
Happy reading....
Semua orang di sana tidak menyangka jika Amanda bisa menjadi sebijak itu dalam menangani sebuah masalah yang besar. Padahal tadinya tante Anjani O, Om Umar bahkan tante Inggit berpikir bahwa Amanda akan marah-marah dan malah meninggalkan Ethan.
Akan tetapi, ternyata pengalaman Amanda yang pahit membuatnya bisa berpikir jernih, bahwa apa yang dilihat terkadang tidak sama dengan kenyataannya.
"Mama nggak nyangka, kalau kamu tadi bisa berbicara seperti itu. Mama pikir, tadinya kamu akan marah-marah sama Ethan, terus seperti orang-orang akan meninggalkan suaminya tanpa mau mendengarkan penjelasannya," ucap tante Inggit.
Amanda tersenyum tipis, kemudian dia menyandarkan kepalanya di pundak kekar sang suami sambil menggenggam tangan Ethan.
"Awalnya Amanda juga sangat syok. Amanda kaget karena memang foto itu asli, tapi ... pengalaman Amanda dalam mengarungi sebuah rumah tangga itu memberikan pelajaran tersendiri, bahwa terkadang apa yang kita lihat belum tentu kenyataannya seperti itu. Manusia hanya melihat dari luar saja tanpa mereka tahu dalamnya seperti apa. Jadi sekarang aku mau minta penjelasan dari kamu Mas. Kenapa hal itu bisa terjadi?" Amanda menatap ke arah suaminya.
Ethan benar-benar bangga karena Amanda percaya kepada dirinya, padahal pria itu juga sudah ketakutan bahwa Amanda akan meninggalkannya. Tapi ternyata dia memang tidak salah dalam memilih seorang istri, di mana wanita tersebut bukan orang bodoh yang gampang untuk percaya pada sesuatu hal yang belum tentu benar.
Kemudian Ethan pun menjelaskan awal mula Mona datang ke kantor dan sampai wanita itu memberikan puding. Dia juga menceritakan semuanya sampai detail tidak ada yang ditutupi oleh Ethan sama sekali, karena Ia tidak mau semua orang curiga ataupun berprasangka buruk kepadanya.
"Kau itu bodoh! CEO tapi kok bodoh banget sih!" geram Lulu yang sejak tadi diam akhirnya angkat bicara.
"Sayang, kamu itu apaan sih?" Rizal menyenggol tubuh istrinya.
"Memangnya kenapa, Mas? Toh apa yang aku bicarain itu benar. Dia memang bodoh! Untuk apa dia memakan puding itu? Sudah tahu yang datang itu adalah seekor ular betina yang sangat berbisa, tapi dia malah memakan puding itu. Kalau aku jadi Ethan, tanpa rasa kasihan ku tendang aja wanita itu keluar!" gerutu Lulu.
Ethan menyetujui ucapan wanita barbar itu, karena apa yang dikatakan Lulu benar. Dia memang terlalu bodoh sehingga percaya begitu saja, seharusnya dia juga bisa berlakukan kasar dan langsung menendang Mona begitu saja dari kantornya.
"Ya ... kamu benar, aku memang bodoh terlalu percaya. Seharusnya aku bisa lebih waspada lagi, tapi ya mau gimana lagi ... itu semua sudah terjadi." Ethan mengangkat kedua bahunya.
__ADS_1
"Jadi sekarang jadikan ini adalah pelajaran untuk kamu Ethan, ataupun Amanda. Kalian harus berhati-hati kepada orang lain yang tidak menyukai kalian, ataupun orang-orang baru, karena kita tidak tahu musuh kita itu siapa? Kadang ada juga musuh dalam selimut, jadi tetap waspada supaya rumah tangga kalian juga langgeng sampai kakek nenek. Ingat pesan Papa satu! Junjung tinggi kesetiaan, kepercayan dan kejujuran. Karena itu adalah penting. Jika ada masalah apapun, bicarakan baik-baik jangan pakai emosi, oke." Om Umar memberikan nasehatnya kepada pasangan pengantin itu.
"Iya Pah, Papa tenang aja! Amanda dan juga Mas Ethan akan, setia berjuang untuk rumah tangga kami. Dan kami tidak akan membiarkan sebuah perusak masuk ke dalamnya."
.
.
Acara resepsi pun dilaksanakan, semua tamu undangan datang ke sana dan terlihat Akmal beserta Sania pun naik ke atas pelaminan untuk mengucapkan selamat.
"Selamat ya Amanda! Kakak berharap kamu bahagia bersamanya. Dan semoga rumah tangga kalian langgeng sampai kakek dan nenek," ucap Akmal sambil memeluk tubuh Amanda.
Ethan yang melihat itu pun merasa cemburu kemudian dia langsung berdehem, "ekkhm! Kalau mau peluk-peluk itu jangan lama-lama."
Akmal hanya terkekeh, "kau ini ... nggap saja ini adalah pelukan terakhirku untuk Amanda. Jangan galak-galakn! Cemburu itu boleh, tapi jangan terlalu posesif."
Sania terus saja menatap ke arah Rizal dan juga Lulu yang tengah duduk tak jauh dari mereka sambil saling bersuapan satu sama lain, keduanya terlihat begitu serasi.
"Apakah dia pria yang pernah singgah di hatimu?" tanya Akmal.
"Ya ... dia adalah pria itu. Tapi sepertinya dia sudah bahagia bersama istrinya, jadi aku sudah tidak mempunyai ruang apapun." Sania meminum jus yang ada atas meja.
"Aku yakin kau pasti bisa melupakannya. Bukan kau saja, tapi kita juga harus Ikhlas. Jtu memang susah, berusaha pula juga susah, tapi tidak ada salahnya kita mencoba. Karena kalau kita berusaha menghancurkan keluarga mereka juga percuma, hanya akan membuat mereka membenci kita," jelas Akmal.
Sania mengangguk, dia mencoba untuk melupakan dan merelakan Rizal untuk Lulu. Walaupun sebenarnya hati dia sangat sakit melihat kebahagiaan mereka berdua.
__ADS_1
Kemudian tatapannya mengarah ke atas pelaminan, di mana saat ini Amanda dan juga Ethan tengah tersenyum bahagia apalagi mereka sudah mulai berdansa.
"Mau dansa bareng?" Akmal mengulurkan tangannya, kemudian Sania mengangguk lalu dia mengalungkan tangannya ke leher pria itu, sementara kedua tangan Akmal mengapit pinggang Sania.
"Boleh aku tanya sesuatu?" tanya Akmal.
"Apa itu?"
"Kenapa Lulu memanggil kamu dengan kembarannya minyak goreng?" Akmal teringat dengan beberapa waktu yang lalu saat dia berpapasan dengan Lulu dan mengatakan jika Sania adalah kembarannya minyak goreng.
Jujur itu selalu mengganggu pikirannya, di mana Akmal selalu ingin tertawa saat mendengar kebarbaran dari Lulu yang selalu ceplas-ceplos dalam berkata apapun.
"Entahlah ... dia bilang namaku Sania. Sania itu merk minyak goreng, jadi dia menyebutku dengan kembaran minyak goreng."
Akmal malah tertawa mendengar itu, membuat wajah Sania seketika merengut. "Maaf ... maaf. Ya memang terdengar lucu sih. Memangnya ada ya minyak goreng merk nama kamu?" Akmal tak bisa menahan tawanya.
"Entahlah, mungkin memang ada. Aku juga tidak pernah masak, jadi aku tidak tahu. Tapi nanti aku tanya Bibi deh, penasaran juga aku. Jangan ketawa terus dong!" Sania mencubit pinggang Akmal.
"Oke sorry ... sorry." Akmal menatap dalam ke arah mata Sania, begitu pula dengan wanita tersebut.
Hingga beberapa detik kemudian wajah mereka semakin mendekat, dan Akmal mendaratkan kecupan singkat di bibir wanita itu. Sania yang mendapatkan perlakuan seperti itu pun hanya bisa memejamkan matanya.
Namun Akmal yang segera sadar langsung menarik dirinya, hingga kecupan itu pun terlepas. "Maaf," ucapnya dengan nada menyesal.
"Tidak apa-apa," jawab Sania dengan wajah yang sudah merona malu. Kemudian lampu kembali menyala dan mereka kembali duduk di kursi dengan rasa canggung.
__ADS_1
BERSAMBUNG......