
Happy reading....
Amanda pulang ke rumah tepat jam 22.00 malam, dia masuk ke dalam kamar dan melihat Darius sedang duduk di sofa sambil memangku laptopnya.
"Kamu belum tidur, Mas?" tanya Amanda, tapi Darius tidak menjawab hanya diam saja.
Dia masih kesal kepada Amanda, karena gara-gara wanita itu burung kakak tua miliknya terbangun, dan Amanda malah tidak mau bertanggung jawab.
Melihat tidak ada jawaban dari suaminya, Amanda tahu jika Darius masih kesal. Kemudian dia pun berjalan dan duduk di samping suaminya.
"Hayo! Kamu masih kesal ya sama aku? Ya maaf, tadi kan ada pekerjaan jadi tidak bisa aku tinggalkan," ujar Amanda sambil menyandarkan kepalanya di bahu kekar Darius.
"Tidurlah! Aku masih banyak kerjaan," ucap Darius dengan nada yang datar.
Amanda menegakkan tubuhnya, kemudian dia menggeser duduknya dan menghadap ke arah Darius, menatapnya dengan lekat untuk beberapa detik.
Merasa diperhatikan, Darius pun menengok. "Kamu kenapa liatin aku kayak gitu?"
"Tidak apa-apa sih, hanya aku merasa heran aja. Aku merasakan jika akhir-akhir ini kamu tuh berubah banget Mas. Dari sikapnya hangat, berubah menjadi dingin. Entahlah, atau mungkin itu hanya perasaanku saja, atau bisa jadi ada sesuatu hal yang kamu sembunyikan," tutur Amanda.
BRAK!
Darius menggebrak meja membuat Amanda sedikit terjingkat kaget. "Cukup ya Amanda! Sudah berapa kali aku bilang, jangan pernah berprasangka buruk kepadaku! Apa kamu tidak pernah mengerti itu, hah!"
"Kamu ini kenapa sih Mas, dikit-dikit ngebentak? Dikit-dikit marah-marah? Aku kan cuma bilang apa yang aku rasakan aja, bukan berarti aku bernegatif thinking sama kamu. Kamu nggak usah marah kalau emang nggak ada yang kamu sembunyikan dari aku. Justru jalau kamu marah kayak gini, sangat terlihat jika ada sesuatu yang besar yang kamu sembunyikan. Udahlah, aku mau istirahat capek tau nggak sih!" Amanda berkata tak kalah nyolot.
Kemudian dia beranjak dari duduknya menuju ruang ganti, setelah itu dia memakai piyama tidur dan langsung memejamkan matanya.
.
.
Tepat jam 02.00 pagi Amanda terbangun, dia meraba di samping tempat tidurnya, dan ternyata tidak ada Darius.
Wanita itu menegak air yang ada di sampingnya, kemudian membuka ponsel karena Amanda yakin jika Darius ada di kamar tamu.
Saat dia membuka kamera yang terhubung dengan kamar tamu, seketika matanya membulat saat melihat adegan yang tak seharusnya ia lihat, di mana suami dan juga adiknya tengah memadu kasih.
__ADS_1
Sangat terlihat jelas raut wajah Darius yang penuh kepuasan saat Fitri berada di atas tubuhnya dengan gerakan yang begitu eksotis. Air matanya seketika jatuh membasahi kedua pipi mulutnya.
Dadanya terasa begitu sesak seakan dunia Amanda runtuh saat itu juga. "Kenapa kamu begitu jahat kepadaku? Kenapa kalian tega melakukan ini kepadaku? Kenapa!" teriak Amanda sambil membanting ponsel itu ke atas ranjang.
Dia meremas dadanya yang terasa begitu perih akibat pengkhianatan dari kedua orang yang amat sangat dia sayang, dan amat sangat amat dan percayai.
"Sudah cukup aku menangisi kalian, menangisi penghianatan dari kalian berdua." Amanda menghapus air matanya dengan kasar.
Kemudian dia beranjak dari duduknya dengan dada yang bergemuruh hebat, menahan amarah yang begitu memuncak. Kemudian dia mengambil sesuatu di dalam tas, lalu Amanda berjalan ke lantai bawah.
Dia berjalan ke tempat di mana sikring listrik dipasang, dan melihat suasana aman, Amanda langsung mematikan sikring tersebut sehingga membuat seluruh rumah gelap gulita.
"Rasakan kalian!" Amanda tersenyum menyeringai, kemudian dia berjalan dengan cepat masuk ke dalam rumah dan menaruh sesuatu di depan kamar tamu.
'Kalian akan rasakan akibatnya!' batin Amanda dengan geram, kemudian dia menaiki tangga dan masuk ke lantai atas di mana kamarnya berada dengan senyum yang lebar di bibirnya.
.
.
"Sayang, ini kenapa lampunya mati?" tanya Fitri saat tiba-tiba saja lampu mati.
Kemudian Fitri bangkit dari tubuh pria itu. "Gimana ini sayang? Pasti nanti Mas Haris bangun deh. Aduh, kok bisa mati lampu gini sih!" gerutu Fitri dengan kesal.
"Sebaiknya kita kenakan baju, takutnya Amanda juga bangun dan mereka semua curiga sama kita," ucap Darius.
"Tapi baju aku di mana, Mas? Aku nggak tahu."
Kemudian Darius mengambil senter yang ada di laci, lalu menyoroti pakaian mereka, setelah itu keduanya pun berpakaian.
"Ayo cepat! Kita keluar dari sini!" ajak Darius
Dan saat mereka membuka pintu lalu Darius keluar, tiba-tiba saja dia terpeleset, hingga membuat pantaatnya merasakan sakit akibat mencium lantai dengan cukup keras.
"Aaawh! Siapa yang menaruh minyak di sini?" ringis Darius saat merasakan lantainya licin dan ternyata itu adalah minyak.
"Kok bisa ada minyak sih, sayang?" tanya Fitri dengan heran.
__ADS_1
Dan berbarengan dengan itu lampu pun menyala, membuat mereka lega namun juga sedikit panik, karena takut ada orang yang melihat mereka berada di sana.
Kemudian Fitri membantu Darius untuk bangun, dan saat mereka akan menaiki lantai atas menuju kamar, tiba-tiba saja suara seseorang mengagetkan keduanya.
"Kalian kenapa malam-malam ada di sini?" tanya om Samuel Papanya Darius.
Jantung keduanya berdetak dengan kencang saat melihat kehadiran Om Samuel dan juga Tante Dina karena mereka terjaga sebab tadi lampu mati.
"Iya Darius, Fitri, kalian kenapa bisa ada di lantai bawah? Terus kenapa bisa di kamar tamu?" tanya Tante Dina, "Lalu, itu kenapa kamu jalannya pincang begitu?"
Keduanya terdiam, mereka bingung harus memberi jawaban apa, sebab Darius dan juga Fitri dilanda kepanikan.
"I-ini Mah, tadi saat aku mau tidur di kamar tamu, tiba-tiba saja kepeleset dan ada minyak yang tercecer di depan kamar, dan kebetulan Fitri katanya haus mau ke lantai bawah mengambil minum, jadi Fitri membantu aku," bohong Darius.
"Loh sayang, kamu kok ada di sini? Aku mencari kamu tadi," ucap Haris dari tangga sambil turun untuk mendekat ke arah Fitri.
Namun dahinya mengkerut heran saat melihat istrinya tengah berdiri di samping kakaknya, namun Haris tidak ingin berpikir yang tidak tidak.
"Iya Mas, tadi aku haus mau minum," jawab Fitri dengan sedikit gugup.
"Minum? Bukannya air di kamar masih ada ya?" bingung Haris.
Fitri semakin gelagapan, dia benar-benar bingung harus menjawab apa. Karena takut jika kegiatan bersama dengan Darius di ketahui oleh suami dan juga kedua mertuanya.
'Astaga! Kenapa harus jadi begini sih? Aku harus jawab apa coba, biar mereka nggak curiga?' batin Fitri sambil meremas piyama tidurnya.
Entah kenapa tante Dina merasa Fitri dan juga Darius sedang dalam keadaan gugup, seperti tengah menyembunyikan sesuatu. Dia juga merasa heran kenapa Darius tidur di kamar tamu.
'Apa Darius dan Amanda sedang bertengkar?' batin tante Dina
"Sayang?" panggil Haris sekali lagi, saat melihat keterdiaman Fitri.
Saat wanita itu akan menjawab pertanyaan suaminya, tiba-tiba saja terhenti oleh ucapan seseorang.
"Mas Darius. Kok kamu ada di sini? Aku dari tadi nyariin kamu loh Mas. Aku sampai cari ke atap, takut kamu ketiduran lagi di sana, tapi kamu mala di sini. Kenapa dekat dengan kamar tamu dan kenapa kamu sama Fitri?" tanya Amanda dengan heran.
'Astaga! Kenapa Amanda juga harus bangun sih!' batin Darius menggerutu.
__ADS_1
Mereka berdua seperti pencuri yang baru saja ketahuan dan ditangkap basah oleh pemilik rumah saat tengah melakuakn aksi, dan saat ini keduanya seperti ditatap dengan tatapan terintimidasi dan tidak tahu harus menjawab apa.
BERSAMBUNG......