Rahasia With Ipar

Rahasia With Ipar
S2. panik


__ADS_3

Malam ini Max lembur sampai jam 19.00, setelah kerjaan selesai dia pun pulang dan disana juga masih ada Reza.


"Apa perlu saya antarkan, Tuan?" tanya Reza.


"Boleh deh. Aku juga lagi lelah, males menyetir." Kemudian kedua pria tampan itu pun menuruni kantor yang sudah sepi, mereka memasuki mobil dan menuju salah satu restoran favorit Max.


Pria itu enggan makan di rumah, dia ingin sambil bersantai di sebuah restoran yang selama ini menjadi tempat favoritnya. Setelah sampai di sana Max langsung duduk dan pelayan sudah tahu menu makanan apa yang diinginkan oleh pria itu.


"Kamu juga makan sekalian Za," ucap Max pada Reza.


Pria itu hanya menganggukkan kepalanya, lalu Max mengeluarkan ponselnya dan membalas pesan dari sang Mama bahwa dia pulang terlambat.


Akan tetapi, saat seorang pelayan sedang mengantarkan minuman, tiba-tiba saja seseorang menyenggol bahunya hingga nampan itu pun tumpah.


"Lo punya mata nggak sih? Mata lo ditaruh di mana, hah?" bentak wanita itu.


"Maaf, saya tidak sengaja Nona," ucap pelayan tersebut sambil menundukkan kepalanya.


"Kerja itu yang bener dong!" sentak wanita yang berpakaian glamour sambil berjalan meninggalkan pelayan tersebut dan menyenggol bahunya lumayan keras


Max tidak berkutik, dia hanya diam saja sambil menatap keributan tersebut tanpa ingin ikut campur. Tapi seketika mata pria itu membulat. "Lho, dia kan wanita yang tadi siang menabrak aku?"


Tak lama seseorang datang ke mejanya sambil mengantarkan makanan serta minuman. "Ini Tuan minuman--" Ucapan pelayan itu terhenti saat melihat pria tampan yang saat ini tengah menatapnya dengan tajam. "Lho! Anda!"


Max hanya diam sambil menatap ke arah pelayan tersebut. 'Sial banget sih, kenapa gue harus bertemu dengan cowok kayak dia lagi? Ya udahlah, yang penting makanannya gue anterin dulu, daripada nanti gue dimarahin sama bos.' batin wanita tersebut. "Ini Tuan makanannya, zilakan dinikmati. Apa ada yang diperlukan lagi, Tuan?"


Max hanya menggelengkan kepalanya dengan wajah datar, dan melihat itu wanita tersebut pun langsung pergi dari sana.


'Olivia ... nama yang sangat bagus. Tapi sayang tidak sebagus etitude-nya.' batin Max saat melihat name tag yang berada di baju pelayan tersebut.


"Tuan, mari kita makan!" ajak Reza. Max langsung mengangguk lalu mereka pun menyantap makanan.


Setelah jam menunjukkan pukul 20.30 malam, Max dan Reza berinisiatif untuk pulang karena mereka juga sudah sangat lelah. Namun saat keduanya melewati sebuah jalanan, melihat seorang perempuan tengah diseret oleh dua orang preman.

__ADS_1


"Tuan, wanita itu sepertinya dalam kesulitan?"


"Biarkan saja. Kau ini senang sekali ikut campur urusan orang."


"Seperti itu Tuan ... tapi kasihan, sepertinya mereka akan melakukan hal yang tidak senonoh," timpal Reza kembali.


Max melihat ke arah wanita yang membelakanginya tengah diseret oleh kedua preman. Terlihat wanita itu sedang berontak hingga akhirnya Max turun dari mobil. "Sedang apa kalian? Lepaskan wanita itu!"


Dua preman itu pun berbalik, mereka tersenyum mengejek. "Mau apa kau? Sebaiknya sekarang kau pergi dari sini sebelum kami menghabisi nyawamu!"


"Kalian yang akan habis duluan." Max berkata dengan nada dingin, sementara wanita yang tadi sedang meringkuk sambil berjongkok dan menangis.


Perkelahian pun tak bisa terelakkan, akan tetapi Max yang jago bela diri dia mampu melumpuhkan dua orang preman tersebut dengan tenaganya. Fan setelah preman itu kabur, Max menatap ke arah seorang wanita yang saat ini tengah berjongkok di hadapannya.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Max.


Wanita itu tidak menjawab, dia langsung berdiri dan menghambur memeluk tubuh Max, membuat pria itu seketika mematung dan terasa tubuh wanita itu bergetar ketakutan.


"Hei, apa yang kau--" Belum juga ucapannya selesai, wanita tersebut langsung ambruk. Max segera menggendongnya dan dia cukup terkejut saat melihat wajah wanita yang tadi ia tolong ternyata adalah Olivia.


"Bawa dia ke rumah sakit!" Dia mendudukkan Olivia di belakang bersama dengan dirinya


Pria itu menatap ke arah Olivia, mencuri-curi pandang ke arah wajah cantiknya. Ada rasa iba di hati Max, tapi pria tersebut terkenal dengan sifat dinginnya, hingga tidak terasa mobil sudah sampai di rumah sakit dan Max langsung menggendong tubuh Olive dan memasukkannya ke UGD.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Max saat dokter sudah memeriksa keadaan Olivia.


"Pasien tidak apa-apa, hanya mengalami luka lecet saja di tangannya."


Mendengar itu Max hanya menganggukan kepala, tak lama Olivia tersadar, dia membuka mata dan melihat ruangan tersebut serba putih. Dia yakini bahwa dirinya saat ini tengah berada di rumah sakit.


'"Kenapa aku bisa ada di sini?" lirih Olivia sambil memegangi kepalanya. Namun seketika dia teringat bahwa tadi di jalan dia hendak dirampok dan dilecehkan, akan tetapi ada seseorang yang menolongnya.


"Syukurlah kalau kau sudah sadar. Menyusahkan sekali," ucap Max dengan nada datarnya.

__ADS_1


Olivia menatap ke arah samping, dia cukup terkejut saat lagi-lagi bertemu dengan pria yang selalu membuatnya kesal. "Kau!" tunjuk Olivia, "mau ngapain kau di sini, hah? Oh ... jangan-jangan kau yang tadi merampokku dan kau hampir melecehkanku, iya?" tuduhnya sambil menunjuk wajah Max


"Eh wanita purba ... sudah ditolongin tapi kau malah menuduhku, bukannya berterima kasih." Max memutar bola matanya dengan malas. "Sudahlah, sia-sia aku menolongmu dan membawamu ke sini. Dasar wanita tidak tahu diri."


Oliv bangkit dari tidurnya. "Jadi kau yang menolongku? Okelah, terima kasih," ucapnya dengan ketus, kemudian dia bangkit dari tidurnya.


"Kau mau ke mana?"


"Mau pulang lah, ngapain di sini. Lagian gue juga gak kenapa-napa." Oliv lagi-lagi berkata dengan nada yang ketus, dia mengambil tasnya lalu pergi dari sana.


Sesampainya di depan rumah sakit, Oliv celingak celinguk melihat taksi, akan tetapi tidak ada yang lewat, hingga tiba-tiba saja sebuah mobil mewah berhenti di hadapannya.


"Naiklah!" ucap Max tanpa menoleh ke arah Olive sedikitpun.


"Tidak usah, terima kasih. Aku nunggu taksi saja."


"Kau itu keras kepala sekali." Max menatap ke arah Olivia dengan tajam. "Ini sudah malam, dan tidak ada taksi. Sebaiknya kau masuk atau kau ingin dirampok dan juga dilecehkan kembali oleh preman-preman itu?" Mendengar hal tersebut Olivia nampak terdiam, kemudian dia masuk ke dalam lalu mobil melaju meninggalkan rumah sakit.


Tidak ada pembicaraan di dalam mobil, Olivia memandang ke arah samping begitu pula dengan Max. Entah kenapa wajah pria tersebut selalu membuatnya kesal.


Tiba-tiba saja telepon Olivia berdering, dan ternyata itu dari sang adik yang berada di rumah. "Iya halo assalamualaikum, Dek."


(...........)


"Iya, ini Kakak masih di jalan sebentar lagi pulang. Kenapa kok kamu terdengar panik gitu?"


(.............)


"Apa! Ya udah, kalau gitu Kakak pulang sekarang ya." kaget Olivia sebelum mematikan ponselnya. "Tuan, bisa kita lebih cepat!" pintanya kepada Reza


Pria itu hanya menganggukkan kepalanya setelah meminta alamat rumah Olivia. Sementara Max hanya menatap wanita tersebut dari sudut ekor matanya.


'Apa yang terjadi? Kenapa wanita ini terlihat begitu panik?' batinnya penasaran.

__ADS_1


BERSAMBUNG.....


__ADS_2