badan untuk melongok Zie yang kini sedang berjongkok sambil menutupi sisi wajahnya dengan tas.


“Kenapa kamu bersembunyi?”

__ADS_1


Zie sejatinya malu, dia sempat berkata tidak serius meminta nomor Peter ke Marsha, tapi ujung-ujungnya pergi berdua dengan pria itu.


“Ada Marsha, aku tidak mau ketahuan dia.”


Terlambat, Marsha sudah menggeser kursi dan berjongkok di belakangnya. Gadis itu bahkan mengetuk pundak Zie sebanyak dua kali sambil memanggil nama sang sahabat.


“Zie, apa duitmu jatuh? Kenapa berjongkok di bawah meja?"


Zie mengatupkan bibir rapat-rapat, merutuki kebodohan bukannya lari tapi malah bersembunyi di kolong meja.


Sementara itu, Jeremy berdiri di dekat kursi Peter sambil memerhatikan Andro. Pria itu menepuk lengan mantan pacar istrinya itu lantas menanyakan kabar.


“Sehat Ndro? Apa menu spesial yang ada di kafe ini?”


Jeremy mengambil buku menu milik Peter, dia mengernyitkan kening seolah sedang fokus memilih makanan, hingga Marsha dan Zie berdiri. Nampak Zie malu-malu dan canggung dengan situasi yang terjadi.


“Oh … ada Zie, kamu ngapain Zie di bawah? Apa sedang main petak umpet sama Peter?”

__ADS_1


Zie mengerucutkan bibir, dia menghempaskan pantatnya dikursi lalu meraih buku menu. “Lalu untuk apa kak Je ke sini? mau mengurus perpisahan istri kakak dengan pacarnya?”


__ADS_2