
Marsha diam di atas ranjang pesakitan, dia berlagak bak orang yang paling teraniaya dengan memilih untuk tidak banyak bicara. Kimi sampai memanggil seorang piskolog untuk mencoba bicara pada putrinya. Meski selamat dari peristiwa yang hampir merenggut nyawanya, tapi Kimi takut kejiwaan putrinya terganggu. Padahal jika harus memikirkan masalah kejiwaan, mungkin tiga penculiknya yang kena mental, baru kali ini bertemu korban secerewet dan sepintar Marsha dalam bernegosiasi.
“Semuanya baik Dokter Kim, tidak ada masalah yang saya lihat di diri Marsha,” ucap sang ahli kejiwaan. “Alih-alih karena penculikan ini, sepertinya dia lebih tertekan karena diberi jatah seratus ribu sehari.”
“Apa?” Kimi merasa tak enak hati, karena hukuman yang dia berikan dan Richie untuk putri semata wayang mereka ketahuan orang lain.
Kimi masih berbincang dengan dokter jiwa itu di luar, sedangkan Marsha ditemani oleh Zie juga Rey yang sengaja tidak berangkat kerja hanya untuk membesuknya.
“Sekali lagi aku minta maaf, Sya.” Rey menunjukkan rasa penyesalan yang dalam. Ia berpikir semua kesalahannya, jika saja dia tidak pergi mandi atau membawa ponselnya saat nongkrong di toilet, pasti semua ini tidak akan terjadi.
“Jangan menyalahkan diri terus kak Rey, aku yang salah karena meminta hal itu dan malah lupa memberitahu saat aku berubah pikiran.”
Ya, Marsha dan Jeremy sukses menutup-nutupi alasan sebenarnya kejadian ini. Marsha berkata kalau dia belum siap menikah. Emosinya masih belum stabil sehingga meminta Rey membantunya kabur. Jeremy pun demikian, dia meminta maaf ke semua orang karena tidak bisa meyakinkan Marsha dengan ketulusan cintanya. Kedua mahkluk itu bahkan berpelukan kemarin di hadapan semua orang, berkata bahwa mereka akan menikah dan melaluinya dengan suka cita.
__ADS_1
“Tidak perlu hanya ke KUA, jika pun harus menikah dihadapan orang banyak aku siap. Maaf sudah membuat kalian menjadi resah. Untuk ke depan aku berjanji akan menjadi lebih dewasa.”
Perkataan Marsha di depan semua orang cukup menenangkan, apa lagi dia berbicara sambil memeluk tubuh Jeremy yang saat itu duduk di sampingnya. Tak kalah fasih dalam berpura-pura, Jeremy bahkan mengusap punggung Marsha dan mencium puncak kepala gadis itu.
“Jadi, kamu akan menikah dua minggu lagi. Apa semua sudah siap? Pesta? Gaun brides mate?” tanya Zie penasaran.
“Brides mate apa’an? temanku cuma kamu, jadi hanya butuh satu baju. Kita bisa pergi ke butik berdua dan memilih baju, tidak perlu mencari kain,” jawab Marsha.
“Kak Rey kenapa melamun?”
Zie yang baru dua kali bertemu Rey nampak sudah akrab, ini karena gadis itu memang tipe si ramah dan banyak bicara. Ia bahkan dengan perhatian mengupaskan Marsha dan Rey buah. Pria berumur dua puluh dua tahun itu pun tersenyum, menerima pemberian Zie dengan wajah semringah.
“Kamu jangan sampai diculik lagi, kali ini kamu selamat, tapi menurutku keberuntungan tidak datang dua kali, Sya!”
__ADS_1
Zie berbicara sok bijaksana. Jika dibandingkan Marsha, gadis itu memang memiliki tingkat kewarasan dan kedewasaan sedikit di atas putri Kimi dan Richie. Katakan jika Marsha memiliki 69,69% Zie punya 69,70%.
“Iya, Kak Je pasti akan semakin over protective padaku nanti, dia bahkan over protective ke kak Rey, iya ‘kan kak Rey?” tanya Marsha. Ia berhasil membuat Rey tersedak air jeruk yang sedang dimakan.
“Uhuk … iya benar, aku jatuh dari sepeda saja dia ingin menyusul ke London,” jawab Rey. Pemuda itu tertawa jika mengingat bagaimana Jeremy begitu mencemaskan dirinya kala itu.
“Beruntung sekali Marsha memiliki Kak Je,” cicit Zie.
“Carilah laki-laki seperti dia juga,” sambung Rey yang kembali menikmati buah di tangan.
Zie menggeleng, dia membuang napas dari mulut sebelum berkata,”Sayangnya aku tidak menyukai pria yang hangat. Aku suka yang dingin tapi lembut.”
“Ya, sudah nikah saja kamu sama gelato!” sembur Marsha. “Nah … itu dia, si manusia gelato datang. Tumben dia mau menjengukku,” imbuhnya melihat sang sepupu berjalan masuk ke dalam kamar perawatannya.
__ADS_1