
Happy reading.....
Sesampainya Amanda di rumah, dia langsung naik ke lantai atas dan membersihkan diri. Wanita itu juga langsung memakan makanan yang tadi dibungkusnya dari luar, karena perutnya sangat lapar.
Tante Anjani yang baru saja keluar dari kamar merasa heran, karena Amanda baru pulang dan sedang makan. Dia pikir tadi Putrinya sudah makan di butik.
"Kamu kok baru pulang sayang? Terus kenapa baru makan? Biasanya juga kamu telat-telat jam 07.00 sudah makan?" tanya Tante Anjani dengan wajah yang bingung.
"Iya Mah, tadi aku ketemu sama Fitri di cafe pas aku lagi mau makan, jadi selera makan ku tiba-tiba hilang deh." Amanda berkata setelah meminum air putih di gelas.
"Hah! Fitri? Buat apa lagi dia menemui kamu?"
"Biasalah Mah, cuma ingin menyalahkan atas penderitaan dia yang sekarang, karena katanya Mas Darius tidak mendapatkan warisan sebagaimana haknya, dan itu semua gara-gara aku." Amanda mengangkat kedua bahunya.
Sementara tante Anjani yang mendengar itu malah terkekeh kecil sambil menggelengkan kepala. Dia tidak menyangka jika sudah membesarkan wanita yang menjadi duri dalam rumah tangga putrinya.
Tak pernah wanita itu sangka jika Fitri ternyata mempunyai sifat yang tidak memiliki pri-kemanusiaan, bahkan tidak memiliki rasa kasihan kepada saudaranya, walaupun mereka tidak sedarah.
"Padahal mama dari kecil mendidik dia agar kalian saling menyayangi, tapi ternyata hubungan darah itu memang sangat penting. Yang sedarah saja bisa selisih paham, apalagi bukan." Terlihat raut wajah sendu tante Anjani.
Amanda mengelus tangan mamanya yang berada di atas meja. "Jangan menyalahkan diri sendiri. Setiap manusia itu mempunyai karakternya masing-masing Mah, sekarang tinggal kita saja bagaimana untuk menjalani hidup kedepannya. Oh iya, rencana aku juga mau buka Kedai Coffee di daerah jakarta Utara, menurut Mama gimana?" tanya Amanda meminta pendapat dari mamanya.
"Kedai Kopi? Tumben kamu ingin buka seperti itu?"
"Ya nggak papa sih Mah, pengen ngelintir ke berbagai bisnis saja, karena kan aku lagi fokus untuk masa depan dulu," ujar Amanda.
__ADS_1
.
.
Pagi hari seperti biasanya Amanda sedang jogging di taman, namun saat dia sedang duduk di kursi untuk merilekskan otot-otot kakinya, tiba-tiba seseorang duduk di sampingnya, dan ternyata itu adalah Ethan.
"Pagi Ibu Amanda," sapa Ethan.
"Pagi. Jangan panggil Ibu, kalau kita lagi di luar! Panggil saja saya, Amanda. Lagi pula, kita tidak ada kerjasama," jawab Amanda.
"Oke. Kamu juga jangan panggil saya tuan! Panggil saja Ethan!" Amanda mengganggukan kepalanya.
Ethan memang sengaja jogging pagi ini untuk menemui Amanda, karena entah kenapa semenjak pertemuannya beberapa kali dengan Amanda, ditambah karakter wanita itu membuat Ethan seperti mempunyai daya tarik terhadapnya.
Amanda terlihat berpikir, namun juga dia penasaran dengan pertanyaan Ethan, karena biasanya jika ada pertanyaan seperti itu pasti akan mengajaknya untuk makan siang.
"Apa Anda akan mengajak saya makan siang?" tebak Amanda.
Ethan terkekeh saat mendengar ucapan wanita itu, dia tidak menyangka jika Amanda sangat peka. "Iya, aku ingin mengajakmu makan siang, apa bisa?"
Amanda manggut-manggut berpikir, kemudian dia membenarkan tali sepatunya. "Oke, nanti jam 01.00. Kamu tinggal kirim aja alamatnya nanti aku yang ke sana."
Ethan mengangguk, dan dia pun setuju. Karena hari juga sudah mulai siang, Amanda harus siap-siap untuk pergi ke butik, ditambah lusa juga dia harus ke Jakarta Utara untuk memanta pembukaan kedai di sana.
"Kamu nggak bawa mobil?" tanya Ethan.
__ADS_1
"Enggak. Tadi aku diantar sopir," jawab Amanda sambil melihat ke pinggir jalan untuk menyetop.
Ethan tersenyum di dalam hati karena itu adalah kesempatannya untuk mengantar Amanda pulang, lalu dia pun menawarkan untuk mengantarkannya, namun Amanda awalnya menolak. Akan tetapi Etalhan terus saja memaksa hingga pada akhirnya Amanda pun menganggukan kepala dan masuk ke dalam mobil Ethan.
'Yes! Akhirnya aku bisa mengantarkannya. Kenapa rasanya sesenang ini ya?' batin Ethan sambil tersenyum sumringah di dalam hati.
Mobil melaju meninggalkan taman untuk mengantar Amanda, namun sepanjang perjalanan wanita itu terus saja terdiam.
Etgan juga merasa grogi saat berada di dekat Amanda hanya berdua begitu saja. Dia bingung ingin bertanya apa, karena Amanda juga hanya diam membisu, membuat Ethan benar-benar dilanda kegelisahan.
Amanda melihat dari sudut ekor matanya jika sedari tadi Etan terlihat seperti orang yang sangat gelisah membuat dia benar-benar merasa heran.
"Maaf, kamu kenapa kok kelihatan gelisah gitu?" tanya Amanda sambil menoleh ke arah Ethan.
"Ge-gelisah? Ah, tidak. Itu hanya perasaanmu saja." Ethan menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal.
Padahal saat ini jantungnya sedang berdebar dengan keras, rasa yang tak pernah sekalipun dia rasakan walaupun saat bersama dengan Mona, padahal dulu Ethan sangat mencintai Mona, namun dia tidak pernah merasakan kegugupan itu.
'Astaga! Baru ini aku gugup di sebelah wanita. Ya ampun Ethan! Jangan sampai Amanda tahu kalau kamu gugup, bisa-bisa turun pamormu. Semua wanita mengejar-ngejarku, dan ingin memiliki ku, tapi hanya Amanda yang tidak terpesona dengan ketamananku. Apa iya aku tidak setampan itu?' batin Ethan sambil mengaca pada cermin yang ada di hadapannya.
Amanda semakin dibuat kebingungan melihat tingkah Ethan yang menurutnya sangat aneh, namun dia tidak berani menegur karena takut jika nanti akan menyinggung perasaan pria itu.
'Ethan kenapa sih aneh banget? Dari tadi kayak orang gugup terus gelisah gitu. Apa itu hanya perasaanku saja? Sampai harus ngaca. Emangnya ada kotoran ya? Bahkan lalat pun bisa kepleset kalau ada di wajah dia?' kekeh Amanda di dalam hati.
BERSAMBUNG.....
__ADS_1