Rahasia With Ipar

Rahasia With Ipar
Sama-sama Yang Pertama


__ADS_3

Sementara Amanda harap-harap cemas, dia takut jika Lulu akan ngamuk. Karena tadi mereka melihat dengan jelas jika Sania memeluk tubuh Rizal, merayunya bahkan mencium pipinya.


"Lihatlah sayang! Dia sudah ada di sini, jadi sekarang kamu ceraikan dia dan kita bisa bersama lagi!" ujar Sania dengan alis terangkat satu sambil menatap sinis ke arah Lulu.


"Diam kamu Sania! Jangan bicara yang tidak-tidak!" bentak Rizal.


Namun Sania tidak gentar, walaupun di sana ada Lulu dan juga Amanda. Dia berjalan ke arah Rizal kemudian mengapit lengan pria itu dengan manja, menampilkan kemesraannya di hadapan Lulu, dan wanita itu hanya menatapnya dengan tatapan yang datar.


Rizal mencoba melepaskan, akan tetapi Sania seperti permen karet yang sudah basi dan menempel pada kayu.


"Jadi kamu masih mencintainya, Mas?" tanya Lulu untuk pertama kalinya memanggil Rizal dengan sebutan 'Mas.


Ada rasa hangat di hati pria itu saat tiba-tiba saja Lulu menyebutnya dengan kata yang begitu menggetarkan hatinya.


Kemudian dia pun menggelengkan kepala. "Tidak. Aku tidak mencintainya! Aku sudah menikah dan mempunyai istri, bagaimana mungkin aku bisa mencintai wanita lain?" bantah Rizal dengan tegas.


Mendengar itu Lulu tersenyum tipis, kemudian dia berjalan ke arah Sania lalu melambaikan tangannya ke arah Amanda.


Wanita tersebut memberikan minyak goreng kepada Lulu, dan itu membuat Rizal sekaligus Sania merasa heran, untuk apa Lulu membawa minyak goreng ke atap? Karena di sana tidak ada kompor sama sekalim


Tanpa disangka, Lulu menyiram kepala Sania dengan minyak goreng hingga tubuh wanita itu pun basah oleh minyak


"What! Are you crazy?! Apa yang kau lakukan, Hah!" pekik Sania yang merasa tidak terima, sebab semua bajunya dan tubuhnya licin oleh minyak goreng.


"Ups! Sorry. Aku pikir karena kau kembarannya minyak literan, jadi aku siramkan saja kembaranmu. Lagi pula, kau itu memang macam minyak dan juga belut, licin tidak bisa dipegang. Ke sana ke sini mau. Sudah tahu Mas Rizal ini milik aku, dan dia sudah menjadi suamiku. Dan sudah jelas bukan, dia menolakmu secara mentah-mentah. Tapi dengan tidak punya malunya, kamu masih menggoda suami orang? Apa kamu mau masuk ke dalam daftar para pelakor yang tidak laku di pasaran?" ujar Lulu sambil menarik tangan Rizal.


Dia menyandarkan kepalanya di bahu kekar sang suami, membuat Rizal seketika terpaku dengan perlakuan Lulu yang dia kira akan marah namun malah sebaliknya.


"Sekarang gini aja Mas Rizal tersayang, kamu pilih siapa? Aku atau dia?" Lulu berkata sambil melipat kedua tangannya di depan dada meminta jawaban dari Rizal.


Sementara Sania mengepalkan tangannya dengan sorot mata yang tajam, karena dia tidak terima seluruh badannya licin akibat disiram minyak goreng oleh Lulu.


"Tentu saja aku memilihmu, karena kau adalah istriku. Dia hanya masa laluku, dan sudah ku buang ke tempatnya!" jawab Rizal dengan tegas.


Lulu tersenyum sumringah, kemudian dia mengalungkan tangannya di leher pria tampan tersebut, membuat jantung Rizal seketika ber-uforia karena tingkah Lulu yang begitu agresif.


'Ada apa dengan istriku? Dia terlihat begitu nakal malam ini?' batin Rizal, tapi dia menyukai sifat Lulu yang seperti itu.


"Kau dengar sendiri bukan, bibit pelakor? Dia ini memilihku, bukan kamu. Sebaiknya kau membersihkan dirimu agar racun-racun pelakor yang ada pada tubuhmu itu luntur terbawa kelicinan minyak goreng! Jaangan lupa ditambahin tempe sama tahu ya, lalu dicocol sama sambel. Kalau bisa dijual, namanya tempe goreng pelakor," jelas Lulu sambil tertawa mengejek ke arah Sania.

__ADS_1


Sementara Amanda menggelengkan kepalanya saat melihat tingkah sang sahabat. Dia tidak menyangka jika Lulu bisa menahan emosinya, padahal tadinya Amanda pikir wanita itu akan mencak-mencak.


Sania yang tidak terima pun melangkah mendekat ke arah Lulu dan juga Rizal. Namun karena tubuhnya yang sudah tersiram minyak goreng, dia pun terpeleset hingga terpelanting kembali ke atas lantai.


"Aaww! Bokongku!" ringis Sania sambil memegangi bokongnya yang terasa begitu sakit saat mencium lantai terlebih dahulu.


"Ya ampun! Sakit ya? Aduh kasihan banget sih!" ejek Lulu.


Sania mengeratkan rahangnya, tangannya masih terkepal dan sorot mata penuh dendam ke arah Lulu. Sebab Ia tidak terima dipermalukan seperti itu oleh wanita tersebut.


"Rizal tidak mencintaimu, dia hanya mencintaiku!" bantah Sania yang masih berasumsi dengan keyakinannya, bahwa Rizal masih mempunyai rasa kepada dirinya.


Lulu yang kadung geram pun dengan berani dan jantung yang sudah berdebar dengan keras, memberanikan diri mencium bibir pria yang saat ini sudah bergelar menjadi suaminya.


Kedua netra hitam tegas milik Rizal membulat saat tiba-tiba saja Lulu dengan berani menciuum bibirnya. Tetapi tidak ada gerakan apapun, sebab itu yang pertama bagi Lulu juga pertama baginya.


Sania yang melihat itu pun kepanasan, karena selama ini Rizal tidak pernah menciumnya. Pria itu bahkan hanya berani mencium pipi dan juga keningnya, tetapi tidak dengan bibirnya.


'Astaga jantungku! Ampuni aku Tuhan, sudah berani melakukan ini. Sejujurnya aku sangat malu, ingin rasanya aku nyemplung ke dalam gentong supaya wajahku yang sudah berkepiting rebus ini tidak dilihat oleh pangeran udel.' batin Lulu yang merutuki kebodohannya sendiri


Dia terpaksa melakukan itu untuk membuktikan kepada Sania, bahwa saat ini Rizal hanyalah miliknya. Namun bohong jika Lulu tadi tidak merasa marah saat Rizal dicium oleh Sania, namun seketika entah kenapa amarah itu pun menjadi reda.


'Kenapa jiwa jomblo aku juga meronta ya? Sepertinya aku malam ini harus malam pertama dengan guling," kekeh Amanda sambil mentertawakan hidupnya sendiri yang belum ada pasangan.


"Awas kalian ya!" teriak Sania dengan kesal sambil memukul lantai beberapa kali.


Dia mencoba untuk bangun, namun lagi-lagi kepleset karena bajunya yang sudah basah dengan minyak goreng, ditambah dengan tubuhnya juga yang licin, membuat Sania kesusahan untuk berdiri. Hingga dia pun mengomel dengan wajah yang sudah merah menahan marah.


Rizal membaringkan tubuh Lulu di atas kasur tatapan mereka terkunci satu sama lain. Namun saat Lulu mendorong tubuhnya, Rizal malah semakin mengikis jarak di antara mereka.


"Awas minggir!" ucap Lulu sambil mendorong dada bidang kekar milik sang suami.


"Tadi bukannya kamu yang nakal? Jadi sekarang gantian. Suruh siapa membangunkan ular yang sedang tertidur?" goda Rizal sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Siapa juga yang ngebangunin? Bukannya dia tuh yang ngebangunin!" sindir Lulu.


"Bukan. Tapi kamu. Kamu itu sudah mencuri ciuman pertamaku, jadi sekarang aku harus memilikimu!" tekan Rizal.


GLUK!

__ADS_1


Lulu meneguk ludahnya dengan kasar saat mendengar ucapan pria tersebut. Nafasnya seketika tercekat di tenggorokan. Wajahnya sudah merah merona karena sedari tadi dia menahan malu, ditambah sekarang Rizal terus menggodanya, dan semakin mendekatkan wajahnya hingga berjarak beberapa senti.


"Jangan menolak! Kalau kau menolak, aku akan bermain 10 ronde. Tapi kalau kau tidak menolak, aku akan memberi keringanan, 5 ronde sudah cukup."


"What! Kau pikir ini bola!" ketus Lulu.


"Kita memang akan bermain bola, dan sebentar lagi aku akan mencetak gol." Lulu semakin membulatkan matanya saat mendengar ucapan somplak dari pria yang berada di atas tubuhnya saat ini.


Pria itu pun mendekatkan wajahnya ke arah Lulu, sementara wanita tersebut hanya memejamkan matanya. Dia sudah pasrah, karena melawan pun percuma. Sebab saat ini tangan Rizal sudah menggenggam kedua tangannya, sedangkan tubuhnya tidak berkutik sama sekali, sebab tenaga Rizal lebih besar darinya.


Awalnya Lulu hanya diam tidak membalas, tetapi naluri itu di dalam tubuhnya memberikan respon, hingga sedikit demi sedikit dia pun membalas perlakuan Rizal yang tengah menikmati tubuhnya inci demi inci.


"Eeeuungh!" Suara lenguhan terdengar begitu merdu di teringat Rizal, kemudian dengan perlahan dia membuka kemejanya, membuangnya ke sembarang arah. Satu tangannya membuka tali jubah handuk yang masih dikenakan oleh Lulu.


Saat ini terpampang jelas tubuh indah dan polos di hadapannya, membuat Rizal seketika meneguk ludahnya dengan kasar.


Lulu yang pertama kali dilihat liar seperti itu oleh pria, seketika langsung menyilangkan tangannya di area yang harus ia tutupi.


Akan tetapi Rizal langsung menyingkirkan tangan itu. "Jangan ditutup! Ini adalah pemandangan yang sangat indah," ucap Rizal dengan suara yang sudah berat menahan sesuatu.


Lagi-lagi Lulu hanya meneguk ludahnya dengan kasar saat melihat tatapan liar suaminya. Kemudian bibir mereka pun kembali menyatu hingga Rizal semakin menurunkan ciumaannya ke bawah dan semakin ke bawah, hingga sampailah dia di depan gawang indah milik Lulu.


Setelah pemanasan dirasa cukup, dan melihat sang istri sudah terbakar oleh gairaah, Rizal pun membuka celananya kemudian dia mulai menyatukan tubuhnya bersama dengan sang istri. Membuat Lulu seketika meremas tangan Rizal dengan kuat, saat merasakan sesuatu yang begitu keras hendak memasuki tubuhnya.


"Astaga! Kamu bisa nggak sih bilang sama ularmu itu, kalau bisa lembek dikit jangan terlalu keras! Sakit tahu," ucap Lulu dengan kesal.


"Kalau lembek, mana bisa masuk? Sudah jangan berisik! Biarkan aku menuntaskan tugasku. Kamu hanya perlu bersuara dengan sangat merdu," ucap Rizal sambil kembali menyatukan bibir mereka.


Hingga setelah beberapa kali percobaan dia pun berhasil mencetak gawang sang istri, membuat Lulu seketika menjerit sakit karena pertahanannya sudah bobol.


Malam itu pun menjadi malam yang terindah bagi Lulu dan Rizal, karena itu sama-sama yang pertama untuk mereka. Di mana keduanya pertama kali merasakan bagaimana itu rasanya surga dunia, dan ternyata membuat keduanya ketagihan sehingga menghabiskan tiga ronde.


Tadinya Rizal ingin menghabiskan 5 ronde, bahkan sampai 15 ronde, tapi melihat sang istri sudah kelelahan dia pun merasa tak tega.


"Jika rasanya senikmat ini, maka aku akan setiap hari melakukannya. Bahkan kalau bisa setiap jam," goda Rizal saat mereka sudah melakukan olahraga yang begitu melelahkan.


"Setiap jam? Apa kau Ingin membuatku mati?! Dasar suami tak sayang istri!" ketus Lulu sambil membelakangi tubuh Rizal karena dia merasa kesal.


BERSAMBUNG......

__ADS_1


__ADS_2