
Happy reading.....
5 hari sudah Amanda berada di rumah kedua orang tuanya, dan hari ini rencananya dia akan kembali pulang ke rumah suaminya.
Wanita itu sudah siap, dan dia sedang menunggu bersama dengan om Umar dan tante Anjani di ruang tamu, karena Darius mengabari jika dirinya sedang berada di jalan untuk menjemput Amanda.
Selama Amanda berada di rumah kedua orang tuanya, Darius jarang sekali mengabari dirinya. Dulu bahkan mereka tidak pernah jika lost contact, sehari pasti ada saja chat dari Darius yang menanyakan apakah dirinya sudah makan atau mengingatkan setiap waktu, agar dia tidak telat makan karena takut jika Amanda akan sakit.
Namun, sekarang rasanya terasa begitu berbeda. Sikapnya mulai dingin dan itu sangat dirasakan oleh Amanda, pria tersebut tidak lagi bersikap hangat. Dan dia berpikir mungkin karena perdebatan mereka beberapa hari yang lalu di dalam mobil saat Amanda pulang.
Setelah menunggu cukup lama, mobil Darius pun terparkir di teras dan dia masuk lalu mencium kedua tangan mertuanya.
"Kamu ini gimana? Istri berada di sini, tapi kamu malah tidak menemani? Padahal dari Bogor ke Jakarta itu tidak jauh," ucap Om Umar sambil menatap ke arah Darius.
Pria tersebut tersenyum kaku, dia sedikit gugup saat mendengar ucapan dari mertuanya. "Maafkan Darius, Pah. Tapi memang kerjaan Darius saat ini benar-benar sangat banyak, jadi tidak bisa ditinggalkan."
"Yah, kalau saran papa sih sebaiknya kalian itu harusnya liburan bersama, jangan kerjaan mulu yang kamu urusin. Memangnya kamu mau jika nanti Amanda tidak merasa nyaman lagi di sisimu?" Mendengar itu Darius menatap heran ke arah mertuanya.
"Maksudnya, Pah?"
"Begini Darius, pernikahan itu akan terasa ujiannya saat memasuki tahun ke-5 sampai seterusnya. Mereka akan di uji kesetiaannya. Karena rasa jengah, rasa bosan mulai hadir, itu kenapa kalian sebagai pasangan suami istri harus saling melengkapi. Dan bagaimana caranya agar rasa itu tidak hadir dalam rumah tangga kalian? Ya ... kecuali memang salah satunya telah bermain api di belakang," jelas Om Umar sambil meminum kopinya.
Darius sedikit terkejut saat mendengar penuturan dari mertuanya, kemudian dia menatap ke arah Amanda, sedangkan wanita itu hanya menatap ke arah lain.
"Kami baik-baik saja kok Pah," ujar Darius.
"Iya, Papa tahu, tapi papa hanya kasih masukan saja untuk kalian. Karena di sini kalian lah yang menjalani rumah tangga."
Setelah berbincang dengan kedua mertuanya, Darius memutuskan untuk pulang bersama dengan Amanda, dan sebelum Darius pulang Om Umar pun berpesan kepadanya.
__ADS_1
"Jagalah Amanda! Jika kamu sudah tidak sanggup untuk membahagiakannya, maka serahkanlah kepada papa! Karena Papa akan selalu membahagiakan Amanda. Dan jika kamu sudah tidak mencintainya lagi, maka tinggalkan dan lepaskanlah dia! Karena kamu hanya akan menyakiti hatinya. Dia adalah berlian kami, dan tentu saja Papa tidak mau melihat berlian Papa menangis. Jadi jika kamu sudah tidak mau dengan Amanda, maka lepaskan dan berikan dia kepada kami, karena kami pasti akan menerimanya dengan tangan terbuka."
Darius cukup terkejut saat mendengar ucapan dari mertuanya yang seperti mengisyaratkan sebuah kode, namun dia pun tidak tahu itu apa.
"Iya Pah, Darius akan menjaga Amanda. Darius akan mengingat Pesan Papa, kalau begitu kami pamit dulu." Pria tersebut mencium kedua tangan mertuanya lalu pergi dari sana.
Selama dalam perjalanan, Amanda juga tidak banyak bicara. Dia lebih banyak diam karena wanita itu takut jika nanti malah akan memulai perdebatan lagi.
Sementara Darius merasa heran dengan sikap istrinya. Biasanya Amanda akan sedikit manja kepada dirinya saat berada di dalam mobil, tetapi ini tidak.
"Apa kamu bilang sesuatu kepada orang tuamu?" tanya Darius tanpa mengalihkan pandangannya dari depan.
"Tidak," jawab Amanda dengan singkat.
Namun entah kenapa Darius merasa Amanda telah mengatakan sesuatu hal yang membuat Om Umar berkata dan berpesan seperti itu.
"Tapi tidak mungkin kan Papa berpesan hal sedemikian rupa, jika kamu tidak mengatakan apapun kepadanya?" Kali ini Darius menatap ke arah sang istri dengan menyipit.
"Untuk apa aku membicarakan sesuatu hal tentang rumah tangga kita kepada kedua orang tuaku? Itu hanya akan membuat beban bagi mereka. Lagi pula, yang menjalani bukankah kita? Jadi jika ada masalah apa-apa, selagi aku bisa menanggungnya, aku akan menanggungnya sendiri. Tapi jika aku sudah tidak kuat, maka mungkin aku akan menceritakannya kepada mereka," jawab Amanda sambil menyandarkan tubuhnya di kursi.
Tidak ada pertanyaan lagi dari Darius, pria itu fokus menyetir. Namun dia merasa heran dengan nada bicara Amanda yang terkesan dingin.
Wanita itu memejamkan matanya untuk menghindari pertanyaan dari suaminya lagi, karena saat ini Amanda malas untuk berdebat.
Setelah menempuh perjalanan hampir 2 jam, mereka pun sampai di rumah, dan Jam menunjukkan pukul 07.00 malam. Amanda dan juga Darius langsung masuk ke dalam kamar untuk membersihkan diri.
Namun saat Amanda akan masuk ke dalam kamar mandi selesai Darius, langkahnya terhenti saat melihat sesuatu yang begitu membuatnya heran, kemudian dia menatap ke arah Darius dengan tajam.
"Ini apa Mas? Kenapa ada tanda merah di dada kamu?" tunjuk Amanda pada dada bidang milik Darius.
__ADS_1
Pria tersebut tersentak kaget, kemudian dia menatap ke arah tanda merah keunguan di dadanya, dan seketika wajahnya menjadi gugup dan sedikit panik.
"Mas, kamu tidak main api kan di belakang aku? Katakan Mas! Ini tanda apa?!" tanya Amanda yang mulai meninggikan suaranya.
"Sayang, ini tuh digigit nyamuk."
"Apa kamu bilang, digigit nyamuk? Hahaha! Hello Mas. Aku bukan anak kecil yang gampang dibodohi. Aku tahu tanda ini tanda apa. Sebaiknya kamu jujur sama aku sekarang! Kamu bermain api di belakang dengan siapa, hah!" teriak Amanda yang mulai tak bisa membendung air matanya.
Rasa sesak seketika menyeruak ke dalam hati, saat melihat tanda merah keunguan di dada bidang suaminya. Kepalanya menggeleng dengan kuat, dan air matanya sudah menetes.
"Sayang, dengarkan penjelasan aku, ini tidak seperti yang kamu bayangkan. Kemarin digigit nyamuk dan rasanya begitu gatal, jadi aku mengeriknya dengan koin. Jadi, tanda kerikan juga tanda seperti itu sama?" Darius mencoba menjelaskan pada Amanda.
"Kamu bohong, Mas!" Amanda menggelengkan kepalanya dengan deraian air mata.
"Tidak. Kamu tatap mataku! Apa di sini ada kebohongan? Aku benar-benar tidak selingkuh, aku mencintai kamu, sangat mencintai kamu sayang._" Darius menarik tubuh Amanda dan mendekapnya dengan erat.
Sementara Amanda hanya diam sambil menangis sesegukan, karena entah kenapa hatinya menolak untuk percaya. Walaupun dia tahu tanda kerikan dan juga tanda seperti itu sama warnanya.
Kemudian Darius melepaskan pelukannya, lalu menatap kedua netra indah milik sang istri. "Percayalah sayang! Aku tidak selingkuh. Jika aku melakukan itu, kamu boleh melakukan apapun dan kamu boleh meninggalkan diriku."
Mendengar hal tersebut Amanda melepaskan tangan Darius yang berada di kedua bahunya. "Aku berharap itu semua benar, Mas." Setelah itu Amanda melenggang masuk ke dalam kamar mandi.
Walaupun terlihat memang tadi Darius sangat serius dan meyakinkan jika dia tidak berselingkuh, tapi tetap saja dada Amanda rasanya begitu sakit saat mengingat tentang tanda itu.
Dia tidak bisa membayangkan tubuh suaminya dijamah oleh wanita lain yang bukan muhrimnya. Dia tidak bisa membayangkan vagaimana rasanya berbagi tubuh dengan wanita lain.
'Papa benar, aku harus menyelidiki ini semua.' batin Amanda sambil mengguyur tubuhnya di bawah air shower dengan tangan terkepal kuat.
Bodoh jika dia percaya begitu saja. Amanda bukan wanita bodoh yang bisa di kelabui begitu saja. Dia tau tanda kerikan dan tanda buatan dari mulut. Sebab ia juga sudah biasa melakukannya pada Darius.
__ADS_1
BERSAMBUNG.....