
Happy reading....
Om Samuel dan juga Haris seketika berjalan ke arah ruangan Darius, dan melihat itu tentu saja Kim sangat panik.
"Tuan tunggu!" teriak Kim menghentikan langkah kedua pria tersebut.
"Kenapa, Mbak Kim?" tanya om Samuel dengan heran.
"Tuan, maaf jika saya menghadang, tapi Tuan Darius di dalam sedang ada tamu penting. Jadi saya harus menanyakannya terlebih dahulu."
Haris dan juga Om Samuel merasa heran saat mendengar jawaban Kim. Biasanya mereka dengan bebas masuk ke dalam ruangan Darius tanpa harus diberitahukan terlebih dahulu.
"Kenapa harus minta izin dulu? Saya ini papanya, dan biasanya tidak papa jika kami masuk tidak harus meminta izin, kecuali kami adalah kliennya," jawab Om Samuel dengan gelengan kepala.
Kemudian dia melanjutkan kembali jalannya bersama dengan Haris, dan saat di depan pintu lagi-lagi Kim menghadang.
"Maafkan saya Tuan, tapi Tuan Darius di dalam---"
"Jangan menghalangi saya, Mbak Kim! Saya hanya ingin bertemu dengan anak saya!" Kali ini Om Samuel terdengar begitu tegas.
Kim yang mendengar nada bicara dari pria itu pun hanya bisa menundukkan kepalanya, kemudian dia mundur beberapa langkah. 'Mampus! Kali ini kerjaanku menjadi taruhannya, gimana ini?' batin Kim yang merasa ketakutan.
Sementara Haris merasa heran saat melihat raut wajah dari Kim. Entah kenapa dia merasa wanita itu tengah menyembunyikan sesuatu.
Kemudian Om Samuel dan Haris masuk ke dalam ruangan Darius, dan melihat pria itu tengah duduk sambil memainkan laptopnya.
Haris dan juga Om Samuel menatap satu sama lain, mereka merasa heran sebab Kim mengatakan jika di dalam ruangan tersebut sedang ada tamu.
'Kenapa di sini tidak ada siapa-siapa? Tadi Mbak Kim bilang jika Kakak sedang ada tamu. Kenapa aku merasa ada yang aneh ya? Dan sepertinya Mbak Kim menyembunyikan sesuatu dari aku dan Papa?' batin Haris bertanya-tanya.
"Darius?" panggil Om Samuel.
"Papa! Haris! Kalian kok ke sini nggak ngabarin aku dulu?" tanya Darius dengan kaget, tepatnya pura-pura kaget.
Kemudian dia berjalan ke arah sang Papa, lalu mencium tangannya dan mempersilahkan kedua pria itu untuk duduk di sofa.
Namun tatapan Haris merasa heran saat melihat dua porsi makanan yang tersedia di atas mejandan sama sekali belum tersentuh, kemudian dia menatap ke arah Darius.
'Sepertinya ada tamu tadi? Apa benar yang dikatakan Mbak Kim? Tapi jika memang di sini ada tamu, seharusnya orangnya masih ada?' batin Haris.
__ADS_1
"Ini makanan siapa? Kok ada dua porsi, Kak?" Tanya Haris memberanikan diri.
Pria itu terlihat gelagapan, namun dia segera menetralkan raut wajahnya kembali. "Oh, ini tadi aku nelpon Amanda buat makan siang bersama, tapi nggak jadi. Padahal aku udah pesan makanan, jadi ya paling nanti dikasih sama OB aja," jawab Darius.
"Oh." Haris hanya membulatkan bibirnya saja.
"Papa dan juga kamu, ngapain ke sini? Tumben kalian datang ke sini nggak ngabarin aku?" tanya Darius mengalihkan pembicaraan.
"Kami ke sini hanya ingin berbicara soal bisnis saja, karena kan sudah lama juga kita tidak kumpul kayak gini dan membicarakan soal pekerjaan. Jadi Papah dan juga Haris sengaja datang ke sini diam-diam untuk memberikan surprise, juga agar kamu juga tidak terlalu fokus untuk pekerjaan terus-menerus, sesekali harus sharing kan dengan keluargamu," ujar Om Samuel.
Darius menganggukan kepalanya, kemudian mereka pun berbicara soal bisnis. Namun terlihat dari raut wajah Darius jika dia seperti seseorang yang ketakutan dan gelisah.
Tatapannya sedikit demi sedikit terus mengarah kepada meja, seperti ada sesuatu hal yang disembunyikan di sana.
Jelas aja Darius ketakutan, sebab di kolong meja kerjanya saat ini Fitri tengah bersembunyi, karena dia takut jika nanti akan ketahuan oleh mertua dan suaminya.
'Ya ampun! Mas Haris sama Papa ngapain sih ke kantornya Mas Darius nggak bilang-bilang. Kalau sampai mereka tahu aku ada di sini, bagaimana? Bisa-bisa ketahuan kalau aku sama Mas Darius selama ini main api.' batin Fitri yang merasa gelisah.
Setelah 30 menit Om Samuel dan Haris memutuskan untuk kembali ke kantornya masing-masing, setelah membicarakan beberapa hal penting tentang pekerjaan.
Namun saat Haris akan keluar dari sana, tiba-tiba dia melihat ada sepatu wanita yang tergeletak di samping meja kerja milik sang kakak.
Pria itu pun berjalan menuju meja tersebut, dan Darius yang melihat itu pun sedikit panik karena takut jika Haris mengetahui tentang keberadaan Fitri yang tengah bersembunyi di bawah kolong meja kerjanya.
"Ini Kak. Ini sepatu perempuan siapa ya? Kok bisa ada di sini?" tanya Haris dengan tatapan menyipit.
Om Samuel juga menatap ke arah sepatu tersebut, kemudian dia melihat ke arah Darius. "Itu sepatu siapa, Nak?"
Wajah pria itu menjadi gugup. 'Aduh, kenapa aku ceroboh sekali. Seharusnya aku tadi menyembunyikan sepatu itu. Aku harus jawab apa ini.' batin Darius yang memikirkan tentang jawaban yang pas untuk pertanyaan 2 pria yang berada di hadapannya.
"Darius?" panggil Om Samuel saat melihat putranya hanya diam saja.
"I-itu Pah, sepatu yang aku belikan untuk Amanda. Tapi rasanya kurang cocok, jadi rencananya aku mau membuang sepatu itu. Tapi sayang, mungkin nanti akan aku kasih ke Kim," jawab Darius sambil tersenyum canggung.
"Oh, Papa kira di sini ada perempuan," ujar Om Samuel dengan lega.
"Hah! Perempuan? Masa sih? Papa ada-ada aja. Nggak mungkin lah, masa aku masukin perempuan ke sini." Darius tertawa dengan hambar.
Kemudian Om Samuel berjalan ke arah Darius, lalu menepuk pundaknya. "Jangan sampai karena kamu dan juga Amanda belum memiliki momongan, menjadikan itu alasan untuk kamu bermain api di belakangnya. Karena kalau sampai hal itu terjadi, papa akan sangat kecewa sama kamu. Begitupun kamu Haris. Kalian adalah kepala keluarga, pria seharusnya melindungi wanita, bukan malah menyakitinya. Sebab Papa tidak pernah mengajarkan kalian untuk menyakiti seorang perempuan, dan Ingat pesan papa baik-baik ya! Jika kalian berani menghianati istri kalian, maka papa akan mencoret kalian dari daftar waris dan juga kartu keluarga! Karena Papa tidak ingin memiliki anak yang tega menghianati istrinya. Apalagi Amanda wanita yang baik," jelas Om Samuel panjang lebar.
__ADS_1
DEGH!
Jantung Darius dan juga Fitri berdebar dengan kencang, saat mendengar penjelasan dari pria paruh baya tersebut.
Darius menatap lekat ke arah sang papa, saat mendengar penjelasannya. Dia merasa ketakutan, bukan karena hak waris yang dicoret saja, tetapi kekecewaan sang Papa kepada dirinya.
"Papa tenang aja, Haris tidak akan menghianati Fitri. Karena selain Haris sangat mencintainya, kami juga akan segera memiliki anak," ucap Haris.
'Tapi itu anakku!' timpal Darius dalam hati.
"Iya Pah, Darius juga tidak akan menyakiti Amanda, karena aku juga sangat mencintainya. Walaupun kami belum memiliki anak, tapi bukan berarti menjadikanku untuk selingkuh darinya," dusta Darius sambil tersenyum tipis.
Sementara Fitri merasa panas saat mendengar penuturan dari pria yang ia cintai, sementara hatinya merasa bersalah saat mendengar jawaban Haris yang begitu tulus mencintai dirinya.
'Maafkan aku Mas Haris, jika aku telah mengotori Cinta kita dan aku telah menduakanmu serta menghianatimu. Tapi aku tidak pernah mencintaimu mas. Aku mencintai Mas Darius. Dan maaf jika aku berbohong kalau anak yang ku kandung adalah darah dagingmu, melainkan anak ini adalah anaknya Mas Darius.' batin Fitri sambil mengusap perutnya.
"Syukurlah! Papa merasa lega. Ya sudah Haris, ayo kita kembali ke kantor! Papa juga sebentar lagi ada meeting nih bersama klien yang dari Filipina," ucap Om Samuel sambil mengajak Putra keduanya.
Kemudian Haris dan juga Om Samuel pun pamit kepada Darius, dan pria itu mengantarkannya sampai ke pintu. Setelah melihat kedua pria tersebut masuk ke dalam lift Darius segera kembali ke ruangan.
Dia melihat Fitri terduduk di kursinya sambil memegangi lututnya yang terasa keram, karena sejak tadi ditekuk terus-menerus hampir satu jam.
"Sayang, maaf ya kamu pasti kesemutan karena berada di sana," ucap Darius sambil memijit kaki Fitri.
"Ya pasti dong sayang. Kamu bayangin aja, hampir 1 jam aku ngumpet di situ. Mau bersin aja aku tahan tadi, coba kalau aku keceplosan bersin bisa ketahuan kita," jawab Fitri sambil memanyunkan bibirnya.
Kemudian dia membiarkan Darius untuk memijit kakinya, namun Fitri teringat dengan kata-kata dari Papa mertuanya. Jika benar Darius berselingkuh maka pria itu akan dicoret dari hak waris.
"Mas. Apa kamu tidak takut dengan ancamannya papa?" tanya Fitri.
Darius menatap ke arah wanita yang ia cintai, kemudian memegang kedua pipinya. "Kenapa harus takut? Hanya karena aku dicoret dari hak waris?" tanya Darius dan Fitri langsung menganggukkan kepalanya.
"Iya, sejujurnya aku juga takut, cuma mau gimana lagi. Kita harus bermain cantik sampai warisan itu turun, dan jangan sampai Papa atau siapapun mengetahui semuanya. Dan kita juga harus bermain dengan rapi dan aman," ujar Darius.
Fitri mengangguk, kemudian dia memeluk tubuh pria itu.
Dia juga tidak ingin jika Darius bangkrut dan tidak mendapatkan hak waris, karena selain mencintai pria itu, Fitri juga menginginkan harta dari keluarga Darius. Sebab karena Darius adalah anak pertama, jadi sudah pasti hak waris lebih besar kepada dirinya.
Begitu pula dengan Darius, dia juga ketakutan saat mendengar ucapan sang papa, karena perusahaannya belum seberapa dengan perusahaan Laksono Group. Sebab itu adalah perusahaan terbesar nomor 7 di Asia.
__ADS_1
'Aku harus mendapatkan hak waris itu terlebih dahulu, baru hubunganku dengan Fitri akan diumumkan. Karena aku tidak ingin berpisah lagi darinya.' batin Darius.
BERSAMBUNG....