Rahasia With Ipar

Rahasia With Ipar
Tamu Tak Diundang 2


__ADS_3

Happy reading....


"Siaa Bi yang datang?" tanya Ethan kepada Bi Sarkiyem.


"Itu Tuan muda, nona Mona."


"Mona!" kaget Ethan.


Amanda yang sedang memberi makan ikan peliharaan Ethan pun seketika menoleh saat mendengar nama mantan dari calon suaminya.


"Usir saja dia, Bi! Aku tidak mau bertemu!" titah Ethan dengan raut wajah yang mulai dingin.


Saat dia mendengar nama Mona, Ethan seketika moodnya yang tadinya baik tiba-tiba menjadi kacau. Setiap mendengar nama mantannya, Ethan selalu terbayang dengan rasa sakit yang ditorehkan oleh wanita itu.


"Buat apa diusir?" ucap Amanda.


Ethan menatap ke arah calon istrinya dengan bingung, dia mengusir Mona karena takut jika wanita tersebut akan membuat keributan di Villa, dan di sana juga ada Amanda.


Tentu saja pria tersebut menghindari keributan antara dua wanita itu, karena dia sangat tahu bagaimana watak Mona yang tidak mau mengalah, dan pastinya Mona akan mencak-mencak dan malah menuduh Amanda yang tidak tidak.


"Biar dia tidak membuat keributan di sini," jawab Ethan.


"Biar saja. Kita samperin yuk! Aku mau tahu kenapa dia datang dan masih mengganggu kamu? Dan bagaimana bisa dia tahu kita ada di sini " Amanda pun merasa penasaran.


Kemudian Ethan mengangguk, karena apa yang dikatakan oleh wanita itu memang benar. Bagaimana bisa Mona ada di sana dan mengetahui tentang keberadaan mereka.


Saat keduanya akan menuju ruang tamu, mereka berpapasan dengan Mona yang akan menuju ke kolam renang.


Terlihat wajah Mona begitu terkejut saat melihat ternyata di sana tidak hanya ada Ethan, tetapi ada Amanda juga. Tadi dia hanya melihat mobil Ethan saja, namun tidak melihat jika adanya Amanda.

__ADS_1


"Buat apa dia di sini?" tunjuk Mona kepada Amanda, sementara wanita itu hanya menatapnya dengan cuek.


"Seharusnya saya yang bertanya pada Anda. Untuk apa kamu di sini? Lebih baik sekarang kamu keluar! Karena Villa ini tidak terbuka untuk orang seperti kamu." Ethan berkata dengan nada yang begitu tajam nan dingin.


Mona berjalan mendekat ke arah Ethan, kemudian merangkul lengan pria itu. "Ayolah sayang jangan seperti itu! Kamu kan sering mengajak aku ke sini dan kita sering berdua di sini. Tqpi kenapa sekarang ada dia?" Mona menatap tak suka ke arah Amanda.


"Lepas! Jangan berani-berani menyentuhku! Itu hanyalah masa lalu, apa kamu tidak bisa move on dariku? Kamu yang menyakitiku, sekarang kamu malah mengejar-ngejarku? Apa pria yang sudah kamu pilih itu, tidak bisa membahagiakanmu? Sayangnya, penyesalan memang selalu datang terakhir. Jika di awal namanya pendaftaran."


Mona tidak memperdulikan ucapan dan sindiran yang Ethan berikan. Dia mencoba untuk terus merayu pria itu, karena Mona tidak ingin jika dia kehilangan Ethan untuk kedua kalinya.


Amanda yang sejak tadi diam menonton, merasa geram ketika melihat sikap Mona yang begitu murahan. Mengingatkannya kepada Fitri yang tega menggoda suaminya.


Kemudian dia menarik tangan Ethan lalu menggenggam lengan pria itu dengan manja, membuat Ethan tersentak kaget dengan perilaku agresif Amanda


"Kamu itu wanita yang tidak tahu malu ya! Ethan ini adalah calon suamiku, dan sebentar lagi kita akan menikah. Kamu sudah menyakitinya menyelingkuhinya, dan meninggalkannya. slSekarang kamu malah mengemis-ngemis seperti wanita murahan?" telak Amanda.


Mona yang mendengar itu pun tidak terima, dia berjalan ke arah Amanda dan hendak menampar wajah wanita itu, akan tetapi ditahan oleh Ethan.


"Sudahlah sayang, sebaiknya kita pergi dari sini. Aku rasanya tidak kuat, hawanya panas." sindir Amanda sambil bergelayut manja di leher kekar pria itu.


Mona semakin kepanasan saat melihat Amanda dengan berani mengalungkan tangannya di leher Ethan, di mana ia tak pernah melakukannya dulu saat bersama dengan pria tersebut.


Jantung Ethan seketika berdetak dengan kencang, begitu pula dengan Amanda. Tatapan keduanya terkunci satu sama lain, karena Amanda benar-benar merutuki kebodohannya sudah berbuat selancang itu kepada Ethan.


Dia hendak melepaskan tangannya dan pelukannya pada tubuh pria tersebut, akan tetapi tiba-tiba saja Ethan menarik pinggang Amanda hingga tubuhnya merapat. Kemudian dengan berani Ethan memegang tengkuk wanita itu lalu dia mendaratkan ciumaannya di bibir manis Amanda.


Membuat wanita tersebut terbelalak kaget dengan mata membulat. Awalnya hanya menempel saja namun Amanda juga tidak menolak. Entah kenapa tubuhnya berkata lain, padahal hatinya dia ingin sekali menolak hal itu.


Melihat tidak ada pergerakan dari Amanda, Ethan dengan berani mulai menggerakkan bibirnya, hingga membuat wanita itu memejamkan mata menikmati setiap sentuhan manis bibir Ethan di bibirnya.

__ADS_1


Mona semakin kelabakan, amarahnya sudah naik ke ubun-ubun. Tangannya terkekal dengan sorot mata yang tajam, saat melihat kedua orang yang ada di hadapannya tengah memadu kasih dan saling bertukar saliva.


"Keterlaluan mereka! Benar-benar tidak tahu malu! Di sini masih ada aku, dan mereka malah ciumaan?! Ya ampun! Kenapa Ethan gak pernah melakukan ini sama aku? Dia nggak pernah sekalipun menciumku seperti itu, tapi dengan janda itu ... dia malah berani menciumnya!' geram Mona di dalam hati.


Dia bangkit, kemudian langsung mendorong tubuh Amanda hingga Amanda yang tidak mempunyai keseimbangan karena dia terlalu terhanyut dengan ciumaan Ethan seketika jatuh, dan kepalanya terbentur ujung lemari.


BRUK!


"Aawh!" ringis Amanda.


"Sayang!" kaget Ethan, dia langsung menghampiri Amanda yang hampir saja limbung.


Melihat luka di dahi calon istrinya, membuat Ethan merasa geram. Kemudian dia menghampiri Mona lalu menampar wajahnya, hingga membuat Mona terperangah, karena Ethaan bisa berlaku kasar kepada dirinya.


PLAK!


Tamparan yang begitu keras mendarat hingga membekas di pipi putih wanita itu. Mona yang mendapatkan perilaku kasar seperti itu pun seketika menangis.


"Kamu menamparku karena dia!" bentak Mona dengan sambil menunjuk ke arah Amanda dengan dendam.


"Jelaslah. Dia adalah calon istriku, dan kau hanyalah masa laluku. Berani sekali kau ya melukai Amanda. Masih untung aku menamparmu, jika kau berani melukai dan mengusik hidupku lagi aku tidak akan pernah segan-segan menghancurkan keluargamu, paham!" bentak Ethan, "sekarang mendingan kau pergi dari sini sebelum amarahku memuncak dan kumutilasi dirimu!" ancamnya dengan sorot mata yang tajam.


Mona dapat melihat aura kemarahan dari kedua sorot mata pria tersebut, yang tak pernah sekalipun ia lihat saat bersama dengan Ethan. Biasanya pria itu akan menatapnya dengan sendu dan hangat, tapi kali ini sangat berbeda.


Kemudian Mona memutuskan untuk pergi dari sana setengah berlari sambil memegangi pipinya yang terasa panas, akibat tamparan dari Ethan.


Amanda yang merasakan jika kepalanya pusing hampir saja jatuh, untung Ethan langsung menangkap pinggangnya. Kemudian dia langsung menggendong tubuh Amanda menuju kamarnya yang berada di lantai 2.


"Bi_ ambilkan obat dan juga kompresan!" pinta Ethan dan langsung dibalas anggukan oleh Bi Sarkiyem.

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2