
Tolong Bijaklah Berkomentar ya guys🙏🏻Sebab ini adalah kisah nyata🙏🏻Happy reading....
Jangan Lupa mampir ya All🙏🏻😘Judulnya : The Love Story of Mandalika Queen.
Jika tidak ketemu, maka carilah dengan nama author ya: aisyah az
Di sebuah rumah yang tidak terlalu mewah, seorang gadis cantik berambut sebahu sudah bersiap memakai seragam sekolahnya, dan saat ini dia sedang menyantap sarapan.
"Oh ya sayang, pulang sekolah nanti Abi tidak bisa menjemput kamu. Sebab Abi ada kerjaan dakwah di desa sebelah," ucap Abi Damar.
"Iya Bi, tidak papa, nanti Amelia pulang naik angkot saja," jawab gadis cantik tersebut.
Quinara Amelia Kusuma, seorang gadis cantik yang berusia 14 tahun, dan kini dia bersekolah kelas 2 SMP. Gadis itu memiliki paras yang sangat rupawan, hidung mancung, bibir mungil tipis berwarna pink, mata bulat dengan bulu mata yang lentik, alis tebal dan pipi sedikit merona merah. Amelia juga memiliki rambut sebahu berwarna hitam legam, membuat kecantikannya benar-benar tidak tertandingi.
Setelah menghabiskan sarapannya, Amelia bersama Abi Damar pun menaiki motor dan melaju meninggalkan rumah menuju sekolahan di mana gadis tersebut menempuh pendidikan.
Setelah menempuh perjalanan 30 menit, mereka pun sampai. Kebetulan sekolahan Amelia bersebelahan dengan sekolahan SMK non muslim.
"Ya sudah, kalau begitu Amel masuk dulu ya Abi. Abi hati-hati di jalan, jangan ngebut-ngebut bawa motornya!" pesan Amelia sambil mencium tangan sang ayah.
"Iya, kamu juga belajar yang rajin ya! Ingat, setelah pulang sekolah langsung pulang ke rumah! Jangan mampir ke mana-mana!" ucap Abi Damar, dan Amelia langsung menganggukkan kepalanya.
Kemudian Abi Damar meninggalkan sekolahan tersebut, menuju desa sebelah di mana dia akan mengajarkan dakwah.
.
.
Jam istirahat telah berbunyi, saat ini Amelia sedang berada di perpustakaan bersama temannya yang bernama Nayla. Kebetulan mereka adalah sahabat dari awal masuk ke sekolah itu.
"Oh ya Lia, nanti kamu mau ikut aku nggak?" tanya Nayla.
Dia biasa memanggil Amelia, dengan sebutan Lia.
"Ikut ke mana?" tanya Ameli sambil menatap ke arah Nayla sekilas, kemudian dia kembali membaca bukunya.
__ADS_1
"Pulang sekolah nanti, aku mau ke cafe. Biasa nongkrong, buat ngerjain tugas sekolah. Kamu mau ikut nggak?" tanya Nayla kembali.
"Kayaknya nggak deh. Soalnya tadi Abi sudah pesan, aku suruh pulang lebih awal. Jadi maaf ya Nay." Amelka berkata dengan nada tak enak, karena menolak ajakan sahabatnya.
"It's okay, no problem! Aku ngerti kok. Kamu memang anak yang berbakti. Aku kagum banget sama kamu," tutur Nayla.
Amelia yang mendengar itu pun hanya tersenyum tipis, kemudian mereka membaca bukunya kembali.
Memang Amelia terkenal sebagai anak yang baik, ramah tamah, dan dia juga berbakti kepada orang tuanya. Itu yang menjadi poin plus untuk Amelia. Di mana zaman sekarang banyak sekali anak muda yang membangkang terhadap orang tuanya, akan tetapi dia malah menurut.
Dia juga sering mendengarkan ceramah, jika seorang anak harus berbakti kepada orang tuanya, selagi itu berada di jalan kebenaran. Apalagi Amelia anak perempuan.
Selepas pulang sekolah, terlihat awan begitu mendung, sepertinya langit sebentar lagi akan menurunkan hujan dan sepertinya akan cukup deras.
Amelia berhenti di halte yang berada tak jauh dari sekolahannya. Di mana biasanya semua anak sekolah menunggu bis ataupun angkot di halte tersebut. Dan terlihat rintik-rintik hujan mulai turun membasahi bumi.
Dan semakin lama semakin deras, membuat Amelia sedikit meringis kedinginan. Apalagi dia lupa tidak membawa jaket ataupun payung. Sementara angkutan yang ditunggu Amelia pun tidak kunjung lewat.
Tiba-tiba saja ada seorang siswa yang juga sedang menunggu bis, dan saat Amelia melihat ke arah samping, ternyata siswa itu menempuh ilmu di samping sekolahannya Navulia.
"Adik manis, kenapa kamu sendirian? Teman-temanmu mana?" tanya pemuda tampan tersebut.
Sejenak pria itu terpana melihat senyuman Amelia, apalagi rambut gadis tersebut tertiup angin, sehingga membuat kecantikannya berkali-kali lipat.
Lalu pemuda tampan itu membuka jaket yang dia pakai, dan memberikannya kepada Amelia. "Pakailah! Udaranya sangat dingin," ujar pemuda itu.
"Tidak usah, Kak, terima kasih! Nanti kakak juga kedinginan," ujar Amelia.
Mendengar itu, pemuda tersebut malah terkekeh, "Aku ini pria, sudah biasa kedinginan. Oh ya, nama aku Cakra Bahuwirya. Kamu bisa memanggilku dengan Cakra!" Pemuda tersebut memperkenalkan dirinya sambil mengulurkan tangan kepada Amelia.
Gadis itu pun menjabat tangan Cakra, "Namaku Quinara Amelia Kusuma. Kakak bisa memanggilku Amel."
"Wah! Nama kamu sangat cantik, secantik orangnya. Boleh ku tahu, kenapa nama kamu begitu sangat cantik? Apa artinya?"
"Abi dan Umi memberiku nama tersebut, yang berarti adalah, bunga yang selalu bersinar bagaikan bintang, dan wanita yang begitu cantik penuh pesona," tutur Amelia.
__ADS_1
"Sepertinya Abi dan Umi kamu memang cocok memberikan nama itu, karena parasmu juga sangat cantik. Apalagi senyumanmu begitu manis," jujur Cakra sambil menatap ke arah Amelia.
"Tetapi, aku lebih suka memanggilmu dengan sebutan Queen. Karena itu lebih cocok untukmu!" Amelia hanya tersenyum dengan anggukan kecil.
Tak lama angkot yang ditunggu Amelia pun datang, kemudian dia berpamitan kepada Cakra. Sedangkan pemuda itu hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya, sambil menatap kepergian Amelia.
.
.
Semenjak pertemuannya dengan Cakra, mereka berdua kian dekat. Setiap hari mereka selalu bertemu, ditambah sekolah keduanya pun berdampingan, membuat Cakra dan juga Amelia Intens untuk berinteraksi satu sama lain.
Tidak terasa 2 tahun telah berlalu, kedekatan keduanya sudah semakin lengket. Mereka berdua menjalin persahabatan. Akan tetapi, kedua orang tua Amelia pun tidak tahu jika putrinya menjalin persahabatan dengan seorang non muslim.
Karena bagi Amelia, mempunyai sahabat itu tidak harus sesama agama. Beda agama juga bisa menjalin persahabatan, asalkan mereka bisa menjaga perdamaian dan tidak merendahkan agama mereka satu sama lain.
"Queen, besok adalah hari kelulusanku. Apakah kamu mau datang ke Taman Maheswari? Aku akan menunggumu di sana," ucap Cakra saat berada di halte.
"Iya Kak, aku akan datang," jawab Amelia sambil tersenyum manis.
Cakra yang melihat itu pun mengacak rambut Amelia dengan gemas. Setiap melihat senyuman manis dari gadis yang ada di hadapannya, membuat Cakra terbuai. Perasaan yang awalnya tidak ada, kini menjadi ada. Perasaan sayang, namun bukan hanya sekedar sahabat. Namun, lebih dari itu.
Tapi ada raut kesedihan di wajah Cakra, saat mengingat sesuatu yang membuatnya menatap Amelia dengan wajah yang sendu.
"Kak Cakra, kenapa kok wajahnya kayak sedih gitu? Harusnya senang dong, besok Kakak udah lulus SMA, terus udah mau kuliah juga. Tapi ngomong-ngomong, Kak Cakra mau lanjutin Kuliah di mana?" tanya Amelia dengan penasaran.
"Kakak mau---"
TIN! TIN! TIN!
Ucapan Cakra terhenti, saat klakson angkot yang ditunggu Amelia sudah berhenti di hadapan halte. Gadis itu pun segera pamit kepada Cakra, karena hari juga sudah mulai sore, dan dia tidak mau abi serta Uminya merasa cemas.
"Ya sudah, kalau gitu aku pamit pulang dulu ya, Kak. Besok selepas kenaikan kelas, kita bertemu di taman," ucap Amelia, kemudian dia masuk ke dalam angkot.
Memang Amelia saat ini kelas 3 SMP, dan besok juga hari kelulusannya. Sedangkan Cakra kelas 3 SMA.
__ADS_1
'Aku harap, aku bisa menyampaikannya kepadamu, Queen. Tapi entah kenapa, hatiku merasa sakit.' batin Cakra sambil menatap kepergian angkot itu yang semakin jauh meninggalkan halte.
BERSAMBUNG.....