Rahasia With Ipar

Rahasia With Ipar
Perawatan 10 Miliyar


__ADS_3

Malam ini semua sedang berkumpul di luar tenda untuk bakar-bakar. Lulu dan juga Rizal pun ikut bergabung, akan tetapi Lulu duduk berjauhan dan dia dekat dengan Amanda.


Sementara Ethan yang melihat kedekatan kedua wanita itu pun merasa cemburu, karena sedari tadi Lulu terus saja memepet istrinya. Padahal Ethan ingin sekali bermanja-manja dengan Amanda, tapi seolah ada benteng yang menghalangi.


"Kenapa wajah kamu ditekuk kayak gitu?" tanya Angga yang sedang duduk di samping Ethan.


"Gimana nggak ditekuk. Tuh!" tunjuk Ethan dengan dagunya ke arah Amanda dan Lulu yang saat ini tengah terkekeh kecil bersama dengan tante Aulia dan juga mama Inggit. "Istriku terus saja dipepet oleh ulat gatel, sampai tidak bisa lepas. Padahal aku ingin sekali biar manja-manja dengannya."


Mendengar penuturan pria tersebut, Angga dan juga Leo malah tertawa, sementara Pak Yadi hanya tersenyum tipis.


"Yang sabar ya! Namanya juga perempuan. Lagi pula, nanti saja mepet-mepetnya di dalam tenda


Ya kali mau mepet di luar kayak gini? Banyak jomblo nih," kelakar Leo.


"Biar kalian kepanasan dan cepat cari calon istri," ujar Ethan sambil terkekeh dengan nada meledek, kemudian dia ingat dengan tatapan Angga dan Gisel saat mereka bertemu tadi. Lalu Ethan pun langsung melirik ke arah Angga, membuat pria itu menatapnya dengan heran. "Ada apa?" tanya Angga.


"Sebenarnya kau ada hubungan apa dengan Gisel? Sepertinya kalian itu saling mengenal? Entah kenapa, dari kedua sorot mata kalian, aku bisa menyimpulkan bahwa pernah ada suatu kejadian yang membuat hubungan kalian renggang."


Angga cukup terpaku saat mendengar penjelasan Ethan, yang ternyata mengetahui tentang hubungannya bersama dengan Gisel. Namun, ia merasa Ethan seperti paranormal yang bisa meramal tentang kehidupannya.


"Kau ini seperti Paranormal saja." Angga menggelengkan kepalanya.


"Tidak. Aku bukan Paranormal. Hanya saja, sangat terlihat dari kedua netra kalian. Apakah benar dugaanku?"


Mendengar itu Angga terdiam, dia membolak-balik jagung yang ada di tangannya, kemudian mengangguk kecil sambil melirik ke arah Gisel yang saat ini tengah tertawa bersama dengan Amanda.

__ADS_1


"Iya, dulu saat aku masih SMA pernah bertaruh dengan teman-temanku untuk menaklukkan Gisel, karena dulu dia adalah wanita cupu. Tapi saat hubunganku berjalan dengannya, aku baru sadar bahwa aku mencintainya. Namun sayang, sahabat-sahabatku malah membongkar rahasia itu dan akhirnya Gisel marah lalu meninggalkanku. Tapi, dia sudah memaafkanku."


"Wow! Gue nggak nyangka ternyata lo pernah nyakitin dia. Ya wajar sihkalau tadi dia menghindar dari lo," ucap Leo dengan tatapan lurus ke arah api unggun.


"Iya, dia memberikanku kesempatan kedua untuk membuktikan tentang perasaanku saat ini, dan aku tidak ingin menyia-nyiakan itu. Oh ya, aku mau bertanya sesuatu kepadamu?" tatapan Angga sangat serius kepada Ethan.


"Apa, itu?"


"Kau kan sudah menikah, dan pastinya sudah pengalaman tentang wanita. Apa yang harus aku lakukan supaya dia percaya bahwa aku itu bersungguh-sungguh? Bahkan aku ingin sekali menjadikan dia teman hidupku."


Bukannya menjawab, Ethan malah terkekeh kecil, kemudian dia menepuk pundak pria tersebut, lalu mendekat ke arahnya.


"Kau ingin menjadikannya teman hidup? Apa kau yakin?"


"Sangat yakin. Memangnya kenapa?"


"Secepat itu, kah?" kaget Angga dengan tatapan menyipit.


"Iya." Ethan mengangkat kedua tangannya. "Dengar ya! Wanita suka laki-laki yang tegas dan juga punya pendirian. Wanita juga suka dengan laki-laki yang tidak suka berbasa-basi, memberi kesan romantis itu harus, tapi sebelum kau melamarnya di hadapan kedua orang tuanya, maka kau harus menyiapkan terlebih dahulu momen romantis untuk melamar dirinya," terang Ethan..


Angga mendengarkan dan mencerna setiap penjelasan dari Ethan, kemudian dia mengangguk-anggukkan kepalanya. "Iya, aku paham. Aku akan melakukan apa yang kau bilang, tapi bagaimana jika dia menolak?"


Kali ini bukan Ethan yang tertawa, tetapi Leo. Kemudian dia pun berkata, "Hai Bro! Diterima atau ditolak, itu hal biasa ... tapi setidaknya kau sudah berusaha dan membuktikan kegigihanmu untuk berhubungan serius dengannya. Bukan hanya tentang perasaan cinta saja, tapi dengan sikapmu yang tegas dan langsung pada intinya, membuat dia pasti akan sangat yakin jika lo emang bersungguh-sungguh." Leo menaik turunkan alisnya.


Sementara Angga langsung memukul lengan pria itu. "Halah ... kayak lo tau aja seluk-beluknya wanita. Lo aja jomblo dari kapan tahu ... udah karatan malah tuh pisang ambon," kelakar Angga.

__ADS_1


"Elah ... enak aja lo kalau ngomong. Gini-gini pisang ambon gue itu masih kuat 10 ronde," sombong Leo sambil membanggakan pusaka andalannya.


Ethan menggelengkan kepala saat mendengar ucapan dari kedua sahabat itu, kemudian dia menaruh jagungnya di piring. "Kalian ini belum menikah, tapi sepertinya sudah sangat berpengalaman tentang hal itu. Pisang ambon itu jika belum mendapatkan sarangnya, maka bukan pisang ambon namanya."


"Lalu, apa?" tanya Leo dan juga Angga serempak.


"Kalian mau tahu?" Keduanya langsung mengangguk, kemudian Ethan meminta Leo maupun Angga mendekat.


"Jika pisang belum mendapatkan sarangnya, maka namanya bukan pisang ambon, tetapi Jaka Sinting. Bwahaha!" Setelah mengatakan itu Ethan tertawa, kemudian dia bangkit dari duduknya lalu berjalan ke arah Amanda.


Angga dan juga Leo menekuk wajahnya dengan kesal, tatapannya sinis ke arah Ethan yang saat ini tengah menertawakan kebodohan mereka. Lalu keduanya saling melirik satu sama lain sambil memegangi pisang ambonnya.


"Enak aja dia bilang ini Jaka Sinting, nggak tau aja perawatannya sampai 10 miliar," kelakar Leo dengan wajah cemberut.


"10 miliar? Itu perawatan atau digadaikan?" Angga menggelengkan kepalanya, tidak habis pikir dengan ucapan semprul dari sahabatnya itu.


"Ya perawatan lah. Lo pikir, pisang ambon gue itu nggak di creambath, nggak dimaskerin? Siapa tahu banyak komedonya. Rambutnya juga di rebonding biar nggak keriting kayak mie yang belum direbus."


PLETAK.


Seketika Angga menjitak kepala Leo, membuat pria itu meringis. "Lama-lama gue berteman sama lo, otak gue ini bakalan kotor seperti WC yang gak disedot selama 20 tahun." Angga bangkit kemudian dia duduk di samping Pak Yadi.


"Lah ... kenapa dia yang marah? Emang yang gue bilang itu bener kok. Pisang ambon gue kan spesial, jadi setiap bulannya harus ada perawatan. Siapa yang tahu kan jika nanti ada komedo." Pria itu langsung mangkat kedua bahunya dengan acuh.


Tatapan Gisel bertabrakan dengan Angga saat tiba-tiba saja pria itu juga menatap ke arahnya, membuat jantung Gisel berdetak kencang.

__ADS_1


'Apa dia benar-benar serius dengan ucapannya tadi? Bagaimana kalau dia berbohong dan mempermainkan perasaanku lagi?' batin Gisel yang masih merasa ragu dengan kesungguhan cinta dari Angga.


BERSAMBUNG...


__ADS_2