
Happy reading....
Fitri pulang dengan hati yang kecewa. Sepanjang perjalanan dia terus saja merutuki Haris, karena pria itu menolaknya secara mentah-mentah di hadapan Alea.
Wanita tersebut merasa terhina, apalagi melihat Haris begitu agresif kepada Alea, membuatnya merasa tak suka. Hingga saat sampai di rumah, Fitri membanting tasnya dengan kesal.
"Tidak Mas Darius, tidak Haris, semuanya sama saja. Menjengkelkan!" kesal Fitri, namun seketika pikirannya terarah kepada seorang pria tampan yang dia temui beberapa bulan yang lalu.
"Oh iya, bagaimana dengan pria itu ya? Di mana aku bisa menemuinya lagi? Setelah aku melahirkan nanti, aku harus mendapatkannya. Tapi dia kenal dengan Kak Amanda? Benar-benar menjengkelkan!"
Fitri rencananya ingin mencari tahu tentang pria itu, yang tak lain adalah Ethan. Karena dia begitu sangat penasaran. Namun, karena kehamilannya yang semakin membesar, membuat Fitri seketika harus mengurungkan niatnya untuk sementara.
.
.
Malam ini Amanda tengah makan bersama dengan mama dan Papanya. Di sana tante Anjani memasak sop buntut kesukaan Amanda, karena wanita itu sangat menyukai masakan yang berbau kuah.
"Oh ya, sayang. Akmal itu teman kuliahmu waktu dulu kan? Kayaknya mama pernah bertemu beberapa kali deh sama dia." Tante Anjani membuka pembicaraan.
"Iya Mah, kak Akmal itu Kakak kelas aku waktu kuliah. Terakhir kami bertemu waktu wisuda dia, sebelum pindah ke Belanda," jawab Amanda.
Tante Anjani mengangguk, "Apa kamu mempunyai perasaan sama dia?"
UHHUK! UUHUK!
Amanda seketika tersedak makanannya sendiri, saat mendengar pertanyaan konyol dari sang mama.
Setelah menegak minuman yang ada di dalam gelas, wanita itu menatap ke arah mamanya dengan bingung. Namu, seketika dia tertawa kecil, karena Amanda pikir apa yang dikatakan Mamanya itu hal yang paling lucu.
Bagaimana mungkin dia bisa suka sama Akmal? Mereka saja baru bertemu satu hari setelah beberapa tahun tidak jumpa.
"Mama ini lucu banget sih. Masa iya aku suka sama Kak Akmal? Kita aja baru ketemu satu hari." Amanda menggelengkan kepalanya.
"Iya kan mana Mama tahu, kalau dulu kamu dan dia itu punya perasaan atau mungkin kalian pernah menjalin hubungan?"
Mendengar itu Amanda semakin terkekeh, dia tidak tahu kenapa Mamanya berpikir sampai sejauh itu. Padahal Amanda hanya menganggap Akmal sebagai kakaknya saja, tidak lebih. Karena mereka memang waktu kuliah sudah dekat, jadi Amanda tidak mempunyai perasaan apapun. Sebab kedekatan mereka hanyalah sebatas sahabat.
"Mama ini kalau ngomong suka ngaco deh. Kalau aku sama Kak Akmal punya hubungan, terus kenapa aku dulu nikahnya sama Mas Darius coba? Udah ah, Mamah malem-malam ngomongnya semakin ngelantur sih."
Sedangkan Om Umar hanya diam sambil mengamati kedua wanita yang sedang berdebat soal pria, yang sama sekali ia pun tidak tahu.
"Memangnya siapa Akmal? Kenapa dari tadi kalian meributkan pria itu?" tanya Umar pada akhirnya.
Kemudian tante Anjani pun menjelaskan siapa Akmal. Karena memang tadi Om Umar tidak ikut ke rumah sakit, sebab ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggal, jadi dia tidak bertemu dengan pria itu.
Setelah makan malam selesai, Amanda pun pamit ke kamar dia mengirimnpesan pada Lulu untuk menanyakan keadaan butik hari ini.
Lulu. (Gue masih di butik nih ngerjain desain. Mungkin sebentar lagi gue pulang).
Amanda. (Ya sudah, lo jangan lama-lama pulangnya! Soalnya ini udah malam, takut kenapa-napa. Ya ... kecuali lo dijemput sama Ayang Beb).
Lulu. (Ayang beb, pala lu peyang. Ogah gue dijemput sama kulkas 6 pintu! Mendingan sama cowok yang tadi pagi ada di rumah sakit, hehehe ...)
__ADS_1
Amanda. (Eh, mata tuh dijaga! Udah punya calon suami juga. Udah ah, gue mau istirahat. Besok lo urus butik ya, karena lusa gue baru masuk ke butik!)
Setelah berbalas pesan dengan Lulu, Amanda pun merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Dia mencoba untuk menutup mata setelah meminum obat. Akan tetapi, satu buah pesan masuk dan ternyata itu dari Ethan yang menanyakan tentang kabar keadaannya.
Amanda pun membalas pesan tersebut dan mengatakan jika dia sudah jauh lebih baik setelah itu tidak ada balasan lagi dari Ethan.
.
.
Lulu baru saja menyelesaikan pekerjaannya, kemudian dia menggerakkan lehernya ke kanan dan ke kiri, karena wanita itu terus saja menunduk untuk mendesain baju.
"Astaga! Lama-lama leher gue jadi bungkuk, dan mata gue jadi teleng. Jadilah julukan baru gue bulan wanita somplak lagi, tapi si WANTIL. Alias, wanita teleng, karena terus aja menunduk. Apa gue pakai gelang 10 tingkat ya di leher biar panjang gitu," gumam Lulu sambil meregangkan ototnya yang terasa pegal.
Jam sudah menunjukkan pukul 21.00 malam, wanita itu menghela nafas dengan kasar, kemudian dia menyambar tasnya untuk menuju parkiran.
Namun seketika lampu yang ada di butik itu tiba-tiba saja padam, membuat Lulu seketika menjerit histeris karena dia takut kegelapan.
"Aaagh!" Jerit Lulu, kemudian dia berlari tak beraturan hingga tubuhnya membentur sesuatu yang bidang dan kekar
"Kamu kenapa? Kamu nggak papa kan?" tanya seorang pria yang Lulu kenal itu adalah suaranya Rizal.
"Kulkas 6 pintu, itu kamu?" tanya lulu dengan panik.
"Iya, ini aku. Kamu kenapa, kok lampunya padam sih?" tanya Rizal dalam kegelapan, kemudian dia mengeluarkan ponselnya lalu menyalakan senter.
Lulu segera memeluk tubuh Rizal dengan erat, dia tidak peduli jika di antara mereka tak ada jarak sedikitpun, karena Lulu memang takut akan kegelapan.
Sementara Rizal yang tiba-tiba saja dipeluk oleh Lulu merasa deg-degan, jantungnya berdetak dengan kencang, hingga Lulu dapat mendengarnya dengan jelas karena suasana di sana sangat hening.
'Astaga! Kenapa jantung dia berdetak dengan sangat kencang? Apakah dia merasa deg-degan kalau dekat denganku? Bagaimana mungkin bisa si kulkas 6 pintu ini bisa seperti itu?' batin Lulu
Kemudian Rizal segera tersadar dari lamunannya, dia mengajak Lulu untuk keluar dari butik itu. Setelah mengunci pintu, lalu mereka pun masuk ke dalam mobil
Bukan hanya Rizal saja yang merasa berdebar, tetapi Lulu juga. Apalagi saat wanita itu mendengar secara langsung detak jantung dari pria yang akan menjadi suaminya.
"Kenapa kau diam saja?" tanya Rizal mencoba untuk menghilangkan kegugupannya.
"Tidak apa-apa, hanya saja, tadi kau seperti habis lari marathon. Perasaan yang ketakutan aku, tapi kenapa jantungmu yang berdebar dengan keras? Atau jangan-jangan ... kamu gugup ya saat aku memelukmu tadi hah?" Lulu menggoda Rizal sambil menaik turunkan alisnya.
Mendengar itu Rizal melengos, dia tetap memasang wajah datar. Tapi siapa yang tahu jika di dalam hatinya saat ini dia membenarkan ucapan Lulu.
'Kamu memang benar wanita somplak. Tapi gengsi sekali jika aku mengakui itu.' batin Rizal.
"Jangan mengada-ngada! Itu hanya perasaanmu aja. Jangan terlalu pede sangat tinggi, karena kalau kau jatuh, sakitnya itu tidak terhingga," jawab Rizal dengan cuek.
Lulu mendengkus kesal saat mendengar ucapan dari pria tersebut. Memudian dia menekuk wajahnya, melipat tangan di depan dada dan membuang pandangannya ke arah samping.
'Dasar kulkas, tinggal bilang iya aja, apa susahnya sih? Gengsian banget jadi cowok.' batin Lulu dengan kesal.
.
.
__ADS_1
Pagi hari Ethan sudah siap bersama dengan tante Inggit untuk pergi ke kediaman Amanda, karena tante Inggit semalam tahu dari Ethan jika Amanda kemarin masuk rumah sakit dan wanita itu akan menengoknya.
Sesampainya di sana, Ethan memencet bel. Tak lama pelayan membukakan pintu lalu mempersilahkan mereka untuk masuk.
"Pagi Anjani, Umar. Maaf ya kalau kami ke sini pagi-pagi sekali, soalnya aku kemarin mendengar dari Ethan kalau Amanda masuk rumah sakit. Di mana dia sekarang?" tanya Tante Inggit.
"Dia masih di atas, sebentar biar aku panggilkan ya," jawab Tante Anjani?
Kemudian dia pamit dari sana untuk memanggil Amanda, dan setelah beberapa menit wanita itu kembali bersama putrinya.
"Pagi Tante, Ethan," sapa Amanda. Kemudian dia mencium tangan tante Inggit.
"Pagi sayang. Bagaimana keadaan kamu? Kata Ethan kemarin kamu masuk rumah sakit ya? Makanya kalau kamu lagi nggak enak badanc tante saranin jangan memaksakan diri untuk bekerja. Karena kesehatan itu mahal harganya," ujar tante Inggit sambil mengusap kepala Amanda dengan lembut.
"Iya Tante, Amanda terlalu memaksakan. Maklum, sekarang Amanda sangat ingin memajukan bisnis."
Kemudian tante Anjani dan juga Om Umar mengajak Ethan serta tante Inggit untuk menuju meja makan, karena mereka akan melakukan sarapan bersama.
Ethan sedari tadi terus aja menatap ke arah wanita yang sudah mencuri hatinya, bahkan selama di meja makan pria itu terus saja mencuri-curi pandang ke arah Amanda. Dan tentu saja, perlakuan Ethan yang seperti itu tak luput dari pandangan tante Anjani Om Umar serta tante Inggit.
'Aduh! Ethan kenapa ya sedari tadi ngelirik aku terus? Aku kan jadi salting. Berasa kayak anak ABG yang lagi curi-curi pandang.' batin Amanda sambil mengunyah nasi gorengnya.
Dia tahu jika sedari tadi Ethan terus saja meliriknya, namun Amanda tidak ingin merespon, sebab di sana ada kedua orang tuanya juga orang tua Ethan.
Setelah sarapan pagi selesai, tante Inggit dan juga tante Anjani membuat puding di dapur. Sedangkan Om Umar pamit untuk ke kantor. Dan Ethan dengan Amanda duduk di kursi yang ada di taman.
"Apakah masih ada yang sakit?" tanya Ethan setelah mereka beberapa saat terdiam.
"Tidak, sudah jauh lebih baik. Sebenarnya aku ingin ke butik, cuma ya aku tidak ingin memaksakan. Jadi aku harus bedrest satu hari lagi di rumah," jawab Amanda tanpa menoleh ke arah Ethan.
Setelah itu keduanya sama-sama terdiam. Sejujurnya ada yang mengganjal di hati Ethan, dia ingin sekali menanyakan perihal Akmal kepada Amanda. Tapi takut jika wanita itu akan tersinggung.
Namun Etan benar-benar sangat penasaran, hingga akhirnya dia pun bertekad untuk menanyakannya.
"Oh ya, apa aku boleh bertanya sesuatu?"
"Boleh, apa itu?" jawab Amanda sambil melirik ke arah pria tampan yang sedang duduk di sebelahnya.
"Apakah kamu mempunyai hubungan atau perasaan dengan pria yang kemarin mengantarmu ke rumah sakit?" tanya Ethan pada akhirnya.
Amanda terdiam, kedua alisnya bertaut dengan tatapan menyipit ke arah Ethan. Entah kenapa dia merasa heran, karena tidak Ethan ataupun mamahnya, sama-sama menanyakan hal yang menurutnya begitu konyol.
Namun, yang membuat Amanda semakin heran adalah, kenapa Ethan menanyakan perihal itu? Padahal tidak ada hubungannya dengan dia.
"Memangnya kenapa kalau aku mempunyai hubungan atau perasaan dengannya?" tanya Amanda.
"Tidak apa-apa, hanya saja ..." Ethan menggantungkan ucapannya, membuat Amanda seketika menatapnya dengan penasaran.
BERSAMBUNG.....
Hay Man-teman🤗Author ada karya baru, judulnya:Membeli Rahim Adikku
Jangan lupa mampir ya😘Sebab di sana, insya Allah, Author akan adakan GIVEAWAY juga🤗Jangan lupa Baca sampai Bab terakhir ya, jangan di loncat²🙏🏻Sebab bisa menurunkan Retensi Author🤧
__ADS_1
Author tunggu jejak dan kehadiran kalian di sana😘😘