
Setelah makan siang dengan perasaan canggung, mereka berdua pun kembali ke kantor dan Max yang menyetir mobil.
"Kau duduk di depan, jangan di belakang," ucap Max sambil menatap ke arah Olivia yang saat ini duduk di jok belakang. "Aku ini bukan sopirmu, paham!"
Tanpa membantah, Olivia keluar dari mobil. "Dasar bos killer!" umpatnya, kemudian dia membuka pintu samping Max lalu duduk.
"Pasang sabuk pengamannya! Apa kau ingin modus ingin aku yang memasangkan?" sindir Max dengan tatapan sinisnya.
Olivia menghela nafasnya dengan kasar, kemudian dia meremas kedua tangannya di hadapan wajah Max. "Anda ini benar-benar ya. Lama-lama saya kerja dengan Anda, tensi saya bisa naik. Memangnya Anda setampan apa, sampai harus berbicara seperti itu? Apakah Anda pikir saya akan tergoda?" Olivia memasang sabuk pengaman dengan gerakan kesal, lalu dia membuang pandangannya ke arah samping.
"Jaga bicaramu! Aku ini bosmu, paham!"
"Bos kalau di kantor dan jam kerja. Ini bukan kantor plus bukan jam kerja," cetus Oliv.
Max hanya tersenyum tipis saat melihat wajah kesal dari wanita yang berada di sampingnya. Dia menjalankan mobil hingga meninggalkan tempat itu, dan selama perjalanan tidak ada pembicaraan di antara keduanya.
'Katanya dia ingin ke suatu tempat sampai harus makan siang denganku dan menyuruh Tuan Reza untuk pergi terlebih dahulu? Tapi nyatanya apa? Sepertinya itu hanya alibinya saja tapi untuk alasan apa?' batin Olivia merasa heran.
Sesampainya mereka di kantor, keduanya turun dari mobil diiringi oleh tatapan beberapa karyawan yang menatap sinis ke arah Olivia, karena mereka berpikir bahwa Olivia sekretaris baru yang berencana untuk menggoda Max.
"Lihatlah sekretaris itu! Masih baru belum ada sehari kerja, tapi sudah berani-beraninya menggoda bos kita. Dia pikir secantik apa dirinya," ucap salah satu karyawan sambil tersenyum sinis. "Apa dia pikir Tuan Max akan mau dengannya? Wanita cantik dan seksi yang bergelar sebagai model saja ditolak mentah-mentah, apalagi dengan wanita rendah seperti dia?"
Olivia dapat mendengar bisikan para karyawan tersebut, dia menghentikan langkahnya dan menatap tajam ke arah orang yang tadi sedang membicarakannya, tetapi wanita itu tidak takut.
Kemudian Olivia mendekat, "tolong jaga ucapan Anda ya, Mbak! Saya tidak menggoda Tuan Max. Kami habis meeting, jadi jaga pikiran negatif Anda!" Setelah mengatakan itu Olivia menyusul Max untuk masuk ke dalam lift.
"Ciiih! Emang dia pikir secantik apa dirinya? Palingan itu hanya alibinya saja, kita lihat saja ke depannya, pasti wanita itu akan menggoda Tuan Max. Tapi sayang, pasti Tuan Max akan menolaknya secara mentah-mentah."
"Kamu benar. Banyak wanita cantik yang mendekatinya saja ditolak, apalagi dengan modelan seperti itu ..." timpal karyawan yang lain.
Olivia masih menekuk wajahnya dengan kesal saat memikirkan ucapan para karyawan tadi yang merendahkan harga dirinya dan menuduhnya yang tidak-tidak.
'Berani sekali mereka mengumpatku di belakang. Lagi pula, apa tampannya Tuan Max? Aku saja tidak tergoda olehnya, bahkan tidak terpesona sama sekali. Walaupun memang dia sangat tampan, tapi tidak membuatku seperti wanita lain yang tergila-gila.' batin Olivia yang merasa kesal.
__ADS_1
Max melirik ke arah Olivia yang saat ini tengah menekuk wajahnya. Dia merasa heran dengan wanita itu, karena sejak masuk ke dalam lift Olivia terlihat sedang menahan kekesalan.
''Ada apa? Kenapa wajahmu seperti itu?" tanya Max tanpa memandang ke arah Olivia.
"Tidak apa-apa Tuan," jawab Olivia, "Oh iya, selepas bekerja dari sini, saya akan tetap mengerjakan tugas saya di rumah Tuan."
"Iya, itu memang harus," jawab Max dengan datar.
.
.
Olivia pulang ke kediaman Max, dia disambut oleh Azura yang sedang menyirami tanaman. Wanita itu terlihat begitu kelelahan lalu dia duduk di kursi.
"Kakak terlihat kelelahan sekali? Aku buatkan teh hangat ya?"
"Boleh. Terima kasih ya, Dek."
"Oh ya Kak, bagaimana? Apakah Kakak diterima sebagai sekretaris atau tidak?" tanya Azura yang sudah penasaran. "Apakah sang Kakak sudah bekerja atau belum?"
"Nggak. Memangnya siapa, Kak?" Azura menatap penasaran.
"Ternyata ... Bos Kakak di kantor itu adalah Tuan Max, pemilik rumah ini, yang menolong kita." Mendengar itu Azura nampak sangat terkejut, dia membulatkan mata dengan mulut menganga.
"Hah! Serius Kak?" Olivia langsung menganggukkan kepalanya. "Serius, ngapain Kakak bohong."
"Wah ... dunia ini sempit sekali ya Kak? Kita harus dipertemukan dengan Tuan Max kembali, tapi aku rasa dia juga orangnya baik. Atau jangan-jangan ... Kakak jodog lagi sama dia?" Azura berseru dengan suara yang sedikit kencang, membuat Olivia seketika menutup mulut sang adik.
"Jaga bicara kamu, Azura! Mana mungkin aku dan juga tuan Max berjodoh? Kamu ini ada-ada aja. Jangan berbicara seperti itu lagi, yang mana nantinya akan membuat orang lain salah paham!"
"Ya kan aku hanya menebak, Kak."
"Udah ah ... kakak mau masuk dulu ke kamar, mau bersih-bersih. Terus nanti mau ngebantu pelayan lain di sini buat bekerja."
__ADS_1
"Kakak tidak capek?" Olivia menggelengkan kepalanya, karena itu memang sudah tugasnya menumpang di rumah orang, jadi dia tidak ingin makan gaji buta atau tidak tahu berterima kasih.
Sementara di kediaman orang tua Max, saat ini dia sedang merebahkan tubuhnya di atas ranjang sambil memainkan ponsel. Tak lama pintu kamarnya terbuka dan masuklah Amanda.
"Kenapa kamu belum siap-siap? Keluarga tante Lulu sebentar lagi akan ke sini. Ayo sekarang kamu ganti baju dulu!"
"Ya ampun, Mah! Kan cuma keluarganya tante Lulu. Cuma acara makan malam biasa kan? Kenapa harus pakai ganti baju segala? Lagi pula, segini udah lebih dari cukup." Max memperlihatkan kaos berwarna putih dengan celana selutut.
"Iya, tapi kan ada baiknya kamu terlihat sedikit rapi."
"Udah Mah ... kayak aku baru bertemu dengan tante Lulu saja." Max menggelengkan kepalanya. "Memang ada acara apa sih? Tumben-tumbenan mama ngajak makan malam Tante Lulu sekeluarga?"
"Ada hal penting nanti yang akan dibicarakan. Sudah, sebaiknya kita turun yuk!" ajak Amanda.
Max mengangguk, kemudian dia mengikuti langkah sang mama dan menuruni tangga menuju lantai bawah, di mana berbarengan dengan Itu keluarga Lulu pun datang.
Pria tersebut menatap ke arah seorang wanita yang sudah 3 tahun lamanya tidak bertemu. Dia menatap dingin sedangkan wanita itu menatap penuh kerinduan kepada Max.
"Hai kembarannya oli, apa kabar?" ucap seorang wanita sambil melambaikan tangannya dengan alis naik turun.
"Astaga bebek mencret. Lo dari dulu nggak pernah berubah ya ... nama gue Max, bukan oli."
"Yaelah ... suka-suka gue kali, mau manggil apa. Gimana kabar lo? Baik kan?" Wanita itu mengulurkan tangannya dan langsung disambut oleh Max.
"Iya, gue baik. Gue kira lo nggak bakalan balik dari Australia, ternyata masih ingat rumah," ledek Max sambil berjalan menuju sofa lalu dia mencium tangan Lulu dan juga Rizal.
"Max, Anggi, ayo sini duduk!" ajak Amanda.
Anggi langsung mencium tangan Amanda dan Ethan, kemudian dia duduk di samping kedua orang tuanya yang tak lain adalah Lulu dan juga Rizal. Dia senang karena akhirnya bisa kembali ke tanah air.
"Max, Anggi, sebenarnya makan malam ini bukan hanya tentang makan malam biasa saja, tapi ada sesuatu hal yang ingin mama dan papa katakan kepada kalian," ucap Ethan membuka pembicaraan.
"Soal apa itu, Pah?" tanya Max dengan perasaan berdebar. Entah kenapa dia merasa ada yang tidak beres.
__ADS_1
BERSAMBUNG.....