Rahasia With Ipar

Rahasia With Ipar
Bab 163


__ADS_3

"Fitriii ...!" teriak Amanda sambil membekap mulutnya dalam dekapan Ethan


Memang tadi saat Amanda akan jatuh tiba-tiba Ethan menarik tubuh sang istri dan tidak sengaja dia mendorong tubuh Fitri hingga terjungkal ke bawah, dan akhirnya wanita itu pun jatuh dengan kepala yang mendarat terlebih dahulu.


Melihat darah yang berceceran di lantai teras rumah Ethan, dia langsung membalik tubuh Amanda yang saat ini tengah bergetar ketakutan.


"Mas ... Fitri, Mas ... Fitri ..." Amanda terlihat panik.


Sementara semua orang yang ada di sana berhamburan keluar dan mereka menjerit ketakutan serta wajah mereka pun terlihat tegang dan syok.


Papa Samuel langsung menelpon ambulans untuk ke rumah, kemudian Ethan membawa Amanda untuk duduk di ranjang.


"Aaawhh! Perutku sakit, Maas!" ringis Amanda sambil meremas perutnya yang terasa begitu sakit sedari tadi.


"Kita ke rumah sakit sekarang!"


Amanda menggelengkan kepalanya, dia menolak untuk ke sana. Apalagi harus melewati tubuh Fitri yang saat ini mungkin sudah tidak bernyawa karena kepalanya setengah hancur.


Akhirnya Ethan menelpon dokter untuk ke rumahnya. Tiba-tiba saja pintu kamar Amanda terbuka dan terlihat tante Anjani menghampirinya dengan wajah yang begitu panik, lalu dia langsung memeluk tubuh Amanda.


"Kamu tidak apa-apa kan?"


"Amanda tidak apa-apa, Mah," jawabannya dengan keringat dingin di pelipisnya.


"Bagaimana Fitri bisa jatuh?" tanyanya dengan penasaran, karena sebelum dia naik ke lantai atas wanita itu melihat keluar sebentar.


Akhirnya Amanda pun menceritakan bagaimana Fitri masuk ke dalam kamarnya dan bagaimana wanita itu mengancamnya hingga akan mencelakainya.


"Kenapa kamu tidak tendang saja sih dia, sayang? Sudah tahu dia itu lumpuh, tapi kenapa kamu malah diam aja?" Ethan turut gemas karena dari tadi istrinya malah tidak memberikan pelajaran kepada wanita ular tersebut.

__ADS_1


"Bagaimana aku akan menendangnya, Mas? Perutku saja sakit. Jangankan untuk menendang, bahkan mengangkat kaki saja rasanya benar-benar kesakitan. Aku harus melindungi anak kita, Mas."


Ethan yang mendengar itu pun merasa iba, dia mengusap kepala Amanda. "Maaf ya, aku bukan bermaksud seperti itu. Hanya saja setan seperti dia itu harus dimusnahkan dari muka bumi ini."


"Sekarang dia sudah musnah. Dia sudah meninggal," ujar tante Anjani. Terlihat raut kesedihan di wajah wanita itu, karena walau bagaimanapun Fitri pernah menjadi bagian dalam keluarganya, apalagi pernah menjadi putrinya dan dia membesarkannya sedari kecil.


"Mah, apa Fitri benar-benar sudah meninggal?" Amanda merasa tak percaya, dan tentu saja tante Anjani langsung mengangguk. "Iya sayang, kepalanya setengah hancur. Jadi kemungkinan sangat kecil untuk dia masih bertahan."


Kepala Amanda menggeleng dengan mulut dibekap, air matanya seketika mengalir. Bukan sedih karena kehilangan Fitri, namun dia merasa tragis akhir dari kehidupan wanita itu yang harus meninggal dengan cara yang begitu mengenaskan.


"Kenapa dia harus meninggal dengan cara seperti itu, Mah?"


"Udahlah sayang ... itu sudah jalan takdir dari Allah. Kita tidak bisa apa-apa. Setiap manusia akan kembali dengan cara yang baik dan juga cara yang buruk, tergantung dari amal hidupnya."


Akhirnya Amanda dibaringkan di kasur, sementara tante Anjani kembali ke bawah untuk mengambil air hangat. Dia berpapasan dengan mama Dina di tangga karena ingin melihat wanita itu.


"Ethan, bagaimana keadaan Amanda?" panik Mama Dina.


"Tan, aku titip Amanda dulu ya. Aku mau ke bawah aku juga sudah pkanggil dokter. Mungkin sebentar lagi akan datang." Ethan keluar dari kamarnya setelah menitipkan Amanda kepada Mama Dina.


Pria itu menuruni tangga, namun seketika tangannya dicegah oleh Mama Inggit. "Apa yang terjadi? Bagaimana mungkin dia bisa jatuh dari lantai atas?" tanyanya dengan raut wajah cemas.


Jujur saja bukan kematian Fitri yang dicemaskan oleh Mama Inggit, akan tetapi kehidupan Amanda maupun Ethan karena takutnya polisi malam menuduh mereka.


"Mama tenang aja ya! Ini semua bukan kesalahan aku ataupun Amanda, tapi itu kesalahan dia sendiri yang akan mencelakai Amanda, namun dia sendiri yang celaka."


Mendengar penuturan Ethan, Mama Inggit menghela nafas dengan lega, kemudian dia menaiki lantai atas untuk menuju kamar menantunya. Sementara Ethan berjalan ke depan teras, dia berpapasan dengan Papa mertua serta Om Samuel.


Kemudian Ethan menjelaskan apa yang terjadi. Dia tidak ingin ada kesalahpahaman di antara semua orang di sana, dan terpaksa Papa Samuel juga meminta para tamu undangan untuk pulang.

__ADS_1


"Jadi ini tidak ada sangkut pautnya dengan kamu maupun Amanda. Maksud Papa ... kalian tidak mencelakai Fitri kan?" tanya Om Umar dengan panik.


"Tidak Pah. Aku dan Amanda tidak mencelakai Fitri. Malah sebaliknya ... dia ingin mencelakai Amanda dan mendorongnya di lantai atas, tapi malah dia sendiri yang jatuh."


"Sudahlah ... itu ambulans sudah datang sebaiknya kita urus jenazah Fitri dulu."


Sementara Darius hanya terpaku melihat jasad istrinya. Dia benar-benar sangat syok karena Fitri harus berakhir dengan cara yang begitu tragis. Lria itu kemudian melirik ke arah Ethan dan mencengkram kerah bajunya.


"Apa yang telah kau lakukan, hah?! Kau sudah membunuh istriku. Kau dan Amanda sudah menghabisi Fitri! Kalian akan menanggung akibatnya!" bentak Darius dengan marah.


Om Umar tentu saja tidak terima, kemudian dia melepaskan paksa tangan Darius yang berada di kerah menantunya. "Jaga ucapan kamu, Darius! Apa kamu tidak dengar apa kata Ethan, hah? Istrimu yang akan mencelakai Amanda. Kenapa kau malah menyalahkan Amanda dan juga Ethan?"


"Alaah ... itu hanya pembelaan mereka saja Pah, supaya mereka itu tidak dituduh. Padahal aslinya mereka yang menghabisi Fitri. Pokoknya aku akan menjebloskan kalian berdua ke penjara!" ancam Darius dengan begitu tegas.


Naura yang berada di sisi Darius pun memegang lengan pria itu. "Tenanglah dulu. Siapa tahu yang dikatakan Ethan memang benar. Di sini Fitri lah yang ingin mencelakai Amanda, kau juga tahu sifat istrimu itu seperti apa?"


"Diam! Kamu tahu apa kamu tentang Fitri, hah? Kamu ingin membela mereka?"


"Iya, aku bukannya ingin membela mereka. Tapi kenyataannya memang benar bukan, istrimu itu adalah siluman ular, sangat licik dan juga picik."


Mereka pun beradu mulut. Darius juga masih ngotot untuk memenjarakan Ethan dan Amanda. Kendati Ethan tidak akan membiarkan itu terjadi, karena di sini dirinya maupun sang istri tidak bersalah sama sekali.


"Sudah sudah. Sebaiknya kita bicarakan di dalam, ayo;" ajak Papa Samuel menengahi jangan bertengkar di luar tidak enak dilihat orang.


Akhirnya mereka semua pun masuk, sementara jenazah Fitri dibawa oleh ambulans menuju rumah sakit.


"Pokoknya aku akan tetap memenjarakan kalian! Dan kalian harus bertanggung jawab atas kematian istriku!" bentak Darius masih dengan nada yang begitu marah..


Ethan hanya mencebik dengan kesal. "Ternyata kau dan istrimu sama saja, 11 12. Sama-sama tidak mempunyai otak, tidak ingin berpikir langsung menuduh orang tanpa mau mendengarkan penjelasan. Sepertinya aku harus memberimu bukti di sini siapa yang bersalah, biar mulutmu itu diam dan tidak berkata seenak udelmu!" sentak Ethan dengan tatapan dinginnya.

__ADS_1


BERSAMBUNG.....


__ADS_2