
Marsha tak mendapat apa yang dia inginkan, tapi setidaknya uang dari Nova cukup untuk membuatnya bungkam. Ia memasukkan amplop cokelat berisi dua gepok lembaran seratus ribuan ke dalam tas. Marsha bahkan baru tahu kalau omanya memiliki brangkas di dalam kamar.
“Oma, apa ada orang lain yang tahu password brangkas Oma?” tanya Marsha saat Nova hendak memberinya uang tadi.
“Tidak mungkin, bisa bahaya nanti kalau ada orang lain yang tahu,” jawab Nova.
“Lalau kalau Oma tiba-tiba meninggal bagaimana?”
Nova mendelik, dia cubit pinggang cucunya itu gemas. Bagaimana bisa Marsha berpikir umurnya tidak panjang.
“Sya, biasakan ngomong yang baik, jangan ngelantur. Kamu itu sepertinya tertukar di rumah sakit sama anak pasien laih deh,” cibir Nova.
Terang saja Marsha tak terima, dia bahkan punya tanda lahir yang mirip dengan papanya di pantat. Tanda lahir yang ingin sekali dia hilangkan agar pantanya mulus, sehingga saat dia melakukan itu dengan suaminya tidak merasa malu.
Marsha tertawa geli karena pikirannya, hingga gadis itu menoleh kaget saat Rai melingkarkan tangan ke pundaknya.
“Halo Marsha sepupu kesayangan aku.”
__ADS_1
Marsha menatap Rai dengan mata menyipit, sesuatu yang buruk pasti terjadi pada cowok ini. Mungkin kepalanya terbentur tembok atau ditempeleng Sean.
“Ada apa Rai? Waras ‘kan hari ini?” Marsha melepas tangan Rai sedikit kasar. Ia memilih bergegas meninggalkan kediaman Omanya untuk pulang,
Namun, diperjalanan gadis itu ingat harus menebus gelang emasnya yang ditinggal di restoran sushi.
_
_
“Pria itu adalah teman pemilik restoran ini Kak, dia bahkan membawa sertifikat gelang itu dan bisa membuktikan bahwa gelang itu adalah miliknya. Bahkan kalau kakak mau protes, dia sudah berjaga-jaga dan meninggalkan sebuah nomor ponsel,” ucap si kasir panjang lebar.
Marsha menerima selembar kertas, dia tidak hafal milik siapa nomor itu hingga memilih mengetikkan nomor itu dan mendialnya. Mulut Marsha pun komat-kamit karena nama ‘Uncle Jerami’ terpampang di sana.
Tanpa mengucapkan terima kasih gadis itu berlari meninggalkan restoran. Ia masuk ke mobil dan meminta pak Ogah untuk segera memacu mobil ke kantor Jeremy.
“Aku harus meminta gelang itu kembali, dia pikir gelang itu gelang sembarangan. Itu hadiah spesial dari papi saat aku mendapat juara satu,” gumam Marsha. Ia membuang wajah ke luar jendela, saat ponselnya tiba-tiba berbunyi dan nama Andro terpampang di sana.
__ADS_1
Marsha memilih mengabaikan, bahkan membalik ponsel dan membuatnya dalam mode diam. Ia berpikir memang sudah saatnya membuat Andro sadar, dia memang cinta tapi tak begini, bisa-bisa Marsha menyanyi lagu milik mas Konang Hermansyah – penyanyi favorit omanya, Nova.
_
_
“Ah … Anda, saya ingat. Anda adalah VVIP Pak Jeremy,” ucap resepsionis dengan ramah.
Marsha mengangguk jemawa. Ia pun dipersilahkan masuk dan diberi kartu akses untuk bisa menuju lantai di mana ruangan Jeremy berada. Meski setelah itu si resepsionis geleng-geleng kepala, dia masih menganggap Marsha adalah gadis penjaja cinta.
Dengan langkah cepat, Marsha masuk ke dalam lift. Ia ingin sekali memarahi Jeremy karena sudah semena-mena mengambil gelangnya. Gadis itu menaikkan dagu serta membusungkan dada, sudah bersiap ingin memarahi calon suaminya, tapi tak disangka, dia berpapasan dengan segerombolan bapak-bapak berjas, yang baru saja bubar dari rapat.
Kebetulan ruang meeting yang digunakan berada satu lantai dengan ruang kerja Jeremy.
Marsha seketika bingung, terlebih Jeremy terlihat paling tampan di antara mereka.
“Sya, hati aman ‘kan?” bisiknya dalam hati.
__ADS_1