Rahasia With Ipar

Rahasia With Ipar
Siapa dia?


__ADS_3

Terlihat Sania dan juga Akmal berjalan mendekat sambil bergandengan ke arah Lulu dan juga Amanda, dan sesampainya di sana Sania menyodorkan sebuah kado.


"Selamat ya! Aku turut bahagia. Ini ... aku punya sedikit kado untuk kamu."


Lulu cukup kaget saat mendengar cara bicara Sania yang begitu lembut nan syahdu, tidak sebar-bar saat pertama kali mereka bertemu, apalagi saat Sania bersih kuku untuk mengambil Rizal darinya.


Dia pun menampar wajahnya beberapa kali, seolah tengah bermimpi. "Eh ikan lele, lo kenapa namparin pipi sendiri?" heran Amanda


"Ini si merk minyak goreng kan yang ada di hadapanku? Kok beda banget ya?"


"Sania, Lulu bin ikan mujair ..." gemas Amanda, "bukan merk minyak goreng. Lo jangan malu-maluin kenapa sih, Lu! Kebiasaan, mulut lo itu perlu disaring sedot." Amanda menggelengkan kepalanya, "memangnya ada yang aneh? Beda dari mananya sih? Orang dia masih perempuan, berambut panjang, cantik, hidung mancung, nggak ada yang beda sama sekali."


PLETAK!

__ADS_1


Lulu seketika menjitak kepala Amanda, membuat wanita itu meringis. Namun, akhirnya tertawa kuda. "Lo itu gimana sih? Masih nggak paham juga ya. Memang dia perempuan, emang lo pikir itu bencong?" Ucapan Lulu barusan membuat beberapa tamu yang ada di dekat mereka pun terkekeh kecil.


Sementara Sania dan Akmal saling melirik, namun mereka terlihat menahan tawa karena ucapan Lulu barusan. Dia juga tidak merasa sakit hati dengan ucapannya, karena memang ia sadar pertemuan pertama mereka tidak didasari dengan baik


"Lo lihat aja! Cara bicaranya begitu beda, lebih lembut. Dulu waktu pertama gue ketemu sama dia ... tahu sendiri kan cara bicaranya itu bar-bar, bahkan saat ingin merebut suami gue. Sekarang seperti seseorang yang benar-benar anggunly, benar-benar udah sadar ya," sindir Lulu dengan tersenyum miring ke arah Sania.


"Iya, kamu benar. Dulu aku memang bar-bar, dulu aku ingin sekali merebut Rizal darimu. Tetapi, semenjak aku mengenal Akmal, dia mengajarkan ku bagaimana bersikap dewasa, bagaimana berkata dengan nada yang lembut, dia mengajarkan ku banyak hal dan aku beruntung memilikinya," ucap Sania sambil menggandeng lengan Akmal dengan manja.


Pria tersebut tersenyum saat mendengar pujian dari calon istrinya. "Bukan karena aku ... tapi memang dasarnya kamu wanita baik, hanya dulu kamu terlalu terobsesi."


"Iya deh calon manten ... romantis bener. Nanti juga kalau udah nikah romantisnya bakal berkurang," sindir Lulu ambil memutar bola matanya.


"Berarti lo romantisnya sama Rizal udah berkurang ya?" tebak Amanda sambil menaik turunkan alisnya.

__ADS_1


"Eh Markonah ... kalau ngomong asal nyeletuk aja. Rumah tangga gue sama Mas Rizal itu harmonis, semanis madu tetangga, ups!" Seketika Lulu menutup mulutnya. "Eh ... tidak, tidak ... maksud gue, semanis cinta kita."


"Alay." ledek Amanda, "udah ah, gue mau ke sana dulu ngabisin makanan di sini, mumpung banyak dan gratis." Wanita itu pun pergi dari sana. Dia menekan kata gratis, di hadapan Lulu.


"Dasar Marfuah. Nggak bisa lihat makanan gratis sedikit aja langsung nyosor. Jangan lupa masukin ke kantong kresek, ya!" Lulu meledek sambil sedikit berteriak, membuat beberapa tamu undangan melihat ke arah mereka tetapi dia tidak peduli.


Kemudian Akmal mengajak Sania untuk duduk bersama dengan Ethan dan juga Amanda. Mereka mengobrol cukup lama, hingga waktu yang semakin siang membuat Amanda harus pulang karena dia pun sudah terlihat sangat kelelahan.


"Nanti di acara 7 bulanan Amanda kalian jangan lupa datang ya," ujar Ethan mengundang Pasangan calon pengantin itu.


"Pasti aku dan juga Sania akan datang."


Setelah itu Ethan pun dan juga Amanda berpamitan. Mereka berjalan memasuki mobil, akan tetapi tiba-tiba saja ada yang memanggil Ethan sambil menahan tangannya, membuat keduanya seketika menoleh.

__ADS_1


Dahi Amanda mengkerut saat melihat seseorang yang tengah memegang lengan suaminya. "Siapa dia, Mas?" tanya Amanda penasaran.


BERSAMBUNG.....


__ADS_2