
Happy reading....
Amanda dan kedua orang tuanya saat ini sedang duduk di ruang keluarga, di sana juga ada tante Inggit dan juga Ethan. Di mana pria itu sedari tadi terus aja menatap lekat ke arahnya, sebab Ethan sangat terpesona dengan kecantikan Amanda malam ini.
Memang Amanda tidak berdandan menor, akan tetapi walaupun make-up nya natural, namun terlihat begitu dewasa cantik dan menawan.
"Sebaiknya kita makan malam dulu yuk! Baru kita bicarakan, rileks sedikit jangan terlalu tegang," kelakar Om Umar.
Dan langsung dibalas tawa kecil oleh tante Inggit serta tante Anjani, kemudian mereka berjalan ke ruang makan. Akan tetapi, saat Amanda akan melangkah tiba-tiba tangannya ditahan oleh Ethan.
"Aku berharap, jawabanmu 'iya. Karena jika kau tidak menerimaku, maka kamu berarti tega membuat hati ini hancur untuk sekian kalinya," bisik Ethan, kemudian dia pergi melewati Amanda yang masih termangu dengan ucapan pria tersebut.
Namun lagi-lagi Ethan menghentikan langkahnya, kemudian dia mundur hingga mensejajarkan tubuhnya dengan Amanda.
"Tapi rasanya aku tidak bisa jauh-jauh darimu. Kalau melihatmu seperti ini, ingin sekali aku mengulang yang kemarin," goda Ethan sambil mengedipkan sebelah matanya.
Amanda melihat dengan tatapan membulat, kemudian wajahnya merona malu saat mendengar ucapan nakal dari Ethan.
Dan tanpa melihat kekesalan dari wanita tersebut, Ethan terkekeh kecil, kemudian dia pergi meninggalkan Amanda ke ruang makan.
"Diih! Dasar pria itu, masih sempat-sempatnya dia memikirkan ciumaan kemarin? Apa dia tidak tahu jantungku saat ini sedang berdebar? Mana nggak mau berhenti lagi. Ya ampun jantung, bisa nggak sih kamu nggak usah deg-degan kayak gitu saat bertemu dengan Ethan! Seperti anak ABG saja yang baru merasakan jatuh cinta!" gerutu Amanda pada jantungnya sendiri, karena sejak tadi terus saja berdebar.
Mungkin jika di sana tidak ada suara apapun, dan terdengar sunyi, maka jantung Amanda akan terdengar begitu jelas di telinga Ethan. Dan itu pasti akan membuatnya sangat malu.
Tidak ada pembicaraan yang terlalu penting saat berada di meja makan, hanya beberapa obrolan ringan saja untuk merilekskan suasana. Dan setelah makan malam selesai, mereka kembali ke ruang keluarga, di mana saat ini jawaban Amanda tengah ditunggu.
"Baiklah, tanpa berbasa-basi dan tanpa mengulur waktu, Amanda? Kamu berikan jawaban kamu Nak kepada Ethan!" ucap Om Umar sambil menatap ke arah putrinya.
"Aku ..." Amanda menggantungan ucapannya sambil menatap ke arah semua orang yang ada di sana, yang kini tengah menatapnya dengan wajah yang tegang.
__ADS_1
Jantung Ethan seketika berhenti berdetak, begitu pula dengan nafasnya. Dia benar-benar menanti jawaban Amanda dan berharap jika jawabannya, iya.
Walaupun itu bukan pertama kalinya Ethan dekat dengan seorang wanita, akan tetapi menanti sebuah jawaban yang ia harapkan positif, sungguh membuatnya menjadi tegang dan harap-harap cemas.
"Aku ..." Lagi lagi Amanda menggantung ucapannya, dia ingin melihat bagaimana reaksi Ethan. Dan ternyata pria itu sedang menanti dengan wajah yang tegang, membuat Amanda terkekeh di dalam hati.
"Aku menerima lamarannya Ethan," jawab Amanda pada akhirnya.
Semua orang yang tadinya menahan nafas, seketika menghembuskannya dengan lega saat mendengar jawaban Amanda. Terlihat binar bahagia di raut wajah tante Inggit dan kedua orang tua Amanda.
"Alhamdulillah, akhirnya kamu menerima lamarannya Ethan, Nak. Tidak sia-sia penantian kita selama 2 bulan," ucap tante Inggit sambil memeluk tubuh Ethan dari samping.
"Tapi tidak usah menahan nafas juga," kelakar Amanda sambil terkekeh kecil.
"Gimana kami nggak nahan nafas? Menanti jawabanmu, seperti menanti pemilihan presiden," celetuk tante Anjani.
Terlihat wajah Ethan begitu sangat berbinar saat mendengar jawaban yang sangat ia nantikan keluar dari mulut Amanda. Ingin sekali rasanya dia langsung memeluk dan mengecup bibir wanita itu, akan tetapi karena di sana ada mamanya serta kedua orang tua Amanda, bisa-bisa gayung melayang di kepala Ethan.
"Kalau Mama sih menyerahkan semuanya kepada Ethan dan juga Amanda. Sebab mereka yang menjalaninya," ujar tante Anjani dan langsung dibalas anggukan oleh tante Inggit.
"Bagaimana Amanda? Ethan? Jadi kapan kalian akan melangsungkan pernikahan? Lebih cepat itu kan lebih baik. Lagi pula, kalian sudah perkenalan selama 2 bulan, dan papa rasa itu cukup untuk mengenal karakter satu sama lain?" tanya om Umar kepada pasangan tersebut
Wajah Amanda sejak tadi sudah merona malu, karena Ethan terus saja menatap ke arahnya. Memudian Ethan mengusulkan jika pernikahan mereka satu bulan lagi, sebab Ia juga tidak ingin berlama-lama.
"Baiklah, berarti satu bulan lagi ya?"
"Iya Om, dan untuk semuanya biar saya yang urus . Jadi Om sekeluarga menerima beres saja, karena saya juga tidak ingin jika nanti Amanda kecapean," ujar Ethan dengan nada yang sopan sambil menatap lekat ke arah kekasihnya.
Setelah berbincang-bincang, Amanda dan juga Ethan pun berjalan ke arah teras, di mana di sana ada taman kecil yang sering disambangi oleh Amanda saat wanita itu menatap gelapnya malam.
__ADS_1
Keduanya duduk di kursi, kemudian Ethan meregangkan tangannya seperti orang yang baru saja bangun tidur. Dan satu tangan terulur ke belakang punggung Amanda dan langsung merangkul pundak wanita itu, membuat Amanda seketika menatap ke arah Ethan. Namun pria itu pura-pura tidak melihat.
"Bilang aja mau rangkul, pakai acara meregangkan otot?" sindir Amanda sambil menahan senyumnya.
"Aku sih maunya langsung cium, tapi ... aawh!" Belum juga ucapan Ethan selesai, Amanda sudah mencubit pinggang pria itu sambil menatapnya dengan tajam.
"Jangan sasar-sosor kayak bebek soang ya! Lama-lama aku jahit mulutnya!" gerutu Amanda dengan wajah yang sudah ditekuk kesal.
"Yaelah Nyonya Louise! Lagi pula, kalau itu benar memangnya kenapa? Kamu tahu nggak! Aku tuh bahkan nggak bisa ngelupain rasanya ciumaan kita yang kemarin. Aku ingin selalu mengulangnya, dan ... awwh!" Lagi-lagi Amanda mencubit pinggang Ethan, membuat pria itu meringis.
"Dasar pria mesuum! Nunggu halal dulu, baru nyosor. Kalau belum halal jangan berharap! Kecuali--"
"Kecuali kepepet." potong Ethan sambil terkekeh kecil, dan lagi-lagi Amanda ingin melayangkan cubitannya. Namun kali ini bukan sebuah cubitan yang melayang.
"Aaaduh!" jerit Ethan saat merasakan kepalanya dipukul oleh sesuatu, dan itu membuatnya merasakan sakit. Sementara Amanda menahan tawanya.
"Kenapa kamu malah memukul kepala aku? Sakit tahu! Kalau nyubit sih nggak papa. Cubitannya aja udah sakit!" gerutu Ethan sambil mengusap kepalanya yang terasa begitu sakit.
"Bukan aku," jawab Amanda sambil menahan tawa. "Tuh!" Dia menunjuk seseorang di belakang Ethan dengan dagunya.
Pria tersebut membalikkan wajah, dan seketika cengiran kuda terpampang di wajah tampannya. Di mana saat ini dia sedang melihat sang mama yang sedang bertolak pinggang dengan wajah yang garang.
"Eh Mamah. Itu ngapain Mah bawa centong nasi?" tanya Ethan sambil melihat centong yang berada di tangan sang mama.
"Buat nyendok nasi panas, terus mama masukin ke mulut kamu, biar nggak berbicara yang kotor-kotor. Belum nikah udah main sasar sosor. Awas ya! Kamu berani mencium Amanda sebelum halal, bukan hanya nasi panas yang Mama masukin ke mulut kamu, tapi mama ulek cabe 20 kg terus mama masukin ke mulut kamu! Biar dower, dower sekalian!" Tante Inggit berkata dengan wajah yang sudah dibuat segarang mungkin.
Sementara Amanda malah terkekeh saat melihat Ethan dimarahi oleh mamanya.
"Mamah jangan gitu! Ethan kan cuma bercanda. Sayang, kamu belain aku dong! Kok malah ngetawain sih?" Ethan menatap ke arah Amanda sementara wanita itu hanya terkekeh kecil.
__ADS_1
"Aku nggak ikutan ah ... itu tanggung sendiri akibatnya." Amanda pun pergi dari sana sambil tertawa, disusul oleh tante Inggit.
BERSAMBUNG....