
Happy reading.....
Fitri menatap tak suka ke arah Alea, sementara wanita itu hanya diam saja sambil berdiri di samping Tante Dina.
Fitri merasa gara-gara Alea, Tante Dina dan juga Haris membencinya. Apalagi saat mengetahui jika wanita itu sedang mengandung benih dari Haris. Mamun seketika ide gila pun muncul di benak Fitri.
Dia berencana akan membuat nama Alea dibenci oleh Tante Dina maupun Om Samuel, karena dia sangat tahu jika mertuanya tidak suka pada wanita yang murahan.
"Oh ya, Mah. Aku dengar kalau dia ini adalah calon istrinya Mas Haris, ya?" tanya Fitri.
Darius yang sedang duduk bersama Papahnya seketika menatap ke arah sang istri, saat wanita itu menyebutkan mantan suaminya.
"Iya, kamu juga tentu saja sudah mengenalnya bukan?" jawab Tante Dina sambil terus menatap ke arah bayi yang sedang tertidur pulas di atas box.
"Dan aku dengar, bahwa dia juga sedang mengandung anaknya Mas Haris?"
Tante Dina seketika menatap ke arah Fitri, namun dia tidak menjawab hanya diam saja.
Melihat keterdiaman Tante Dina, Fitri tersenyum menyeringai. Dia yakin jika Tante Dina belum mengetahui tentang hal itu, dan dari sanalah Fitri mulai mengompori wanita tersebut.
"Dari mana kamu tahu?" tanya Tante Dina melihat ke arah Fitri dengan tatapan menyipit.
"Mas Haris sendiri sih yang bilang. Hanya saja, sangat disayangkan sih, Mah. Seorang wanita muda hamil diluar nikah, dengan suami orang lagi? Apa wanita itu bisa disebut sebagai wanita baik-baik? Atau jangan-jangan ... dia hanya mengincar hartanya Mas Haris saja?" Fitri mulai mengompori Tante Dina.
Om Samuel memutar bola matanya dengan malas, sementara Darius merasa bingung kenapa Fitri tiba-tiba saja berkata seperti itu di hadapan kedua orang tuanya.
'Fitri ini kenapa sih malah berbicara seperti itu? Bikin suasana jadi tambah runyam saja,' batin Darius.
"Lalu, jika dia mengandung benihnya Haris, memang kenapa?" Tante Dina masih bersikap santai.
"Iya Mama pikir aja dong! maMasa wanita hamil duluan sih sebelum menikah? Memangnya Mama nggak malu sama temen-temen sosialitanya Mama? Nanti kalau sampai mereka mencemooh dan tahu jika wanita itu sudah mengandung terlebih dahulu, bagaimana?"
Mendengar hal tersebut Tante Dina malah tertawa, membuat Fitri seketika menatapnya dengan heran. Karena dia berusaha untuk meracuni otak mertuanya, tapi dia malah melihat Tante Dina mentertawakan dirinya.
"Fitri ... Fitri. Kamu ini mampu untuk mengompori orang lain, tapi kamu tidak bisa berkaca kepada dirimu sendiri? Alea ini mungkin wanita hamil diluar nikah, tapi dia lebih baik darimu! Setidaknya Alea ini bukan pacar orang ataupun istri orang dan dia hanya korban. Asal kamu tahu ya! Haris juga tidak mungkin tuh menghamili Alea, jika dia sadar. Kamu tahu penyebab Haris menghamili Alea itu karena apa?" Tante Dina mendekat ke arah Fitri, kemudian dia menunjuk dada wanita itu. "Karena kamu!" tekan Tante Dina.
"Kenapa karena aku, Mah?"
"Ya jelas, karena kamu sudah selingkuh dengan Darius, membuat Putra saya depresi. Kemudian dia ke klub malam sampai melakukan kesalahan yang fatal. Tapi setidaknya Alea bukanlah istri orang, dan apa kamu tadi bilang? Saya malu kepada teman-teman saya? Hei Fitri! Apa kamu tidak berpikir? Flashback lagi ke beberapa bulan yang lalu, dimana kamu dan juga Darius sudah mempermalukan Mama dan Papa di hadapan semua orang? Jadi urat malu kami sudah putus karena kalian. Sudahlah, kami ke sini hanya ingin menengok anakmu saja. Sebaiknya kita pergi dari sini, Pah! Rasanya lama-lama di sini mama bisa tercemar racun," sindir Tante Dina.
Dia menggandeng tangan Alea untuk pergi dari sana, dan wanita itu hanya mengangguk saja.
Alea tak menyangka jika Tante Dina membela dirinya di hadapan Fitri. Padahal tadi dia sudah sangat ketakutan jika gara-gara ucapan dari Fitri, Tante Dina akan membenci dirinya, tapi semua di luar dugaannya.
'Aku akan sangat beruntung jika memiliki Ibu sepertinya.' batin Alea.
Sementara Om Samuel masih berada di dalam, dia menatap ke arah Darius dan Fitri bersamaan. Kemudian pria itu pun menjelaskan jika bayi yang dilahirkan tidak bernasab dan tidak boleh bermarga dari ayahnya, sebab bayi itu tumbuh di luar nikah jadi tidak sah.
"Jika kalian berharap dengan adanya bayi tersebut papa akan memberikan hak waris, tidak. Keputusan Papa tetap bulat," ujar Om Samuel kemudian dia keluar dari sana.
Fitri mengepalkan tangannya, dia merasa geram karena Tante Dina tidak bisa diracuni pikirannya. Padahal tadinya Fitri berharap bahwa Tante Dina akan membenci Alea tapi ternyata tidak.
'Harapanku pupus untuk mendapatkan Mas Haris kembali. Sekarang kalau Mas Darius belum juga sukses, aku harus mencari pria itu yang dekat dengan kak Amanda. Tidak perduli jika aku harus menyingkirkannya lagi.' batin Fitri.
__ADS_1
Dia masih tidak merasa puas, karena tujuan Fitri bukan hanya mencintai Darius saja, namun karena pria itu juga mempunyai hak waris yang besar. Namun ternyata keadaan malah berbalik, dan kini mereka hidup sederhana.
.
.
Siang ini Lulu tengah duduk di sebuah restoran bersama dengan Rizal. Mereka sedang melaksanakan makan siang bersama.
"Sebaiknya seminggu ini kau jangan kerja terlebih dahulu," ucap Rizal.
"Memangnya kenapa?"
"Karena kita kan akan menikah, dan aku tidak ingin kalau kau terlalu sibuk pada pekerjaanmu. Nadi ambil cuti selama satu minggu!"
"Aku akan bicarakan nanti sama Amanda," jawab Lulu dengan cuek.
Setelah makan siang selesai, Lulu meminta Rizal untuk mengantarkannya membeli es krim. Namun tiba-tiba saja wanita itu tidak sengaja menabrak seseorang yang tak lain adalah Sania.
"Ya ampun! Emang ya, udah dasarnya kembaran minyak literan itu adanya di mana-mana. Nggak di warung, nggak di supermarket, sekarang di restoran pun ada. Apes banget sih!" gerutu Lulu dengan kesal.
"Eh kaleng rombeng. Kalau bicara itu yang bener! Yang ada hidup gue yang apes gara-gara ketemu sama lo. Dasar perebut pasangan orang!" sindir Sania.
Lulu yang mendengar jika dia disebut dengan perebut pasangan orang pun tidak terima, kemudian dia maju mendekat ke arah Sania, lalu mendorong pundak wanita itu dengan jari telunjuknya
"Hello merek minyak! Dengerin gue ya! Yang ada lo tuh yang nggak bisa ngaca. Enak aja main bilang gue pelakor, kaca lu di rumah udah pecah,ya? Kalau mau, ntar gue bagi, banyak noh di emperan toko."
Rizal memutar bola matanya sambil menghela nafas dengan kasar saat melihat perdebatan antara dua wanita tersebut.
Kemudian dia menarik tangan Lulu, mengajaknya untuk pergi. Tapi Lulu tidak mau, dia merasa geram karena sejak tadi Sania terus mengatasinya dengan pelakor.
Lulu bersih kukuh karena dia wanita yang sedikit keras kepala, kemudian Rizal yang sudah tidak tahan pun segera menggendong tubuh Lulu, hingga membuat wanita itu terlonjak kaget dan menatap kedua manik pria tersebut.
"Hai kembarannya udel, lepasin nggak!" teriak Lulu.
"Jangan berteriak, atau aku akan menciummu di sini!" ancam Rizal sambil menatap tajam ke arah calon istrinya.
Lulu segera menutup mulutnya saat Rizal mengatakan hal tersebut, dan itu membuat Rizal merasa gemas saat melihat wajah Lulu yang selalu saja ketakutan saat dia mengancamnya.
Pria tersebut mendudukkan Lulu di kursi depan sekalian dia memasangkan sambung pengaman untuk Lulu, hingga tatapan mereka pun beradu beberapa saat.
Lulu memegangi jantungnya yang berdetak dengan kencang saat kedua manik tegas milik Rizal hanya berjarak beberapa senti saja dari wajahnya. Bahkan hembusan hangat nafas pria itu pun menguar memasuki indra penciuman.
'Astaga! Bibirnya seksi sekali. Bagaimana rasanya jika bibir itu ... ah, tidak, tidak. Astaga Lulu! Kenapa kau berpikir yang tidak-tidak? Otakmu itu kebanyakan ngeresnya gara-gara belum nikah-nikah!' gerutu Lulu sambil menggelengkan kepalanya.
PLETAK!
Rizal menyentil kening Lulu, hingga membuat wanita itu seketika membulat dengan tatapan yang begitu kesal.
"Aawh! Sakit tahu!" ketus Lulu sambil memanyunkan bibirnya.
"Makanya punya otak itu jangan kelamaan ditumpuk di pakaian kotor, jadi otaknya ngeres mulu. Mau ku cium?" Rizal mencondongkan tubuhnya, dan Lulu langsung memalingkan wajah sambil menggelengkan kepalanya.
"Jangan berani macam-macam ya! Kalau tidak, kutendang burung untamu beserta dengan telur bebeknya!" ancam Lulu.
__ADS_1
"Jangan di tendang! Nanti tak bisa membuatmu puas saat bermain." goda Rizal sambil mengedipkan matanya.
Lulu membeli ya kaget saat mendengar ucapan somplak dari pria yang berada di hadapannya tak pernah IA sangka jika Rizal ternyata orang yang sedikit humoris juga walaupun omongannya Terdengar sangat barbar
''Dasar pria mesuum!'' ketus Lulu.
Mndengar itu Rizal malah terkekeh, kemudian dia mundur dan menutup pintu mobil lalu masuk ke samping kemudi.
Sementara Sania melihat dari kejauhan mengepalkan tangan, ia merasa tak suka saat melihat kedekatan antara Rizal dan juga Lulu.
'Aku harus ke rumah Rizal nanti malam. Aku harus meluluhkan kedua orang tuanya untuk mendapatkannya kembali.' batin Sania.
.
.
Di sebuah kantor yang mewah, seorang pria tengah duduk sambil membaca laporan dari seseorang yang dia suruh untuk mengerjakan sesuatu.
"Apa kau yakin ini valid?" tanya Akmal kepada asistennya.
"Saya yakin, Tuan. Karena saya sudah menyelidikinya."
Akmal mengangguk, kemudian dia mengibaskan tangannya menyuruh asisten itu untuk pergi.
Pria tersebut menghela nafas dengan kasar. Dia baru saja mendapatkan laporan dari anak buahnya untuk menyelidiki tentang kehidupan Amanda, dan Akmal baru mengetahui jika Amanda sudah pernah menikah bahkan wanita itu sudah bercerai.
"Maafkan aku Amanda, di saat kamu terpuruk aku malah tidak ada di sisimu. Tapi karena kamu sekarang sudah sendiri, maka aku akan berusaha untuk mendapatkanmu. Tidak peduli mau kamu janda ataupun perawan, karena bagiku cinta itu lebih utama," gumam Akmal.
Kemudian dia mengambil ponsel dan memesan buket bunga untuk Amanda, dan mengirimkannya ke butik. Di mana Akmal juga sudah mengetahui alamat Butik dari wanita yang sedang ia taksir.
"Nanti malam aku akan ke rumahnya. Aku harus mulai mendekati Amanda, takut-takut kalau nanti pria itu malah satu langkah lebih maju dariku."
Kemudian Akmal memerintahkan sekretarisnya yang bernama Viona untuk membeli sebuah kalung yang indah untuk Amanda, karena nanti malam dia akan bertemu dengan wanita itu. Dan rasanya tidak afdol jika Akmal tidak membawa apapun.
Tiba-tiba ruangannya terbuka, dan masuklah seorang perempuan yang tak lain adalah mamanya.
"Mama! Kok ke sini nggak bilang-bilang? Lagian ngapain Mama keluar? Ingat kata dokter, Mama itu harus bedrest!" tanya Akmal yang kaget saat melihat mamanya datang ke kantor.
"Mama jenuh di rumah terus. Lagi pula kamu terlalu sibuk dengan pekerjaanmu. Mau sampai kapan kamu sendiri terus? Mama kan juga butuh teman di rumah. Ayolah, cari calon istri! Atau kalau kamu mau, mama rencananya akan menjodohkan kamu dengan anak sahabat Mama, gimana?"
"Ayolah Mah! Kenapa harus jodoh menjodohkan sih? Kesannya Akmal ini tidak laku." Pria tersebut menekuk wajahnya
"Iya karena kamu memang tidak laku. Tapi Mama jamin kok, kamu bakalan suka sama wanita itu. Dia cantik, seorang model, dan tentunya dia masih gadis," jelas tante Lena
Memang beberapa kali wanita itu ingin menjodohkan putranya, tapi Akmal selalu saja menolak dengan berdalih bahwa dia sudah mempunyai calon, tapi tidak pernah dibawa ke rumah dan diperkenalkan kepada kedua orang tuanya.
"Tapi Mah--"
"Tidak ada tapi-tapi. Kalau kamu memang tidak mau dijodohkan, Mama kasih kamu waktu 1 minggu untuk membawa calon istrimu. Jika dalam satu Minggu itu kamu belum membawanya ke hadapan mama dan papa, maka jangan menolak untuk dijodohkan, mengerti!" Setelah mengatakan itu tante Lena pun keluar dari ruangan tersebut.
Akmal menganga saat mendengar penuturan mamanya yang memberi waktu untuk dia memperkenalkan calon istrinya, yang tak lain adalah Amanda.
"Ya ampu! Bagaimana bisa aku membawa Amanda dalam waktu kurun satu minggu? Dia menerima cintaku saja belum tentu. Mama ini ada-ada aja deh!" rutuk Akmal sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
__ADS_1
BERSAMBUNG......