
Happy reading....
"Oke gini-gini, aku jelasin ya. Tapi tunggu dulu! Tadi kau bilang bukan Mona, lalu aiapa wanita yang sudah membuat Jantungmu berdebar, jika bukan Mona?" Nancy malah semakin penasaran.
"Tidak penting. Kau jawab saja pertanyaanku! Kalau tidak, aku akan pergi dari sini!" ancam Ethan
Jujur dia sangat malu jika sedari tadi Nancy terus saja menertawakan dirinya, seakan dia itu adalah badut yang sedang beraksi mempertontonkan dirinya.
"Jangan ngambek, kenapa sih. Oke aku akan jelasin. Dari analisa sih sepertinya bukan penyakit jantung, jika jantungmu berdebar dengan keras, kamu merasa gugup, merasa gelisah saat berada di sisi seorang wanita, itu artinya kamu sedang jatuh cinta kepadanya. Tapi beda lagi jika tidak ada wanita itu, jantungmu terasa biasa saja. Apa itu terjadi kepadamu?" Nancy menaik turunkan alisnya sambil menatap ke arah Ethan.
Mendengar penjelasan dari sahabatnya, Ethan terdiam, karena apa yang dikatakan Nancy memang benar. Jika Amanda tidak berada di sisinya, Ethan tidak merasakan jantung yang berdebar malah terkesan biasa saja.
"Tuh kan, malah diem. Bukannya dijawab! Katanya mau tahu jawabannya seperti apa!" kesal Nancy dengan wajah cemberut.
"Lalu, apa kau pikir itu jatuh cinta?" tanya Ethan lagi.
"Bukan, itu artinya ngajak gelut. Ya jatuh cinta lah! Gimana sih. Lo selama ini sama si Mona gimana perasaannya? Masa iya lo cinta sama Mona tapi nggak pernah ngerasain dag dig dug, apa sih? Herman gue!" Nancy malah menjadi kesal sendiri saat mendengar perkataan dari Ethan.
"Okelah, kalau gitu aku balik dulu ke kantor masih ada kerjaan." Ethan bangkit dari duduknya sambil merapatkan jas, kemudian keluar dari ruangan sahabatnya.
Melihat itu Nancy menganga dengan mata membulat, dia sudah meluangkan waktu untuk menunggu kedatangan Ethan dan membatalkan untuk memeriksa pasiennya, sementara saat Ethan datang bahkan tidak mengucapkan kata terima kasih sama sekali, dan langsung pergi begitu saja dari ruangannya.
"Dasar lo kembarannya es kutub! Bukannya bilang makasih, bukannya dijawab pertanyaan gue, malah kabur gitu aja! Woi!" teriak Nancy yang merasa kesal.
__ADS_1
Dia benar-benar penasaran dengan wanita yang sudah membuat sahabatnya merasakan dag dig dug ser, dan jika bukan Mona lalu siapa pikiran Nancy.
"Beruntung sekali wanita itu yang sudah mencairkan es batu yang selama ini membeku dalam kulkas. Aku jadi penasaran secantik dan semenarik apa sih wanita itu?" Nancy memiringkan bibirnya dengan alis terangkat satu.
Sementara Ethan duduk termenung di dalam mobil, memikirkan penjelasan dari Nancy. Kemudian dia memegang dadanya, di mana di saat dia memejamkan mata bayang-bayang Amanda seketika menghantui dan jantungnya kembali berdetak lebih cepat.
'Apa Iya aku jatuh cinta sama Amanda? Tapi rasanya tidak mungkin, baru beberapa kali kami bertemu. Apakah sebuah rasa segampang itu masuk ke dalam hatiku? Bahkan Mona saja tidak bisa membuatku merasakan deg-degan seperti ini.' batin Etan bertanya-tanya.
.
.
Waktu jam makan siang telah tiba, di mana Ethan sudah mengirimkan alamat kepada Amanda. Karena wanita itu akan datang ke tempat tersebut.
"Eh, Bu Bos. Lo mau ke mana? Mau makan siang aja sampai harus mematut diri depan cermin? Jangan-jangan ... lo mau makan siang sama calon gebetan ya?" ledek Lulu.
"Gebetan pala lu peyang! Jangan ngada-ngada. Udah ah, gue berangkat dulu ya. Dan sebaiknya lo juga rapihin tuh penampilan! Kan lo juga mau makan siang sama yayang." Amanda kembali meledek Lulu dan seketika dia mendapatkan lemparan pulpen.
Namun Amanda malah terkekeh saat melihat wajah kesal milik sahabatnya, karena jika Lulu digoda soal Rizal pasti wanita itu akan langsung merengut kesal.
Tiba-tiba pintu ruangannya diketuk, dan salah satu karyawannya pun masuk.
"Permisi Mbak Lulu, di depan ada seorang pria yang sedang menunggu Mbak."
__ADS_1
"Ciee ... ayang udah datang tuh. Udah sana samperin! Gue juga mau keluar, ayo bareng!" ajak Amanda.
Lulu manggeleng, namun Amanda menarik tangannya membuat Lulu seketika mau tak mau harus keluar dan menemui Rizal.
"Tuan Rizal, saya titip sahabat somplak saya ya! Kalau dia nakal, tinggal dicubit aja. Kalau nggak mempan, dijewer, kalau nggak mempan juga, dicium." kelakar Amanda, kemudian dia pergi dari sana sedikit berlari karena takut mendapat lemparan sepatu hak dari Lulu.
"Woi Markonah! Enak aja lo kalau bilang ya! Cium cium. Belum mahram!" teriak Lulu dengan wajah ditekuk.
Sementara Rizal tersenyum saat mendengar ucapan dari Amanda. Dia tidak menyangka jika Amanda bisa bercanda seperti itu, padahal dia juga mengetahui jika wanita itu baru saja mendapatkan masalah yang begitu besar di hidupnya.
"Kita berangkat sekarang, ayo!" ajak Rizal sambil mengulurkan tangannya ke arah Lulu.
Melihat itu Lulu malah melengos. "Aku bukan anak kecil yang akan kabur, tidak usah digandeng."
"Ya kalau kamu tidak mau di dendeng, aku gendong." Seketika Lulu menatap ke arah Rizal dengan tatapan membulat.
"Jangan macam-macam ya! Belum nikah aja udah macam-macam!" ancam Lulu dengan sorot mata yang tajam dan jari telunjuknya menunjuk tepat di wajah pria tampan tersebut.
Kemudian dia pergi meninggalkan Rizal dan masuk ke dalam mobil pria itu, sementara Rizal hanya terkekeh kecil saat melihat kekesalan Lulu, karena di matanya wanita itu sangat cantik jika dia merasa kesal.
'Benar-benar menggemaskan!' batin Rizal.
BERSAMBUNG.....
__ADS_1