Rahasia With Ipar

Rahasia With Ipar
Perjodohan


__ADS_3

Happy reading....


Malam tiba...


Saat ini Amanda, tante Anjani dan juga om Umar sudah siap, karena mereka akan pergi ke kediamannya Ethan untuk melakukan makan malam bersama.


Sesampainya di sana mereka disambut hangat oleh tante Inggit, lalu mereka duduk di ruang tamu mengobrol ringan sebelum makan malam itu dilaksanakan.


Dari tadi Ethan terus saja menatap ke arah Amanda, membuat wanita itu sedikit tak merasa nyaman.


"Ya sudah,byuk kita langsung ke meja makan aja! Keburu malam juga, ntar makannya keburu dingin!" ajak tante Inggit dan langsung dibalas anggukan oleh tante Anjani.


Suasana terasa begitu hangat saat mereka semua berkumpul di ruang makan, canda tawa terdengar begitu renyah saat tante Inggit dan juga tante Anjani berbicara tentang masa-masa muda mereka.


"Sangat disayangkan ya, aku waktu itu tidak hadir dalam pernikahanmu. Padahal tadinya aku ingin ngado sendal jepit sebelah," kelakar tante Anjani saat mereka selesai makan malam.


"Yaelah, sendal jepit. Kalau sebelah juga banyak noh di belakang rumah. Tapi aku juga dulu sudah nyiapin kado buat kamu, yaitu obat perangsaang," kelakar tante Inggit dan langsung dibalas tawa oleh tante Anjani.


Sementara Amanda hanya menahan senyumnya sambil menggelengkan kepala, karena melihat kebobrokan dari dua wanita yang umurnya sudah tak mudah lagi.


"Nggak usah dikasih obat juga aku masih kuat," Timpal Om Umar.


Semua orang yang ada di sana pun tertawa terbahak-bahak, karena candaan demi candaan yang begitu bobrok keluar dari mulut kedua orang tua Amanda maupun dari mamanya Ethan.


Rasanya sudah lama sekali Amanda tidak melihat tawa itu di wajah sang mama, dan setelah beberapa saat mereka menghentikan candaannya.


"Ya sudah, kalau gitu kita ke ruang keluarga sekarang yuk!" ajak tante Inggit dan langsung dibalas anggukan oleh tante Anjani dan juga Om Umar.


Amanda masih belum sadar dan juga belum mengerti arti dari ucapan tante Inggit yang mengajak mereka untuk ke ruang keluarga, karena dia pikir itu hanyalah obrolan biasa saja antara para sahabat.


Akan tetapi l, ternyata ada sesuatu hal kejutan yang akan diberikan untuk Amanda.


Sesampainya di sana, suasana terasa hening. Tante Inggit, tante Anjani dan juga Om Umar seketika menatap ke arah Amanda, membuat wanita itu merasa heran karena dia merasa suasana di sana terasa mencekam.


'Kenapa vibesnya terasa begitu berbeda ya?' batin Amanda.


"Amanda, sebenarnya acara ini bukan hanya makan malam biasa saja. Namun ada hal yang ingin kami bicarakan sama kamu Nak," ujar tante Inggit sambil menatap ke arah wanita yang saat ini sudah bergelar menjadi janda.


"Soal apa itu, Tante?" jawab Amanda dengan penasaran.


"Kalau itu biar orang tua kamu saja yang menjelaskan." Tante Inggit memberikan ruang kepada tante Anjani maupun Om Umar untuk berbicara secara langsung kepada putri mereka.


Karena walau bagaimanapun, dua orang itu adalah kedua orang tua Amanda. Jadi mereka yang mempunyai ruang lebih banyak dan mempunyai wewenang atas apa yang akan disampaikan kepada Amanda.

__ADS_1


Sementara perasaan Amanda sudah tak enak, dia merasa akan ada sesuatu hal yang tadi inginkan akan terjadi. Dan entah kenapa, seketika pikirannya tertuju kepada satu kata, yaitu perjodohan.


"Begini sayang, mama tahu mungkin kamu masih sangat trauma dengan rumah tangga, dengan kata pernikahan. Tapi, kita sebagai wanita tidak mungkin sendiri terus-menerus? Kita ini butuh pendamping hidup. Waktu terus berjalan, kamu juga sudah lewat masa iddahnya dari Darius jadi Mama beserta Papa berencana untuk menjodohkan kamu dengan Ethan. Karena dia jomblo dan kamu juga jomblo, jadi tidak ada salahnya jika kalian bersama," ucap tante Anjani dengan hati-hati.


DEGH!


Seketika jantung Amanda berdebar saat mendengar penjelasan dari sang mama. Perkiraannya ternyata tidak meleset, bahwa dia akan dijodohkan bersama dengan Ethan.


Mata wanita itu langsung tertuju kepada pria tampan yang sedang duduk di hadapannya. Amanda bahkan tidak menampik jika Ethan sangat tampan, bahkan bisa dibilang dia mampu untuk menjadi rebutan para wanita. Akan tetapi, hatinya masih belum siap untuk menerima sebuah perasaan cinta kembali.


Bayang-bayang penghianatan Fitri dan Darius terus saja berputar di kepalanya. Walaupun Amanda sudah berusaha untuk menjalani hidupnya seperti biasa, akan tetapi penghianatan itu menorehkan sebuah luka yang mengakibatkan trauma terhadap sebuah ikatan pernikahan dalam diri Amanda.


"Tapi Mah, Pah. Tuan Ethan ini belum pernah menikah, sedangkan aku sudah bergelar menjadi seorang janda. Apa kata orang-orang, jika Tuan Ethan menikah dengan seorang janda Mah, Pah, Tante? Maaf bukan aku menolak, hanya aku tidak ingin kalian malu dengan statusku," jawab Amanda.


Tante Inggit tersenyum, kemudian dia menatap ke arah Amanda dengan lekat. Tak pernah sedikitpun dia memandang wanita itu sebagai seorang janda, karena dia pun sama.


"Apa kamu lupa kalau Tante juga seorang janda? Bagi tante, janda itu bukanlah sebuah kotoran, bukan sebuah garis besar yang membuat kita malu. Janda itu pilihan, namun bukan berarti seorang janda vibesnya sangat buruk bukan? Ethan tidak pernah memandang statusmu, begitu pula dengan tante. Jadi kami tidak mendengarkan ocehan orang lain, karena surga tidak lewat rumah mereka bukan," jelas tante Inggit dengan bijak.


Amanda terdiam, dia bimbang apakah harus menerima perjodohan itu atau tidak. Tapi Amanda belum mempunyai rasa apapun kepada Ethan, walaupun sudah beberapa bulan mereka dekat dan sering bersama. Akan tetapi belum ada rasa di hati Amanda, sebab selama itu dia menutup hatinya.


Melihat keterdiaman wanita itu, Ethan pun membuka suara, "Jika kamu belum siap, maka kita jalani dulu selama 2 bulan. Jika selama itu kamu masih belum mempunyai rasa sama aku, maka aku akan mundur. Tapi jika dalam 2 bulan itu kamu sudah ada rasa, kita akan langsung melakukan lamaran, bagaimana?"


Amanda menatap lekat ke arah Ethan saat mendengar penuturan dari pria itu, di mana dia memberikan pilihan kepada Amanda. Dan wanita itu pikir apa yang dikatakan Ethan ada bagusnya.


Semua orang di sana tersenyum bahagia dan lega saat mendengar keputusan Amanda, termasuk tante Anjani dan juga Om Umar. Karena kebahagiaan putrinya bagi mereka sangat penting.


"Mama berharap, kamu dan Ethan memang bersama. Dan kamu jangan pernah menutup hatimu selama pendekatan itu! Kamu juga harus membukanya, karena cinta tidak akan pernah masuk jika kamu bersikukuh untuk menutupnya," ujar tante Anjani sambil memeluk tubuh putrinya.


Amanda mengangguk, dia sejujurnya masih ragu dengan keputusan yang diambilnya sekarang. Akan tetapi Amanda tidak ingin mengecewakan kedua orang tuanya, dia juga mengenal Ethan selama ini sangat baik walaupun belum mengenalnya secara penuh.


.


.


Sementara di kediaman Amanda, seorang pria baru saja turun dari mobil sambil membawa buket bunga di tangannya.


Dia mengetuk pintu, setelah itu pintu utama terbuka dan ternyata yang membukanya adalah seorang pelayan.


"Malam Tuan siapa?" tanya pelayan itu.


"Malam, apa Amanda nya ada di dalam?" tanya Akmal.


"Maaf Tuan, Nona muda beserta dengan Nyonya dan tuan besar sedang keluar makan malam," jawab pelayan tersebut.

__ADS_1


"Keluar makan malam? Apa mereka masih lama?"


"Kalau itu saya tidak tahu Tuan. Apa mau ada yang disampaikan?"


Akmal terdiam, dia sedikit kecewa karena pas datang ke sana tidak ada Amanda. Padahal niatnya Akmal ingin bertemu dengan Amanda dan kedua orang tuanya untuk memulai pendekatan demi mendapatkan wanita itu.


"Ah tidak, saya titip ini ya untuk Amanda. Bilang saja dari Akmal! Kalau begitu saya pamit dulu." Pria itu pun pergi masuk ke dalam mobil meninggalkan kediaman Amanda.


Padahal tadinya Akmal berpikir bahwa dia bisa bertemu dengan wanitanya, tapi ternyata tidak.


.


.


Sesampainya di rumah, Amanda dan juga tante Anjani serta Om Umar pun langsung masuk. Namun saat Amanda akan menaiki tangga, tiba-tiba seorang pelayan menghentikan langkahnya


"Maaf Nona muda, ini ada bunga." Pelayan tersebut memberikan satu buket bunga kepada Amanda.


"Dari siapa Bi?" bingung wanita itu.


"Tadi ada pria ke sini nyariin Nona Amanda, tapi bibi bilang kalau Nona lagi keluar makan malam sama nyonya dan Tuan. Dan kalau tidak salah nama pria itu adalah Akmal."


"Akmal?"


'Jadi tadi ke Akmal ke sini.' batin Amanda. "Ya sudah Bi, terima kasih ya." Wanita itu pun melanjutkan jalannya menuju kamar.


Dia menaruh buket bunga di atas ranjang, kemudian mencari kertas, akan tetapi tidak ada. Amanda pikir Akmal akan menyelipkan pesan di dalam buket bunga tersebut


"Buket bunga ini kok sama ya sama yang tadi siang dikirim ke butik? Apa pengirimnya juga Kak Akmal?" gumam Amanda dengan bingung.


Dia berencana akan menelpon Akmal, akan tetapi tiba-tiba hp-nya lowbat. Jadi Amanda mengecasnya dan akan menelpon pria itu pagi hari.


.


.


Di kediaman Tante Dina, saat ini Alea sedang berdiri di balkon kamar menatap gelapnya langit yang diterangi oleh bintang dan bulan.


Wanita itu merindukan kedua orang tuanya satu tangan mengusap perut karena Alea masih tidak menyangka jika sebentar lagi dia akan menjadi seorang ibu.


'Ibu, ayah, sebentar lagi Alea akan menikah. Apa kalian melihatnya di atas sana?' batin Alea.


Kemudian sebuah tangan melingkar di perut wanita itu, membuat Alea seketika menjerit karena kaget. Namun yang membuatnya semakin syok adalah, saat tiba-tiba tubuhnya melayang dan digendong masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


BERSAMBUNG.....


__ADS_2