
"Kamu setiap hari harus menyambut aku pulang dan membukakan pintunya! Tapi sebelum aku masuk, kamu tidak boleh masuk."
"Apa harus seperti itu?" protes Manda.
"Harus dong sayang." Ethan melingkarkan tangannya di pinggang Amanda. "Pokoknya setiap hari, kamu harus menyambut aku pulang dan tidak ada penolakan! Bukankah memang seharusnya istri seperti itu?"
Amanda akhirnya mengangguk. Dia rasa permintaan dari Ethan tidak ada salahnya, dibandingkan pria itu malah meminta dirinya untuk melayani di atas kasur karena saat ini perut Amanda sering keram.
Mereka turun ke lantai bawah dan sudah ada Viona dan juga mama Inggit yang sedang menunggu keduanya, hingga makan malam itu pun dilangsungkan dengan suara yang hening, karena tidak ada pembicaraan sama sekali di antara ketiganya.
Setelah makan malam selesa, Ethan melirik ke arah sepupunya. Dia menatap lekat ke arah Viona yang sudah tidak semiris tadi pagi saat dia melihatnya di apartemen.
"Sekarang kau sudah membicarakannya kepada Mama, apa kau juga akan membicarakan ini kepada orang tuamu?" Ethan membuka pembicaraan.
Seketika membuat Viona menoleh ke arahnya. Dia meminum air putih lalu mengangguk. "Itu pasti. Walau ku tahu mereka akan kecewa, namun aku akan tetap mengungkapkan sebenarnya."
"Bagaimana jika kedua orang tuamu memintamu untuk menikah dengan Edward? Sudah pasti mereka akan membuat Edward bertanggung jawab karena sudah menghamilimu."
Mendengar hal itu, Viona segera menggelengkan kepalanya. "Tidak. Aku tidak akan pernah mau untuk menikah dengannya, pria yang sudah berselingkuh dan menduakan cintaku bahkan di saat aku sedang mengandung benih nya. Aku tidak akan pernah memberikan kesempatan kedua kepada Edward, apapun itu."
Amanda dan juga Ethan saling melirik satu sama lain, mereka tahu rasanya disakiti seperti apa. Apalagi Amanda yang pernah berada di posisi Viona, sudah pasti memberikan kesempatan kepada orang yang pernah menyakiti kita dan menusuk kita dari belakang tidak semudah membalikan telapak tangan.
Karena sejatinya, jika hati sudah terluka sangat susah untuk disembuhkan, apalagi hanya sekedar kata percaya, begitu sangat sulit bagi mereka yang pernah dikhianati.
"Kamu benar. Aku pun tidak setuju kalau kamu menikah dengan Edward! Laki-laki seperti itu pasti akan mengulangi kesalahannya lagi. Jadi kamu tenang saja ya! Aku akan berbicara dengan kedua orang tuamu."
Viona bersyukur karena Ethan mau membantunya dia tidak tahu lagi kepada siapa harus mengadu.
__ADS_1
"Tapi mama rasa, kedua orang tuanya Viona pasti akan tetap ngotot untuk menikahkannya bersama dengan Edward. Marena walau bagaimanapun, bayi yang ada di dalam kandungan Viona adalah anaknya pria itu," timpal Mama.
Viona, Amanda dan juga Ethan seketika terdiam. Apa yang dikatakan Mama Inggit memang benar, sudah pasti kedua orang tuanya akan meminta Viona untuk menikah dengan Edward, walaupun pria itu sudah berselingkuh.
"Lalu aku harus bagaimana, Tante? Aku tidak ingin menikah dengannya. Mungkin aku masih mencintainya, aku masih menyayanginya, karena rasa itu tidak bisa hilang begitu saja. Tapi aku sudah tidak ingin kembali kepadanya. Tante, tolong aku!" Viona menatap Mama Inggit dengan tatapan memohon.
Melihat itu tentu saja Mama Inggit merasa tak tega, karena walau bagaimanapun selain Viona keponakannya, dia sudah menganggap wanita itu sebagai putrinya, sebab Viona dan juga Ethan besar bersama sedari kecil.
"Tante akan mencoba untuk berbicara kepada orang tuamu. Tapi ada baiknya orang tuamu seharusnya datang ke sini, agar kita bisa berbicara dari hati ke hati."
"Kebetulan sekali, Tante!" seru Viona, "mamah dan papa memang akan ke sini. Mereka ingin bertandang ke rumahnya Tante, karena sudah beberapa tahun juga kan tidak pulang ke Indonesia? Kebetulan kerjaan Papa juga lagi senggang di sana."
Mendengar hal itu tentu saja Mama Inggit sangat senang, apalagi saudaranya akan pulang ke tanah air. Mereka akan mengobati rindu secara langsung, bukan hanya lewat telepon saja. Kemudian keempat orang tersebut menyusun rencana untuk mengatakan hal itu kepada orang tua Viona yang pastinya tidak akan membuat orang tua Viona menyetujui untuk menikahi putrinya bersama dengan pria itu.
.
.
Suara bel rumah berbunyi dan sudah dipastikan jika itu Ethan. "Haduh .. mana belum iklan lagi filmnya. Ntar dulu deh." Amanda tidak bangkit dari duduknya karena dia masih fokus pada drama kesayangannya itu.
Hingga bel terus berbunyi, membuat Amanda seketika memutar bola matanya dengan malas. "Mas ketan ini benar-benar ya! Apa tidak bisa menunggu sebentar. Sudah tahu istrinya lagi fokus nonton Oppa kesayangan."
Sementara Ethan terus aja memencet bel rumah, dia bahkan sudah berpesan kepada pelayan yang ada di rumah itu jika saat dirinya pulang jangan membukakan pintu jika bukan Amanda.
"Pasti dia sedang nonton drakor. Lama-lama ku take down juga stasiun tv yang menayangkan drakor kesukaan Istriku itu. Pengganggu! Dia menghambat ketaatan istriku kepadaku!" gerutu Etha dengan kesal.
Pintu dibuka, nampak Amanda dengan wajah cemberutnya. "Kamu itu bisa nggak sih sabar sedikit aja Mas? Aku kan lagi nonton drakor Nanti aja nunggu iklan baru aku bukain." kesalnya dengan wajah yang begitu cemberut.
__ADS_1
"Aku pulang sayang." setan tidak menjawab, dia malah merentangkan tangannya meminta Amanda untuk memeluk dan terpaksa wanita itu pun akhirnya maju dan memeluk tubuh Ethan sekilas.
"Eh ... mau ke mana?" cegah Ethan saat melihat Amanda buru-buru masuk ke dalam rumah.
"Ya mau balik lagi lah Mas. Drakor aku udah mau iklan itu ... nanti aku ketinggalan. Mana lagi seru-serunya."
"Sebentar," ucap Ethan, kemudian dia mengecup kening Amanda. "Seharusnya suami yang didulukan, jangan drakor. Memangnya dia yang memberimu makan? Memangnya dia yang memberimu kekenyangan di atas ranjang?" Pria itu menaik turunkan alisnya.
"Iya, tidak. Mana mungkin aku berkhayal? Bisa saja sih ... tapi mainnya sama guling," celetuk Amanda dengan kesal, kemudian dia pergi melengos begitu saja meninggalkan Ethan yang masih terkekeh kecil.
"Jika lagi ngambek seperti itu, dia makin cantik. Rasanya aku ingin memakannya sekarang." Pria itu menggigit bibir bawahnya dengan raut wajah gemas.
"Sayang, buatin aku kopi dong!" pinta Ethan saat selesai membersihkan diri dan duduk di samping Amanda.
"Nanti ya! Ini nunggu iklan dulu baru aku buatin."
"Ayolah ... aku sudah pengen kopi susu buatan kamu!" pinta Ethan kembali dengan nada yang begitu manja sambil bergelayut di pundak sang istri.
"Iya, sabar kenapa sih! Biar badan kamu tambah melar, aku lagi nonton drakor ini sebentar lagi iklan."
Mendengar hal itu Ethan langsung mengambil remote lalu mematikannya, membuat Amanda seketika mendelik dengan tajam. "Kamu kok jahat banget sih, Mas? Nggak bisa apa lihat istri kamu senang sedikit." Seketika kedua netra Amanda berembun.
Melihat itu Ethan langsung panik. "Eh ... kamu jangan menangis dong! Aku kan hanya bercanda. Aku hanya minta kamu untuk membuatkan kopi, please! Setelah itu terserah kamu mau nonton TV sepuasmu."
Amanda tidak menjawab, dia langsung beranjak dari duduknya menuju dapur dengan air mata yang tadi sempat menetes. Seketika dia pun mempunyai ide jail kepada suaminya, karena Ethan sudah berani menghancurkan mood-nya hari ini.
"Lihat saja! Akan aku balas kamu Mas. Lagian suruh siapa kamu bikin aku kesel!" Amanda tersenyum licik sambil membuatkan kopi untuk suaminya.
__ADS_1
BERSAMBUNG......
Maafkan jika othor banyak typo ya🙏🏻😅