
Amanda sudah menyiapkan pakaian untuk suaminya, tetapi Mama Inghit tidak bisa ikut, karena dia sedikit tidak enak badan.
"Emangnya kita akan ke mana sih, sayang?" tanya Ethan saat selesai membersihkan diri.
"Itu ... mama ngajak kita buat makan malam ke rumahnya. Katanya ada acara anniversary dari temannya gitu yang baru datang dari Turki," jawab Amanda.
"Kenapa dirayainnya di rumah mama?" bingung Ethan, karena menurut dia itu tidak masuk akal.
Amanda hanya mengangkat kedua bahunya saja. "Mama bilang sih karena mereka sudah lama tidak bertemu. Tapi entahlah ... namun dibalik itu semua juga, kata mama ada sesuatu hal, tapi dia tidak mengatakannya tadi siang."
"Sesuatu hal?" Ethan menaikkan salah satu alisnya, mencoba berpikir tentang sesuatu itu. "Mungkinkah akan menjodohkan Haris, lagi?"
Mendengar hal itu Amanda malah terkekeh, "kamu ini ada-ada aja deh, mas. Mana mungkin mama dan papa mau menjodohkan Haris? Dia kan sudah nikah sama Alea."
"Iya, siapa tahu kan ... aoalnya kalau Darius juga tidak mungkin, dia sudah bersama dengan si Fitri."
"Sudahlah ... lebih baik kita berangkat sekarang! Ayo kamu pakai dulu ya kemejanya." Amanda memberikan pakaiannya kepada Darius, kemudian dia pun keluar dari kamar.
Langkahnya menuju kamar mertuanya, karena Amanda ingin melihat keadaan Mama Inggit. "Apa Mama beneran tidak apa-apa jika aku tinggal ke rumahnya mama Dina? Mama benar-benar tidak ingin ikut?" tanyanya sambil duduk di tepi ranjang.
"Tidak Nak. Mama hanya sedikit pusing saja. Kamu pergi saja sama Ethan, tapi pulangnya jangan terlalu malam ya!"
Amanda mengangguk, kemudian dia mencium tangan Mama Inggit lalu pergi menunggu di ruang tamu. Dan tak lama Ethan pun turun lalu mereka pergi dari sana.
Sepanjang perjalanan lidah Amanda terasa kecut, dia ingin sekali ngemil sesuatu, dan saat melihat di pinggir jalan ada cemilan olos dia pun meminta suaminya untuk berhenti.
"Sayang, apa tidak akan sakit perut?" Khawatir Ethan saat melihat Amanda begitu lahap memakan cemilan kaki lima tersebut.
__ADS_1
"Enggak dong. Kamu mau nyoba?" Amanda menyodorkan kepada Ethan, tetapi pria itu langsung menggelengkan kepalanya.
"Tidak, terima kasih. Sebaiknya kamu yang habiskan!" tolaknya, padahal memang Ethan tidak suka dengan makanan itu.
Dia memang tidak terbiasa memakan makanan kaki lima, jadi saat melihat istrinya makan dengan begitu lahap, ada sedikit rasa khawatir karena takut jika Amanda nantinya akan sakit perut atau malah berdampak buruk pada kandungannya. Tapi sang istri selalu meyakinkan Ethan bahwa semua akan baik-baik saja.
Selama di dalam perjalanan tidak banyak obrolan yang mereka bahas, hanya seputar kehamilan dan juga acara syukuran 4 bulanan nanti. Hingga tidak terasa mobil pun sudah sampai di kediamannya Mama Dina.
"Assalamualaikum," ucap Amanda dan juga Ethan bersamaan.
"Waalaikumsalam," jawab Mama Dina. Dia menyambut Amanda lalu memeluknya, "alhamdulillah ... akhirnya kamu datang. Mama pikir kamu nggak akan datang sayang."
"Mana mungkin Amanda nggak datang, Mah?" jawab wanita itu sambil tersenyum manis, namun seketika tatapannya mengarah kepada Darius dan juga Fitri yang ternyata ada di sana. 'Jadi mereka juga diundang sama Mama? Aku pikir mereka tidak akan ke sini.'
"Maaf ya, mama mengundang Darius dan Fitri juga."
"Tidak apa-apa. Kenapa harus meminta maaf? Ayo kita masuk aja, Mah!" ajak Amanda. Kemudian mereka pun masuk ke dalam ruangan keluarga, di mana saat ini Darius dan juga Fitri berada di sana, dan Fitri menatapnya dengan sinis penuh rasa benci.
Namun, Fitri malah malengos. Dia bahkan tidak menjawab uluran tangan Amanda, dan melihat itu tentu saja Ethan merasa tak suka.
"Sudahlah sayang ... ngapain sih kamu ngajak ngobrol dia. Lihat saja! Sudah seperti ini, bahkan dia tidak pernah berubah, masih saja membenci kamu. Padahal jelas-jelas di sini dia yang salah, tapi aerasa kamu yang memiliki kesalahan yang begitu besar. Aneh kan?" sindir Ethan dengan begitu tajamnya.
"Maksud kamu apa, hah?!" teriak Fitri tidak terima.
"Fitri. Jaga bicara kamu!" tekan Darius.
"Lho ... dia sudah menghina aku, Mas. Emangnya kamu nggak dengar?"
__ADS_1
"Sudahlah ... sebaiknya kamu jangan memulai keributan di sini!" Mendengar tekanan dari suaminya, Fitri pun mendengkus dengan begitu kasar. Tangannya terkepal dengan tatapan tajam ke arah Ethan dan juga Amanda, tetapi kedua orang itu tidak peduli.
"Hai Alea, apa kabar?" Amanda memeluk tubuh Alea.
"Alhamdulillah baik. Mbak sendiri apa kabar?"
"Alhamdulillah aku juga baik. Gimana? Kamu sudah isi?" Amanda menatap ke arah perut Alea, tetapi wanita itu menggelengkan kepalanya.
"Belum Mbak. Mungkin Allah belum mengizinkan, doakan saja semoga aku dan juga Mas Haris cepat diberi keturunan."
"Aamiin!" Amanda tersenyum sambil mengusap lengan Alea. Dia juga berharap wanita itu segera diberikan kepercayaan oleh Allah, dan Alea meminta agar mengelus perut Amanda, sebab ia ingin sekali merasakan hamil. Dia pikir, mungkin siapa tahu dengan mengusap perut seorang wanita hamil bisa ketularan, dan tentu saja Amanda mengizinkan itu.
"Semoga aku juga cepat menyusul ya, Mbak."
"Mana mungkin bisa menyusul. Wanita sepertimu itu tidak pantas ada di keluarga ini!" sindir Fitri sambil menarik sudut bibirnya dengan nada mengejek.
Semua orang yang ada di sana hanya menggelengkan kepalanya saat melihat sikap Fitri yang tidak pernah berubah, sementara Darius merasa tak enak kepada keluarganya.
"Kamu ini tidak pernah berubah ya dari dulu. Bahkan kakimu sudah buntung saja, kamu masih bisa bersikap Arogan seperti itu. Sepertinya azab Allah itu belum membuat kamu jera? Mungkin harus membuat mulut kamu stroke dulu agar tidak bisa berbicara, baru kamu akan menyadari semua dosa-dosamu!" sindir Haris dengan begitu tajam.
"Sudah, sudah. Kenapa kalian malah bertengkar? Kamu juga Fitri. Papa dan Mama mengundang kalian ke sini tidak untuk mencari keributan, jadi stop!" tegas Papa Samuel.
Fitri tidak perduli, dia hanya berdecih dengan tersenyum miring, kemudian Amanda menanyakan di mana sahabatnya Mama Dina. Tetapi mereka lagi berada di jalan dan sebentar lagi akan datang.
Amanda duduk di samping Ethan sambil mengelus perutnya yang mulai membuncit. Sedangkan tatapan Fitri begitu penuh benci kepada Amanda karena kehidupannya sekarang menderita, sedangkan Amanda berbahagia dengan suaminya.
'Lihat saja! Aku tidak akan pernah membiarkanmu bahagia, sekalipun dengan suami barumu. Kau sekarang sedang hamil, dan suamimu begitu sangat sempurna, sedangkan aku ... sudah tidak mempunyai kaki, dan suamiku sering sekali marah-marah denganku. Aku tidak akan pernah membiarkan hidupmu tenang, Amanda! Kamu tidak boleh bahagia di atas penderitaanku. Karena hidupku yang seperti ini itu juga karenamu dan juga Alea. Kalian akan menanggung semuanya!' batin Fitri dengan tatapan tajamnya sambil mengepalkan tangan dengan dada gemuruh menahan dendam.
__ADS_1
Tak lama terdengar suara seseorang yang mengucapkan salam, tentu saja semua yang ada di ruang keluarga seketika berdiri. Namun alangkah terkejutnya Amanda saat melihat siapa tamu tersebut, begitu pula dengan Darius.
BERSAMBUNG.....