
25 tahun kemudian.
"Max!" panggil Amanda dari lantai bawah.
Akan tetapi setelah beberapa saat tidak ada sahutan dari pria yang ada di lantai atas. Terlihat Ethan keluar dari kamarnya dan langsung mendekat Amanda dari belakang.
"Sayang, udah deh jangan genit-genit. Ini masih pagi," ujar Amanda sambil menepis tangan suaminya yang melingkar di pinggang.
"Ya ampun sayang! Emang kenapa sih? Kan kita ini udah sah."
"Malu lah, Mas. Udah punya dua anak juga." Amanda menggelengkan kepalanya. Merasa heran dengan sikap manja suaminya, walau sudah 25 tahun mereka membina rumah tangga.
"Mama, Papa," ucap Jessica sambil melipat tangannya di depan dada. "Kalian ini sudah tua juga ... masih aja pacaran. Di sini masih ada Jessica lho!"
"Tahu nih sayang, Papa kamu genit banget. Ayo kita ke meja makan!" ajak Amanda sambil menggandeng tangan putrinya.
"Oh ya Mah, bulan depan kan aku udah lulus sekolah. Rencananya aku mau nerusin kuliah di luar negeri, di Kanada, boleh kan?" Jessica menatap ke arah kedua orang tuanya.
"Tentu saja sayang, papa setuju. Lebih baik kamu menempuh pendidikan di luar negeri saja. Memangnya kamu sudah menemukan Universitas mana yang akan kamu ambil?" Mendengar itu Jessica langsung menganggukkan kepalanya.
"Iya Pah, aku juga mau mengambil jurusan kedokteran sesuai yang aku mau. Maaf ya, aku nggak mau mengambil bisnis, karena aku lebih suka jurusan itu."
Amanda langsung mengusap kepala Jessica. "No problem, sayang. Nggak masalah kamu mau mengambil jurusan bisnis atau kedokteran. Apapun itu, mama dan papa akan selalu mendukung kamu."
"Makasih Mama sayang." Jessica langsung memeluk tubuh Amanda dari samping.
"Aduh ... pagi-pagi udah ada acara peluk-pelukan aja," ujar Mama Inggit sambil duduk di kursinya. "Tapi ngomong-ngomong ... Max ke mana? Kok dia belum turun sih?"
"Nggak tahu Mah, tadi padahal Amanda sudah manggil dia. Paling sebentar lagi juga turun," jawab Amanda sambil menyiapkan makanan untuk suami dan juga mertuanya
"Makasih Istriku yang cantik."
__ADS_1
Jessica hanya tersenyum sambil melirik ke arah Mama Inggit. Mereka benar-benar bersyukur melihat keharmonisan rumah tangga dari Amanda dan juga Ethan.
Tak lama seorang pria tampan mengenakan jasi dengan setelan jas datang ke ruang makan. "Good morning Ma, Pa, Oma dan adikku yang tersayang."
"Good morning," jawab Jessica sambil mengunyah rotinya. "Kak, hari ini aku nebeng ya. Soalnya sopir lagi sakit." Jessica menatap sang Kakak dengan wajah memelas.
"Ya udah, nggak papa." Max duduk di kursinya lalu mengambil roti dengan selai coklat kemudian meminum kopi yang telah dibuatkan oleh pelayan.
"Pah, hari ini klien dari Filipina akan datang. Kita udah janjian buat meeting di salah satu restoran."
"Oh ya? Bagus dong. Tapi ngomong-ngomong kemarin kan Clarisa mengundurkan diri, karena mau lahiran, terus kamu udah dapat sekretaris baru belum?" Ethan menatap lekat ke arah putra tampannya tersebut
"Belum, tapi udah ada beberapa sih yang daftar, nanti diurus sama Reza."
Setelah sarapan Max dan juga Jessica pamit kepada kedua orang tuanya. Dia duduk di samping sang kakak, sementara Max sedang mengerjakan pekerjaannya lewat email
"Oh ya Dek, kamu jadi nanti buat kuliah di Kanada?"
Max mengusap kepala Jessica kemudian gadis itu pun masuk ke dalam sekolah, dia disambut oleh kedua temannya.
Dia menuruni mobilnya lalu masuk ke dalam kantor diikuti oleh beberapa ajudan yang selalu mengawal nya.
"Selamat pagi Tuan," sapa Reza saat berpapasan dengannya di lobby. Max hanya menganggukan kepalanya lalu mereka berdua masuk ke dalam lift untuk menuju lantai atas diiringi oleh semua karyawan yang menundukkan kepalanya saat Max melewati mereka..
"Tuan Max itu benar-benar tampan ya, seperti aktor-aktor Korea. Badannya atlentis, rahang tegas, hidung mancung, bibir tebal, ah ... pokoknya sempurna. Aku pengen jadi istrinya, tapi sayang dingin banget kayak es batu," ucap salah satu karyawan dengan nada berbisik sambil menyenggol temannya.
"Jangan terlalu berharap tinggi, nanti kalau jatuh sakit loh ... mending nyungsepnya ke kasur kalau nyungsepnya ke dalam lumpur, gimana?, kekeh temannya, "kita ini hanya karyawan biasa, Mana bisa bersanding dengan dia. Sudah, mendingan sekarang kita kerja daripada nanti kena semprot sama Tuan Max."
Sementara di lantai atas Max sedang duduk di kursi kebesarannya. Dia menatap ke arah Reza, seorang pria tampan, perawakan tinggi, tegap yang berumur 23 tahun.
"Kamu sudah urus semuanya untuk meeting nanti siang, Za?" tanya Max dengan nada yang begitu dingin.
__ADS_1
"Sudah Tuan. Oh ya, Tuan, ini beberapa kandidat calon sekretaris Anda, silakan dicek! Saya sudah mengeceknya dan sudah mewawancara mereka, tapi siapa tahu Tuan memiliki pilihan yang tepat."
Max mendorong beberapa berkas tersebut. "Aku percaya kau akan memilihkan sekretaris yang terbaik. Jadi kau saja yang memilih, aku tidak ada waktu."
"Baik Tuan," jawab Reza, kemudian dia membuka berkas tersebut. "Saya memilihkan salah satu wanita dan saya pikir dia cocok dengan pekerjaan ini. Ditambah iq-nya juga lumayan." Max hanya menganggukan kepalanya saja, karena dia sudah percaya dengan pilihan dari asistennya.
"Tuan, sebelum kita meeting dengan klien yang dari Filipina, kita ada pertemuan dengan salah satu kolega bisnis di restoran Melati."
"Baiklah, kita berangkat sekarang," ujar Max. Dia merapikan jasnya kemudian mereka keluar dari ruangan untuk menuju tempat di mana saat ini pertemuan sedang diadakan.
Setelah sampai di sana, Max dengan wajah datarnya dan aura yang begitu dingin memasuki sebuah ruangan, membuat siapa saja bungkam. Walaupun umurnya masih sangat muda, tapi dia memiliki aura yang begitu menakutkan.
"Selamat pagi Tuan Max," sapa seorang pria yang berumur 40 tahun.
"Langsung mulai saja," ucap Max dengan nada dinginnya. Kemudian mereka pun melakukan pertemuan untuk membahas sebuah bisnis kerjasama.
Setelah 30 menit Max kembali ke kantor, karena 2 jam lagi dia akan meeting bersama dengan seorang klien yang penting. Lria itu memasuki mobilnya, akan tetapi baru saja dia akan masuk tiba-tiba ada seorang wanita yang menabraknya hingga hampir saja terjatuh, untung Max langsung menangkapnya hingga mereka beradu tatapan beberapa detik.
Menyadari itu, Max langsung menjatuhkan wanita tersebut. "Kalau jalan itu lihat-lihat!" sentaknya dengan kasar.
"Maaf, saya tidak sengaja. Saya buru-buru ... dan seharusnya Anda juga kalau jalan pakai mata." Wanita itu merengut dengan kesal sambil mengusap bokongnya yang terasa sakit.
"Kau! Berani sekali kau memarahiku?"
"Kenapa tidak? Memangny kau siapa? Sudahlah saya tidak punya waktu berdebat dengan Anda," ujar wanita itu sambil melengos begitu saja pergi meninggalkan Max.
Reza mengerutkan keningnya, dia seperti sangat familiar dengan wajah dari wanita tersebut. 'Kenapa wajahnya benar-benar tak asing ya? Sepertinya aku pernah melihatnya, tapi di mana?' batin Reza.
"Hei! Kenapa kau diam saja? Ayo cepetan kita ke kantor!" Max melihat ke arah Reza, membuat lamunan pria itu seketika buyar. 'Iya Tuan," jawab Reza kemudian mereka masuk ke dalam mobil.
Namun saat Max melihat ke arah jas, ada sebuah jepitan yang tersangkut di kancing jasnya. ''Apa ini milik wanita tadi?" lirihnya.
__ADS_1
BERSAMBUNG......