Pernikahan Tak Terduga : UNEXPECTED MARRIAGE

Pernikahan Tak Terduga : UNEXPECTED MARRIAGE
Bab 26 : Sungguh Terlalu


__ADS_3

Kesepakatan akhirnya terjadi. Mereka memilih untuk tetap menjalin hubungan hanya sampai enam bulan. Meski Mia tetap menolak sampai akhir, tapi perasaannya dan juga rasa takut kehilangan Jeremy membuatnya mengiyakan saja. Ia percaya bahwa setiap hubungan pasti memiliki batu sandungan, dan dia berpikir mungkin pernikahan tak terduga Jeremy ini adalah salah satu kerikil kecil dalam hubungan mereka.


 


“Kakak Mia, kakak Mia,” ucap Marsha sambil bernyanyi sebuah lagu anak yang Kimi ajarkan padanya saat kecil dulu. “Kakak datang tidak ke acara peresmian gedung baru rumah sakit Mami? Datang donk masa enggak.”


Marsha berjalan mendahului Mia dan Jeremy, dia tertawa-tawa bahkan Jeremy kesal sampai mengangkat tangan seolah ingin memukulnya. Pria itu butuh berpamitan ke Mia sebelum mengantar calon beban hidupnya pulang. Ia biarkan saja Marsha bersama Andro - cowok yang menurutnya cukup keren. Pantas saja Marsha tergila-gila.


“Je, aku sedikit takut. Bagaimana jika anak itu labil dan membongkar semua ini ke keluargamu dan keluarganya?” Mia menggigit bibir bawah, dia cemas sampai meremas sisi bajunya sendiri.


Jeremy dengan penuh perhatian mengambil tangan kekasihnya itu, baginya Mia adalah bintang yang menyinari jalannya yang gelap. Jeremy menepuk punggung tangan Mia, meyakinkan bahwa enam bulan adalah waktu yang sangat cepat dan dia akan mengakhiri semuanya dengan Marsha.


Namun, kenapa Jeremy sangat percaya diri. Bagaimana jika benar sampai berpisah dia akan sial kembali? atau kenapa dia tidak berpikir bahwa mungkin saja remaja yang akan beranjak dewasa itu memiliki pesona luar biasa yang akan membuat hatinya kebat-kebit.


***

__ADS_1


“Astaga apa dia tidur? Woi … bangun!” Jeremy menggoyangkan lengan Marsha, mobil yang dia kemudikan sudah hampir sampai di rumah gadis itu tapi Marsha tertidur pulas bahkan nyaris seperti orang mati.


Jeremy lupa bahwa kejadian nahas yang menimpanya juga berhubungan dengan kebiasaan tidur gadis ini. Ia mencoba mengatur napas dan rileks, bahkan melakukan senam pipi karena mau tidak mau dia harus menghadapi calon mertuanya nanti.


“Hei … bangun!”


Namun, Jeremy tetap saja berusaha membuat calon istri belianya terjaga. Marsha masih saja tak bergerak sampai dia menjambak rambut frustrasi, dia sudah sampai di depan rumah gadis itu dan penjaga pun sudah terlihat membukakan pagar untuknya.


“Senyum Je, senyum! Seberapa besar rasa kesalmu ke bocah alien ini tunjukkan bahwa kamu pria sejati,” gumam Jeremy mensugesti diri. Ia masuk ke dalam dan agak terkejut saat mendapati Kimi sudah menunggu di depan teras, belum lagi ternyata Nova juga berada di sana.


“Ya sudah kamu gendong dia masuk ke dalam,” ucap Nova dengan santainya.


“A-a-apa Omano? Gendong?” Jeremy terbata-bata, demi apapun dia ogah melakukan apa yang wanita tua itu perintahkan. “Bukankah bisa Papi Richard saja,” elaknya.


“Richie belum pulang, dia ada pertemuan dengan koleganya sampai malam. Sudahlah Je angkat dia, kasihan itu kepalanya sampai teleng gitu nanti lehernya sakit,” kata Nova.

__ADS_1


Jeremy tetap tidak bergerak dari posisinya, dia merasa sungkan menggendong Marsha, sampai Kimi pada akhirnya buka suara untuk memintanya melakukan apa yang Nova perintahkan. Jeremy pun tak bisa menolak. Ia angkat pelan Marsha dan membopongnya naik ke lantai dua di mana kamar gadis itu berada.


Kimi membukakan pintu lalu menyibabkan selimut agar putrinya bisa dibaringkan di sana, tapi wanita itu buru-buru keluar karena sang mertua memanggil. Jeremy pun kikuk, dia bingung bagaimana merebahkan Marsha. Sedangkan untuk berteriak memanggil nama Kimi dia tiba-tiba takut mengganggu, wajah gadis itu sangat damai dan membuatnya harus mengulum bibir dua kali.


“Haish … apa aku lempar saja dia,” gerutu Jeremy. Ia perlahan naik ke atas ranjang. Namun, tiba-tiba Marsha menggeliat, dia hampir saja jatuh menindih tubuh gadis itu.


“Bocah ini, sungguh terlalu.”


_


_


_


Jumpa sama om jerami lagi 😛

__ADS_1


__ADS_2