
Baik Zie dan Marsha yang dimintai keterangan memilih untuk mengaku bahwa Jeremy dan Mia adalah teman lama. Persis seperti permintaan Jeremy. Meski petugas percaya tapi tidak dengan Kimi, dia memilih untuk diam dan tak membahas selama keadaan tidak membuat putrinya terluka. Bagi seorang ibu, anak jelas nomor satu. Kimi pasti tetap akan pasang badan jika putrinya disakiti suatu saat nanti.
Jeremy sudah diperbolehkan pulang, banyaknya pekerjaan yang ditinggalkan membuat di hari pertamanya berada di rumah, disibukkan dengan kegiatan bersama Peter di ruang kerjanya.
"Kamu baru saja keluar dari rumah sakit, apa yakin tidak ingin istirahat?"
Peter bicara tak formal seperti biasa karena berada di luar perusahaan dan hanya berdua bersama Jeremy. Ia berhenti membubuhkan stempel pada dokumen yang dia tata di atas meja. Matanya memandang Jeremy tapi sang atasan bergeming dan terus fokus membaca dokumen di tangan.
"Tadi Ibu Cantika sudah memperingatkan, pagi tadi kamu baru saja mendatangi kantor polisi. Apa tak masalah kini bekerja seperti ini?" tanya Peter lagi, dia berharap Jeremy mau menjawab pertanyaannya kali ini.
"Aku adalah orang yang paling tahu bagaimana kondisiku, jadi tidak perlu memikirkan omongan nenek," kata Jeremy.
Ia dan Peter berada di ruang kerja Jeremy sampai sore, bahkan saat Marsha pulang kuliah mereka masih berada di sana. Cantika yang tak digubris memilih mengadu pada gadis itu.
Awalnya Marsha kaget, tapi seketika marah karena Jeremy tidak mendengar anjuran dokter untuk istirahat. Ia meletakkan tas di sofa ruang tengah, matanya menyipit marah lalu menggulung kemeja sampai ke siku.
"Nenek tenang saja! aku akan menghajar bocah tua nakal itu."
Marsha menghentakkan kaki lalu meninggalkan Cantika yang terbengong, gadis itu naik sambil menekan tapak kaki di setiap anak tangga seolah geram.
"Akan aku jewer kupingnya, lihat saja!"
__ADS_1
Cantika yang mendengar sedikit takut lalu memperingatkan, "Sya, jangan kamu kasari!"
Marsha sudah tak mendengarkan apa yang dikatakan oleh Cantika, dia bahkan tanpa permisi menerobos masuk ke ruang kerja Jeremy laku menjewer telinga Peter.
"Agh... Agh... Agh, kenapa ini?"
Jeremy terbelalak, dia turunkan dokumen di tangan dan ikut kaget mendapati istrinya datang-datang menarik telinga sang sekretaris.
"Sya!"
"Apa kamu tidak punya otak, Pet? Sudah jam berapa ini? kenapa masih di sini dan membuat kak Je bekerja? Apa kamu tidak tahu lukanya saja belum kering, Ha!" amuk Marsha.
"Aku ke sini juga karena dia yang memintaku, mana berani aku memberinya pekerjaan kalau bukan dia yang minta," pekik Peter. "Lepas! Lepas! Lepas! Apa kamu mau membuat telingaku copot!"
"Apa kakak pikir kakak juga akan lolos dariku?" bentak Marsha.
Jeremy kicep, dia langsung bungkam dan tak percaya sejak kapan dirinya mulai takut ke Marsha.
"Kemasi semua pekerjaan ini dan pulang!"
Marsha melotot ke Peter, pria itu tak serta merta menurut. Dipandanginya Jeremy dan saat atasannya itu mengangguk, Peter buru-buru mengemasi dokumen di meja.
__ADS_1
"Galak sekali!" Ejek Peter sambil berjalan menuju meja Jeremy dan mengemasi juga dokumen yang sedang diperiksa Jeremy.
"Jangan yang ini!" Tolak Jeremy dengan suara pelan saat Peter ingin mengambil dokumen yang baru setengah jalan dia koreksi.
Namun, Marsha mendengar dan bersuara kencang meminta Peter mengambilnya juga.
"Jangan meninggalkan satu pun pekerjaan untuk kak Je, atau kamu akan berurusan denganku."
Peter komat-kamit lalu dengan kesal mengambil paksa dokumen yang Jeremy larang untuk diambil. Atasannya itu hanya bisa pasrah, apalagi Marsha sudah bersedekap dada dan seolah keluar tanduk dari kepala.
"Kenapa aku bisa kalah dan menuruti bocah ini?" Gumam Jeremy di dalam hati.
Marsha tetap berdiri untuk memastikan Peter pergi dari ruang kerja sang suami. Setelah hanya tinggal dirinya dan Jeremy, gadis itu mendekat masih dengan tangan tertekuk di depan dada, lalu menggebrak meja.
Jeremy kaget, matanya menutup sejenak sebelum terbuka lagi.
"Sya, bisa tidak jangan membuatku kaget. Kalau seperti ini nanti bekas operasiku tidak akan sembuh-sembuh," ucap Jeremy asal.
"Hah... teori dari mana itu?" cibir Marsha. "Kamu bahkan belum mandi 'kan? karena sibuk bekerja lupa kebersihan."
Jeremy terdiam, dia berdiri lalu buru-buru keluar dari ruang kerjanya. Ia tersenyum manis sebelum berkata akan segera mandi ke sang istri.
__ADS_1
"Sya, ikut aku! aku butuh bantuan menggosok punggung!"