
"Ibu Amanda sama Nyonya tadi pergi keluar, Tuan."
Ethan mengangguk paham, kemudian dia kembali ke kamar untuk membersihkan diri. Padahal jam sudah menunjukkan pukul 21.00 malam.
Tepat jam 10.00 Amanda dan juga mama Inggit kembali ke rumah. "Kalian ini dari mana? Kamu kan tahu lagi hamil ... terus kenapa keluar malam-malam? Mama juga. Ngapain ngizinin Amanda keluar? Udah tau sebentar lagi mau punya cucu." Ethan ngomel-ngomel seperti ibu-ibu yang sedang mengomeli anak gadisnya.
"Kamu ini persis seperti mama kalau lagi ngomel sama kamu karena pulang telat," kekeh Mama Inggit. "Nih!" Dia pun menyodorkan satu bungkus makanan.
"Apa itu?" tanyanya dengan bingung.
"Itu namanya otak-otak sama ketoprak. Jstri kamu tuh tadi ngidam, daripada dia pergi sendirian ... ya udah mendingan Mama antar."
"Ya ampun, sayang! Kamu kalau mau apa-apa tinggal bilang dong sama aku. Jangan keluar malam-malam kayak gini. Nanti kalau kamu kenapa-napa gimana? Aku nggak mau ya, kalau terjadi apa-apa sama kamu dan calon anak kita," kata pria itu dengan nada yang begitu posesif.
Amanda mendekat kemudian memeluk tubuh Ethan dari samping lalu mengecup pipinya dengan lembut. "Maaf ya! Soalnya kamu kan lagi tahlilan, karena kamu juga nggak bawa ponsel kan? Jadi ya udah, aku keluar deh sama mama. Coba aja kamu bawa ponsel."
"Iya maaf, tadi kan ponsel aku lowbat. Ya udah, sekarang dimakan terus kita istirahat!"
.
.
Pagi ini Amanda pergi menemani suaminya untuk ke kantor, namun tiba-tiba saja Ethan mendapatkan telepon bahwa dia ada meeting di luar kota.
"Sayang, kamu nggak papa kan nggak ikut dulu? Soalnya aku ada meeting di luar kota, nanti kalau kamu ikut kecapean terus kandungan kamu kenapa-napa lagi."
"Tapi aku nggak bisa jauh dari ketek kamu, Mas."
Ethan yang mendengar itu pun terkekeh kecil, kemudian dia mengacak rambut Amanda. "Kemarin aku yang tergila-gila sama ketek kamu. Sekarang kamu. Memangnya seharum itu?" goda Ethan sambil menaik turunkan alisnya.
__ADS_1
"Entahlah ... kamu pakai magic apa sih sampai ketek mu itu membuat aku candu?" Amanda melipat tangannya di depan dada dengan wajah merengut. "Ya sudah, kalau gitu aku mau ke butik aja, janjian sama si ikan lele."
"Ikan lele? Siapa?"
"Itu ... si Lulu, Mas ...."
"Dia mah bukan ikan lele, tapi kembarannya penyanyi dangdut yang berkumis itu," kelakar Ethan dengan tawanya, dan Amanda pun ikut tertawa mendengarnya.
"Ya udah, mendingan sekarang kita turun yuk! Pasti Mama udah nungguin."
Akhirnya keduanya pun turun menuju ruang makan, setelah itu mereka sarapan.
"Mah, ini kenapa barang-barang di kamar Amanda diturunin ke lantai bawah?" herannya saat melihat para pelayan menurunkan barang-barang yang ada di kamar Edan.
"Untuk sementara, sampai kamu lahiran kamu pindah ke lantai bawah ya! Jadi jangan naik turun tangga. Walaupun ada lift, tapi tetap Mamah khawatir. Lagi pula, Mama juga sudah berunding kok sama Ethan."
Amanda hanya mengangguk saja, karena dia tahu bahwa itu yang terbaik untuk dirinya dan juga kandungannya. Dan setelah itu Amanda pun pamit untuk pergi ke butik diantar oleh sopir yang ada di rumah tersebut.
Tak lama balasan pun masuk. (Iya bawel. Ini gue udah sampai butik, lo kelamaan dandannya. Lagi pula, emangnya lo nggak mual apa hamil-hamil dandan?)
(Justru aura Ibu hamil itu sangat cantik, jadi dipoles sedikit aja udah menggoda🤣). Amanda memberikan emotion tertawa.
Setelah mobil sampai di butik, sopir itu tidak kembali pulang, dia menunggu di sana atas perintah Ethan. Sementara Amanda masuk ke dalam dan menemui Lulu yang saat ini tengah duduk di sofa sambil memegangi perutnya yang membuncit.
"Eh ikan lele ... lo kan sebentar lagi mau 7 bulanan, jadi jangan ke butik dulu kenapa sih. Bandel tahu nggak!"
"Gue nggak ada kerjaan. Di rumah mama posesif banget sama gue, gak boleh ini, nggak boleh itu. Sedangkan lo tau sendiri kan, gue ini nggak bisa kalau nggak gerak sedikit pun. Kalau ada di butik kan setidaknya ada kegiatan, ya ... walaupun gak berat-berat banget. Mengisi kekosongan waktu gue aja."
"Terus gimana acara 7 bulanannya, udah siap?"
__ADS_1
"Alhamdulillah udah. Nanti lo datang ya! Acaranya besok pagi, sengaja karena kan tamu-tamu dari suami dan juga mertua gue itu banyak." Amanda mengangguk, kemudian dia menyantap rujak yang dibawa oleh Lulu Dengan begitu lahap.
"Kenapa wajah lo sedih gitu?" tanya Amanda di sela-sela kunyahannya saat melihat wajah murung Lulu.
"Tadi waktu gue mau berangkat ke sini, gue itu sempat lihat film ikan terbang. Lo tau ... gue ngeliat film di mana suaminya tuh pergi keluar kota, terus dia ketemu mantannya lalu mereka kembali bersama. Dan saat ini Mas Rizal juga sedang berada di luar kota untuk mengerjakan tugas dari mantan adik ipar lo itu."
Amanda malah terkekeh, dan itu semakin membuat Lulu kesal. Padahal wanita itu lagi curhat, tetapi Amanda malah menyangka jika dirinya sedang bercanda.
"Kenapa lo tertawa? Gue lagi serius Markonah. Lo nggak lihat di wajah gue?"_
"Iya sorry, sorry ... menurut gue lucu aja. Itu kan sinetron, semua tuh udah disetting. Sedangkan ini adalah dunia novel, ya beda kali ... lagi pula ya ... lo itu jangan terlalu termakan lah sama ceritanya ikan terbang. Walaupun kenyataannya memang itu juga dari hasil halu, berbeda dengan kenyataan."
"Markonah ... Markonah. Apa bedanya film ikan terbang dengan dunia novel? Sama saja. Lagi pun ya ... gue cuma takut kalau nanti Mas Rizal di sana ketemu sama mantannya sih merek minyak goreng, terus mereka kembali balikan gimana?"
"Astaga! Hahaha!" Amanda tertawa terbahak-bahak. Dia sampai memegangi perutnya karena sedikit keram. "Lo itu nggak pernah berubah ya? Namanya Sania, bukannya merek minyak goreng. Lagi pula kan Sania dan juga Akmal bentar lagi mau nikah?"
"Iya tetep aja, bagi gue dia itu merek minyak goreng. Ya ... gue sih berharapnya dia beneran nikah ya sama mantan lo."
"Bukan mantan gue!" tegas Amanda.
"Iya, tapi cowoknya punya perasaan sama lo kan?" Lulu menyenggol bahu Amanda, tetapi wanita itu hanya melengos.
"Udah ah ... lama-lama ngomong sama lo itu ngelantur Oh iya, ngomong-ngomong soal Sania, semalam Kak Akmal itu ngirim pesan sama gue dia ngundang kita untuk datang ke acara pernikahannya satu minggu lagi."
"Satu minggu lagi? Seriusan lo?" kaget Lulu, dan langsung dibalas anggukkan mantap oleh Amanda. "Iya, gue serius. Lo mau datang gak?"
"Maulah. Gue mau nyaksiin secara live pernikahan mereka itu rekayasa atau bukan, biar gue pastiin tidak ada pelakor dalam rumah tangga gue. Mau itu merek minyak goreng kek, mau merk odol kek, merk sabun kek, gue nggak perduli. Pokoknya nggak boleh ada pelakor!"
"Iya, iya ... terserah. Udah gue ke depan dulu ya mau ngecek barang-barang di butik." Amanda keluar dari ruangan dan berbarengan dengan itu ada seseorang yang masuk ke sana.
__ADS_1
"Amanda!" seru seseorang dengan kaget.
BERSAMBUNG........