
“Aku tahu kakak pasti tidak akan bahagia mendengar ini.”
Marsha menunduk, semua keberanian yang terucap dari bibirnya jika sampai hamil menguap bagai buih di lautan. Terlebih mendengar kata-kata dan ekspresi Jeremy tadi.
“Sya!”
“Aku juga bingung harus bagaimana? Apa aku bisa menjadi ibu yang baik nantinya?” keluh Marsha.
Jeremy masih diam, dia menyesal sudah menunjukkan keterkejutannya dengan cara berlebihan. Bagaimanapun juga Marsha adalah istrinya, jadi kehamilan gadis itu seharusnya menjadi kabar bahagia.
“Sya, sepertinya kamu salah mengartikan keterkejutanku. Aku bahagia, sungguh!” kata Jeremy. Ia raih tespek dengan garis dua itu dari tangan sang istri, setelahnya merengkuh Marsha ke dalam pelukan. “Aku hanya takut dianggap pria yang tidak bisa dipercaya, aku sudah berjanji ke mami untuk tidak membuatmu mengandung dulu.”
“Lalu harus bagaimana? Ini ‘kan anak kita, apa kakak mau membuangnya?" tanya Marsha asal.
Jeremy menjauhkan badan, dia menggeleng dengan alis bergelombang karena tak suka dengan ucapan Marsha barusan.
“Tidak, kenapa bisa kamu berpikir begitu? Kita suami istri, kita saling mencintai. Tidak semua orang yang sudah menikah memiliki keberuntungan seperti kita.” Jeremy menatap lekat manik mata istrinya, dia menggenggam erat tangan Marsha sebelum berkata lagi,”Hanya saja kabar bahagia ini mungkin akan menjadi kabar buruk buat Mami.”
__ADS_1
“Apa mami akan kecewa karena aku hamil?”
Pertanyaan polos Marsha seperti menyadarkan Jeremy, gadis ini tidak begitu siap menerima kehamilannya. Ia pun memeluk kembali tubuh Marsha, menepuk lembut punggungnya dan membisikkan kalimat dengan harapan agar sang istri bisa sedikit tenang.
“Tidak, dia pasti akan senang, dia akan memiliki cucu dari putri yang sangat dia cintai.”
“Lalu, apa kakak senang? Kita akan punya bayi.”
“Tentu saja, terima kasih sudah mengandung anakku,”tutur Jeremy.
Pipi Marsha seketika merona, tak ingin kalah mendapat kalimat mesra, dia pun membalas ucapan Jeremy.
Malam itu dilalui Marsha dan Jeremy dengan obrolan seputar anak, mereka terlihat sangat bersyukur dengan kehamilan Marsha. Akan tetapi mereka bingung bagaimana cara yang tepat memberitahu Kimi. Hingga Marsha meminta Jeremy merahasiakan kehamilannya ini dari orang-orang dulu.
“Nenek dan Omano pasti akan senang mendengar kabar ini, ”kata Jeremy merespon keinginan sang istri.
“Tapi aku masih takut membuat mami kecewa.”
__ADS_1
☘️☘️
Di saat yang bersamaan, Kimi dibuat panik di rumah sakit. Ini karena seorang remaja berumur sekitar tujuh belas tahun dan ibunya datang ke IGD. Gadis itu mengeluh kesakitan di bagian perut, sedangkan ibunya sangat cemas melihat anaknya merintih.
Kimi meminta gadis itu berbaring, dia menekan sedikit bagian perut dan terkejut menyadari gadis itu ternyata sedang hamil.
“Putri ibu hamil, apa ibu tidak tahu?” Kimi syok, begitu juga dengan ibu gadis itu yang malah menangis.
“Saya tidak tahu dokter,” jawabnya, kemudian memukul lengan sang putri dan memarahi.
“Sudah jangan bertengkar, Bu. Anak ibu kemungkinan besar akan segera melahirkan,” kata Kimi. Ia meminta gadis itu menekuk kedua kaki agar bidan jaga bisa mengecek kondisinya.
“Pembukaan tujuh, Dok!”
“Dia akan melahirkan sebentar lagi, pindahkan ke ruang bersalin,”pinta Kimi.
Air mukanya terlihat sangat cemas, dia benar-benar tak menyangka ada ibu yang tak menyadari putrinya tengah berbadan dua. Kimi bergumam di dalam hatinya, membayangkan jika gadis itu tadi adalah Marsha.
__ADS_1
“Umurnya bahkan lebih muda dari Marsha, semoga tidak ada hal yang buruk terjadi saat persalinan. Lagi pula bagaimana bisa ibunya tidak tahu. Jika itu Marsha, aku pasti sudah tahu hanya dari gelagatnya.” Kimi menggerutu, sepertinya akan sulit bagi Marsha menyembunyikan kehamilannya.