
"Bagaimana sayang? Apa kamu sudah datang bulan?" Mama Inggit bertanya kembali karena Amanda sejak tadi hanya diam.
"Iya Mah, aku baru ingat. Seharusnya aku sudah datang bulan." Kemudian Amanda segera melihat kalender yang ada di dinding, dan alangkah terkejutnya dia karena sudah telat 20 hari.
"Bagaimana? Apa kamu telat?" tanya Mama Inggit memastikan.
Amanda segera mengangguk, "iya Mah, aku telat 20 hari." Matanya membulat dengan wajah yang masih terlihat sangat syok. Kemudian satu tangannya mengusap perut. ''Apakah aku ...?'' Wanita itu menggantungkan ucapannya, seakan dia ragu ingin mengatakan bahwa dirinya sedang hamil.
Terlihat wajah mama Inggit begitu sangat senang saat mendengar jika Amanda sudah telat datang bulan, dia pun langsung memeluk tubuh Amanda dan mendekapnya dengan erat.
"Uhuuk! Mah ... Amanda nggak bisa nafas." Wanita itu sedikit menepuk pundak Mama Inggit, dan mendengar keluhan sang menantu Mama Inggit pun langsung melepaskannya. "Maaf sayang, mama kelewat bahagia."
"Kenapa, Mama bahagia?" bingung Amanda dengan tatapan menyipit.
Mama Inggit benar-benar sangat gemas pada menantunya tersebut, kemudian dia mencubit pipi Amanda. "Ya ampun, sayang. Kamu masa belum paham-paham sih? Artinya ... kamu sekarang sedang hamil!" Dia berucap dengan raut wajah yang terlihat berbinar.
"Hamil?" kaget Amanda. Dia juga tak kalah bahagia saat mendengarnya, namun seketika raut wajah Amanda menjadi muram. Dia tidak ingin berekspektasi terlebih dahulu sebelum mendapatkan buktinya jika memang saat ini di dalam perutnya sudah ada buah hatinya bersama dengan Ethan.
"Kenapa wajah kamu malah muram begitu? Seharusnya kamu senang dong, sayang."
Amanda membalikan badannya sehingga membelakangi Mama Inggit. "Bagaimana aku bisa senang, Mah? Aku saja belum tahu apakah memang ini benar hamil atau tidak. Aku ingin rasanya menjerit bahagia, karena selama ini inilah yang aku tunggu untuk mematahkan asumsi dari mantan suamiku. Tapi Mah ... telat datang bulan bukan berarti aku--"
"Kita cek sekarang! Ayo Mama antar kamu ke rumah sakit!"
"Apa perlu, Mah?" Amanda terlihat begitu ragu.
"Perlu. Sekarang kita ke sana dan hasilnya akan kita berikan kepada Ethan jika itu positif. Tapi jika itu negatif, kamu harus lebih giat lagi. Tapi Mama sangat yakin, bahwa kamu sekarang sedang hamil. Ayo sayang!" Akhirnya mereka pun menuju rumah sakit.
.
.
Sesampainya di sana, Amanda langsung menuju ruangan dokter spesialis kandungan, dan mama Inggit langsung meminta dokter itu untuk USG tidak pakai tespek terlebih dahulu.
"Bagaimana Dok? Bener kan dugaan saya kalau menantu saya ini sedang hamil?" Mama Inggit rasanya sudah tidak sabar ingin segera mendapatkan jawaban dari dokter yang sejak tadi fokus kepada layar monitor yang berada di hadapannya.
Jantung Amanda juga kian berdetak kencang nafasnya tertahan saat menantikan jawaban dari Dokter. Dia belum mengerti sama sekali tentang gambar hitam putih yang berada di layar monitor di hadapannya.
"Benar. Ibu Amanda sedang hamil, dan saat ini kandungannya sudah dua minggu." Dokter itu berkata dengan senyuman manis di bibirnya.
"Apa, Dok? Serius? Jadi saya sedang hamil?" kaget Amanda, seakan tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Dokter bahwa sekarang dirinya tengah berbadan dua.
"Iya Bu, selamat ya! Saya ikut senang."
Mama Inggit tak kalah senang, "yeeay!" Dia sampai melompat dengan tertawa riang, kemudian memeluk tubuh Amanda. Namun wanita itu saat ini hanya bisa menatap langit-langit ruangan itu dengan air mata yang sudah membanjiri pipinya. Tangannya gemetar sambil mengusap perutnya.
Dia tergugu sambil memeluk tubuh Mama Inggit. Tidak bisa berkata-kata, karena tidak pernah menyangka jika akhirnya dia akan merasakan bagaimana menjadi wanita hamil dan bagaimana mengandung selama 9 bulan.
"Hei, sayang! Kenapa kamu menangis? Seharusnya kamu senang, Nak, kan sebentar lagi kamu bakal menjadi seorang ibu?" Mama Inggit menghapus air mata Amanda, tapi dia pun malah menangis karena melihat menantunya dia ikut terharu.
__ADS_1
"Mama melarang aku menangis, tapi, Mama sendiri malah menangis," ujar Amanda dengan suara purau.
"Mama menangis karena senang sayang, karena sebentar lagi mama akan mendapatkan cucu dari kamu dan Ethan. Tahu nggak? Ini adalah anugerah terindah yang pernah mama rasakan. Ini adalah hadiah yang paling spesial dan tidak akan pernah terlupakan oleh Mama. Dan mama juga berharap kamu dan bayimu akan selalu sehat sampai dia terlahir ke dunia ini."
Amanda hanya bisa mengangguk sambil menangis. Dia terus memeluk tubuh Mama Inggi sehingga membasahi baju wanita itu, akan tetapi Mama Inggit tidak peduli. Karena saat ini rasa bahagianya telah mendominasi perasaannya, hingga wanita itu pun tidak bisa menahan air mata bahkan saat mereka sedang berada di jalan saat ini untuk pulang ke rumah.
"Mah, apa kita kasih tahu Mas Ethan nanti malam, ya?"
Mama Inggit tampak berpikir, kemudian dia menggeleng dengan pelan. "Jangan! Ethan jangan dikasih tahu dulu!"
"Lho! Tapi kan Mas Ethan juga harus tahu, Mah? Ini anak dia." Amanda seakan tidak setuju.
"Kita harus buat kejutan untuk suami kamu. Jdi memberitahukannya dengan kejutan, biar lebih spesial. Kamu paham kan apa maksud Mama?"
Amanda mengangguk, kemudian mereka pun merencanakan sesuatu untuk memberikan kejutan tentang kehamilan Amanda terhadap Ethan.
.
.
Malam ini Ethan pulang dengan wajah yang lesu. Dia terlihat sangat kelelahan, karena hari ini kantor benar-benar menyita waktu dan juga pikirannya.
"Kamu sudah pulang, Mas? Sini aku bukain jasnya," ucap Amanda.
"Terima kasih sayang," jawab Ethan sambil mengecup kening Amanda dengan lembut.
Sesampainya dia di dapur berpapasan dengan mama Inggit yang akan menyiapkan makan malam. "Kenapa sayang? Ada yang kamu mau?"
"Nnggak Mah. Aku cuma mau buatin Mas Ethan jahe anget aja. Kasihan dia sepertinya kelelahan."
"Ya sudah, tapi apa biar mama saja?" Namun Amanda menolak, karena itu sudah tugasnya sebagai seorang istri, dan dia juga tidak ingin terlalu merepotkan mertuanya, karena Amanda pikir apa yang bisa dia kerjakan maka dia akan melakukannya sendiri.
"Ya sudah Mah, kalau gitu Amanda ke kamar dulu ya." Namun saat beberapa langkah dia pun menghentikannya kemudian berbalik dan menatap pelayan Bi nanti tolong buatin rujak ya dari mangga muda Entah kenapa lidahku asam sekali
"Tapi Non, mangga mudanya gak ada."
Terlihat wajah Amanda menjadi muram, padahal dia ingin sekali memakan mangga muda. Namun, Mama Inggit ingat jika di rumah temannya tak jauh dari sana mempunyai pohon mangga dan buahnya juga sudah sangat banyak.
"Kamu tenang saja! Kebetulan temannya Mama mempunyai pohon mangga. Nanti Mama minta sama dia."
Wajah Amanda seketika langsung kembali sumringah. Dia menatap ke arah Mama Inggit dengan binar bahagia. "Makasih ya, Mah. Maaf jika aku merepotkan."
"Tidak sama sekali kok, sayang. Demi cucu mama." Mama Inggit mengusap perut Amanda, kemudian wanita itu pun pergi menuju kamar untuk memberikan jahe anget yang sudah dibuatnya.
Terlihat Ethan baru saja selesai memakai baju, dia pun segera menaruhnya di atas nakas dan duduk di tepi ranjang. Namun bukannya meminum jahe hangat buatannya, Ethan malah tertidur dan merebahkan kepalanya di pangkuan Amanda.
"Sayang, kalau aku pergi untuk beberapa hari gimana?" Ethan menatap Amanda yang saat ini juga tengah menatap ke arah dirinya.
"Maksud kamu?" bingung Amanda, namun entah kenapa hatinya mendadak menjadi sedih saat Ethan mengatakan bahwa dia akan pergi untuk beberapa hari.
__ADS_1
"Ada pekerjaan di luar kota yang tidak bisa di-handle oleh karyawanku, sekalipun itu sekretarisku. Jadi, aku harus pergi untuk beberapa hari. Ya ... paling lambat sekitar 3 hari lah. Apa kamu tidak apa-apa aku tinggal sebentar?"
"Emangnya kapan kamu akan berangkat?" Amanda memalingkan wajahnya, seketika air matanya mengenang di kedua netra wanita itu, karena entah kenapa perasaannya sekarang sangat sensitif mudah sekali mellow.
"Kamu jangan nangis dong!" Ethan bangkit dari tidurnya, kemudian dia duduk di sebelah Amanda dan memegang bahu wanita itu.
"Enggak. Siapa juga yang nangis." Sangkal Amanda, namun air matanya malah menetes. Melihat itu Ethan malah terkekeh, "kalau nggak menangis, terus ini apa?" Pria itu menoel hidung Amanda dengan gemas, tetapi Amanda malah mendengus dengan kesal karena terus saja diledek oleh suaminya..
"Kamu pasti lama ya di sana?" ucapnya tak rela.
"Enggak kok, sayang. Aku kan udah bilang, paling lama itu 3 hari. Tapi paling cepat 2 hari udah pulang." Ethan mencoba untuk memberi pengertian kepada istrinya.
Rasanya wanita itu ingin sekali marah, menolak, bahkan tidak membiarkan Ethan pergi. Tapi Amanda tidak boleh egois, karena dia tidak ingin menghalangi pekerjaan Ethan.
"Pergilah! Aku tidak apa-apa. Lagi pula di sini ada Mama kok." Terlihat wajahnya begitu berat mengizinkan kepergian Ethan.
"Aku janji tidak akan lama, dan aku akan segera menyelesaikan pekerjaanku." Amanda hanya mengangguk pasrah.
"Ya sudah, kalau gitu kita siap-siap sholat isya dulu yuk!" ajak Amanda. Ethan mengangguk, tapi sebelum mereka mengambil wudhu Ethan terlebih dahulu menghabiskan jahe hangat yang sudah dibuatkan oleh istrinya.
.
.
Pagi hari Ethan akan bekerja, namun tiba-tiba saja saat Amanda sedang memasangkan dasinya dia berkata, "nanti pulangnya sorean ya! Kalau bisa jam 16.00!"
"Memangnya kenapa? Kok tumben sekali kamu nyuruh aku pulang lebih awal?" Ethan melingkarkan tangannya di pinggang ramping sang istri, kemudian dia menatap lekat ke arah wanita yang sangat dicintainya itu.
"Tidak apa-apa, kebetulan mama nanti malam ngajak makan di luar. Jadi kamu harus pulang lebih awal ya!"
"Oh, begitu ... ya sudah, nanti aku pulang lebih awal." Pria itu pun mengecup bibir Amanda sekilas. "Sayang, kok aku rasa perut kamu sedikit membuncit ya? Kayaknya kamu kebanyakan makan deh," kelakar Ethan.
"Biar aja. Memangnya kenapa kalau aku buncit? Kamu udah nggak mau sama aku? Iya?" selidik Amanda dengan wajah cemberut.
Ethan segera mencubit hidung wanita itu. "Mau kamu gendut, mau kamu ramping, bagiku kamu tetap wanita tercantik dan aku tidak akan pernah berpaling kepada wanita manapun."
"Gombal." Amanda mencubit dada bidang pria tersebut.
"Jangan menggoda aku ya! Ini masih pagi, dan aku mau bekerja. Jangan sampai aku lupa untuk pergi bekerja ke kantor dan malah khilaf," goda pria tersebut sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Siapa juga yang menggoda. Emang dasarnya kamu nggak bisa di toel dikit, sensitifnya terlalu tinggi." ledek Amanda.
Mereka pun turun ke lantai bawah, tapi saat akan sampai di meja makan, Ethan mendengar mamanya sedang teleponan dengan seseorang.
"Pokoknya semuanya harus perfect, dan kamu harus menyiapkan apa yang saya mau, oke!" titah Mama Inggit pada seseorang yang ada di seberang telepon.
"Menyiapkan apa, Mah?" tanya Ethan dengan penasaran.
BERSAMBUNG......
__ADS_1