Rahasia With Ipar

Rahasia With Ipar
S2: Rezeki Pagi Hari


__ADS_3

"Apa kau bisa bekerja, hah?!" marah Max dengan nada membentak, membuat Olivia terjingkat kaget. "Aku minta 1 sendok gula, bukan di kurangi. Kau paham!"


Oliv hanya bisa menundukan kepalanya dengan takut. "I-iya Tuan, maafkan saya. Tadi saya pikir kalau--"


"Buatkan lagi!" titahnya.


Oliv mengangguk lalu dia pergi dari sana menuju dapur kembali. Semua pelayan cukup terkejut saat melihat Olivia kembali ke dapur dengan kopinya.


"Kak, salah lagi?" tanya Azura heran.


"Hu,um. Asli, timbang kopi aja ribet banget dah!" kesal Oliv, lalu mulai membuat kopi dengan takaran yang di minta Max.


"Biar tambah nikmat, ku kasih bonus goyangan gergajiku." Wanita itu mengaduk kopi dengan goyangan ngebor 8x, membuat semu pelayan terkekeh.


"Kakak ini ada-ada aja sih." Azura menggelengkan kepalanya dengan tawa, dan setelah selesai Olive naik ke lantai atas dan menyerahkan kopi itu kembali. Namun kali ini tidak ada komplain dari Max, membuat wanita itu bisa bernafas dengan lega.


"Bagaimana? Salah lagi, Kak?" tanya Azura saat Olive sudah sampai di dapur.


"Tidak. Kali ini benar. Mungkin itu berkat dari goyangan ngebor kakak tadi," celetuk Olivia, "huuuf ... sumpah ya! Tuan Max itu benar-benar menjengkelkan. Dia bos tersadis yang pernah kutemui. Timbang kopi aja ribetnya minta ampun."


"Ah, masa sih Nona? Setahu saya, Tuan Max itu orang yang sangat baik, bahkan semua pelayan yang ada di sini pun tahu itu. Bahkan Tuan Max tidak pernah mengomeli kami, ya ... kalau kami tidak salah.bTapi terkadang dia pun membelikan kami barang."


Alis Olivia bertaut heran, tapi kenyataannya yang dihadapi adalah sikap Max yang benar-benar menjengkelkan dan tidak sesuai dengan ucapan para pelayan.


"Mungkin saja Tuan Max sedang ada masalah, Nona, hingga mood-nya sedang tidak baik-baik saja. Sebaiknya sekarang Anda memasak, karena Tuan Max orang yang sangat disiplin."


Olivia menepuk keningnya, dia baru sadar bahwa dirinya ditugaskan untuk memasak makanan. Wanita itu pun langsung mengikat rambutnya hingga menjadi kunciran kuda, lalu mulai memakai celemek dan berkutat di dapur, mengeluarkan sayuran dan juga protein mana yang akan dia masak.


"Mood-ku sudah jauh lebih baik gara-gara melihat wajah kesal wanita tadi," lirih Max sambil menyesap kopinya kembalim. "Tapi aku rasa dia mempunyai watak yang sama seperti Anggi, barbar dan sedikit keras kepala."


Setelah 60 menit makanan pun jadi. Olivia mengusap peluh yang ada di keningnya kemudian pelayan Tere menuju kamar Max untuk memberitahukan bahwa makan malam sudah siap.


"Dia masak apa malam ini?" tanya Max saat menuruni tangga diikuti oleh pelayan Tere yang berjalan di belakangnya.


"Sop iga dan juga cumi bakar Tuan. Anda bisa melihatnya sendiri."


"Sepertinya makanannya cukup enak." Sampai di meja makan dia melihat makanan yang begitu menggugah selera. Seketika pria itu pun merasa lapar dan langsung duduk di tempat yang biasa ya duduki.


"Biarkan dia yang melayaniku!" cegah Max saat Tere akan melayaninya makan malam.


Olivia mengangguk, dia berjalan mendekat ke arah Max lalu mulai menyiapkan makanan untuk bosnya dengan hati-hati, karena dia tidak ingin ada kesalahan lagi yang mana akan membuat gendang telinganya pecah karena terus-terusan diomeli oleh Max.

__ADS_1


"Ini Tuan, silakan dinikmati!" Olivia mundur 2 langkah, dia melihat Max sedang mengunyah makanannya. Wanita itu merasa jantungnya hampir saja copot, karena dia takut jika masakannya tidak sesuai selera Max, tetapi ternyata semua salah pria itu makan dengan begitulah lahapnya.


'Ternyata wanita Ini jago juga masaknya, tidak kusangka bahkan masakan dia lebih enak dari koki yang ada di rumah ini.'


"Kurasa makananmu tidak buruk, dan aku mau ... setiap aku ada di sini, kau yang membuatkan makanan untukku, paham!" Max berkata tanpa menoleh ke arah Olivia.


"Baik Tuan," jawab Olivia dengan formal.


Setelah dia selesai dengan makan malamnya, Max menuju lantai atasblagi, akan tetapi tiba-tiba saja bel pintu berbunyi. Pelayan Tere segera berjalan untuk membuka pintu tersebut, dan ternyata yang masuk adalah sahabatnya Max, yaitu Boy.


"Hai bro!" ucap Boy sambil Melambaikan tangannya ke arah Max.


"Eh, ternyata lo, Boy."


"Lo kenapa? Kok wajahnya ditekuk kayak gitu sih?" tanya Boy dengan heran sambil merangkul pundak Max.


"Nggak apa-apa," jawab Max, kemudian Boy membawa pria itu menuju ruang tamu.


"Bi, tolong bilang kepada Olivia untuk membuatkan minum ya," ucap Max menatap ke arah kepala pelayan Tere


"Baik Tuan."


"Woy, lo itu kenapa sih dari tadi wajahnya ditekuk kayak gitu? Lo lagi ada masalah?"" Boy merasa penasaran karena tidak biasanya Max terlihat begitu murung, bahkan wajahnya sangat kusut.


"Wait! Maksud lo, Anggi anaknya tante Lulu, sahabat dari kedua orang tua lo itu?" tebak Boy dan langsung dibalas anggukkan oleh Max. "Memangnya kenapa sama dia? Jangan bilang kalau lo itu suka ya sama dia?"


"Ngaco lo. Kalau ngomong sembarangan. Siapa juga yang suka sama cewek barbar kayak dia? Lo kan tahu hubungan gue sama dia itu kayak Tom and Jerry, nggak pernah akur kalau ketemu. Dia aja namain gue oli."


Boy hanya bisa tertawa saat mendengar kekesalan sahabatnya. Dia memang mengetahui bagaimana hubungannya bersama dengan Anggi yang tidak pernah akur sedari dulu, walaupun Boy dan juga Max berteman dari kuliah.


"Lalu kenapa wajah lo ditekuk kayak gitu?"


"Tadi di rumah ada makan malam sama keluarganya tante Lulu, dan lo tau apa yang terjadi?" Boy langsung menggelengkan kepalanya, membuat Max menghela nafas. "Huuuf ... mama dan papa serta kedua orang tuanya si bebek mencret itu, ngejodohin gue sama dia."


"What! Serius? Terus gimana, lo terima dong perjodohan itu?" kaget Boy dengan tatapan membulat, bahkan saat ini tubuhnya sudah mencondong lebih dekat ke arah Max.


"Ya kali gue terima. Gue tolak lah. Gue kan nggak mencintai Anggi. Lagi pula, gue udah menganggapnya sebagai saudara sendiri," jawab Max sambil menyandarkan tubuhnya di sofa. "Lo tahu kan, selama ini belum pernah ada wanita yang bisa mencuri hati gue. Dan gue cuma nggak mau aja orang tua menjodohkan anaknya hanya dengan alasan ingin mempererat tali persahabatan, menurut gue itu nggak masuk akal. Ini bukan zamannya Siti Nurbaya."


Boy menganggukkan kepalanya, dia paham dengan perasaan sahabatnya saat ini. "Ya, ya ... gue paham perasaan lo. Memang terkadang kalau orang bersahabat itu pada akhirnya akan menjodohkan, tapi semua keputusan ada di lo. Kalau emang lo nggak cocok sama dia, ya udah. Lagi pula jodoh tidak akan ke mana."


"That's right," bawab Max sambil memejamkan matanya .

__ADS_1


Tanpa mereka sadari ada seseorang yang sedang menguping pembicaraan keduanya, yaitu Olivia. Dia baru saja akan mengantarkan minuman dan tidak sengaja mendengar percakapan antara Max dan juga Boy.


'Pantas aja dia marah-marah, ternyata mood-nya sedang tidak baik.' batin Olivia, dia pun berjalan menuju ruang tamu. "Maaf Tuan-Tuan, ini minumannya."


"Hmm." Max hanya bergumam, sementara Boy menatap dengan mata menyipit ke arah Olivia karena baru kali ini dia melihatnya.


Setelah Olivia pergi, Boy menyenggol bahu membuat pria itu membuka matanya dan meliriknya. "Ada apa?"


"Wanita tadi siapa? Kok gue baru ngeliat dia di sini sih?"


"Oh ... itu Olivia. Dia diusir sama keluarganya, terus gue tolongin deh dan gue pekerjakan di sini. Dan bukan hanya itu aja ... ternyata dia juga ngelamar kerja di perusahaan gue sebagai sekretaris."


"Wow! Serius? Terus sekarang dia sekretaris lo dong?" Max langsung menganggukan kepalanya. "Amazing! Dua bisa bekerja di dua tempat sekaligus? Wanita yang hebat." Max hanya mengangkat kedua bahunya saja kemudian dia menyesap minumannya.


.


.


Pagi hari pria itu terbangun karena alarmnya, kemudian dia langsung bangkit untuk membersihkan diri ke kamar mandi.


Saat pria itu sedang berada di dalam kamar mandi, Olivia masuk untuk menyiapkan pakaian milik Max yang akan dipakainya ke kantor, karena kebetulan orang yang biasa menyiapkan kebutuhan Max sedang sakit.


Namun, saat Olivia berbalik berbarengan dengan itu pintu kamar mandi terbuka, nampak Max keluar dengan balutan handuk sepinggang. "Aaaaa!" Olivia menjerit sambil menutup matanya kemudian dia membalik tubuhnya kembali.


"Astaga! Ada roti bebek 8 kotak," lirih Olivia sambil memegangi dadanya yang tiba-tiba berdetak dengan kencang karena baru saja menikmati pemandangan di pagi hari.


"Kenapa teriak-teriak pagi-pagi seperti ini cewek gila? Kau ingin membuat telingaku budeg, hah!" sentak Max dengan kesal sambil menggosok rambutnya.


"Ya ... bagaimana saya tidak menjerit. Tuan itu mes-um sekali ... keluar dari kamar mandi bukannya pakai baju," jawab Olivia dengan nada yang kesal. "Anda sengaja ya ingin mengotori mata suci saya?"


Mendengar itu Max malah terkekeh kecil. "Kau bilang apa? Mata suci? Memangnya matamu itu masih suci? Aku yakin kau sudah sering melihatnya. Lagi pula, suka-suka aku lah ... ini kan kamarku. Mau aku keluar dari kamar mandi pakai handuk, pakai baju ataupun tidak memakai apapun, itu adalah masalahku Kalau kau melihatnya, anggap saja itu keberuntungan dan juga rezeki di pagi hari, tidak usah munafik." sindir Max dengan nada yang ketus.


Olivia tidak terima dikatakan seperti itu. Dia pun membalik badannya dan menatap tajam ke arah Max yang saat ini ternyata hanya beberapa langkah darinya. "Anda dengar ya Tuan arogan! Saya tidak pernah melihat kotak bebek seperti itu, dan asal Anda tahu! Saya selalu menjaga mata ini. Kalau Anda berpikir itu adalah rezeki dan keberuntungan di pagi hari, maka bagi saya sebaliknya ... itu adalah malapetaka dan kesialan, paham!"


Olivia pun beranjak untuk pergi dari kamar tersebut, akan tetapi tiba-tiba saja Max menariknya hingga membuat wanita itu tertarik dalam dekapannya.


Tatapan mereka terkunci satu sama lain untuk beberapa detik, hingga Olivia merasakan degup jantungnya semakin berdetak kencang. 'Astaga! Jantungku rasanya mau copot l. Kenapa baunya wangi sekali dan ... tidak, tidak. Apa yang kau pikirkan Olivia?' Wanita itu pun langsung mendorong tubuhnya lalu menamparnya.


"Berani sekali Anda menarik dan memeluk tubuh saya! Anda pikir saya ini wanita murahan? Jaga sikap Anda ya, Tuan. Saya ini memang seorang pelayan, saya bekerja di kantor Anda. Tapi Tuan tidak bisa merendahkan harga diri saya!" marah Olivia. Padahal dia saat ini tengah menutupi debaran jantungnya..


BERSAMBUNG......

__ADS_1


1 Bab lagi nanti malam ya All😘


__ADS_2