
"Sayang, kamu yang bener saja dong. Masa aku suruh pakai ini sih?" Ethan protes melihat sebuah bando dengan pita berwarna pink di atasnya. Mengingatkan dia dengan bonek hello kitty.
"Please! Pakai ya!" pinta Amanda.
"Ya ... tapi jangan bando juga kali. Aku ini laki-laki. it's okelah kalau soal jas sama kemeja, tapi masa iya aku pakai itu? Kan bentar lagi mau meeting. Bagaimana reaksi klien ku nanti! Sudah pasti aku akan menjadi bahan tertawaan mereka." Ethan menggeleng dengan tegas, karena dia tidak ingin memakai benda yang begitu menggelikan dirinya.
Bisa ia bayangkan bagaimana wajah para kliennya nanti saat berada di ruangan meeting. Sudah pasti mereka akan menertawakan dirinya, karena saat ini Ethan benar-benar seperti seorang perempuan, hanya yang membedakan adalah sepatunya.
"Ya sudah kalau kamu nggak mau." Amanda merajuk dengan wajah cemberut. Mukanya langsung mendadak menjadi sedih, bahkan air mata tidak bisa ditahan lagi. Wanita itu sangat sensitif sekali.
"Aku nggak mau makan siang. Ya sudah, sana kamu meeting!" Amanda membalikkan tubuhnya, kendati pundaknya malah bergetar menahan isak tangis.
Ethan pun merasa tidak enak, kemudian dia mengambil bando yang berada di tangan Amanda. "Oke, aku akan memakainya. Ini demi kamu dan juga anak kita," pasrahnya dengan wajah yang terlihat gusar.
'Bagaimana lagi ... daripada Amanda nangis dan terjadi apa-apa dengan kandungannya. Lebih baik aku yang mengalah. Biarlah aku menjadi bahan tertawaan mereka. Lagi pula, jika mereka berani menertawakanku, akan ku batalkan kerjasama ini.' batin Ethan dengan tegas.
Dia mencoba memasang wajah temboknya agar menutupi rasa malu yang saat ini sedang menggerogoti dirinya. Kemudian mereka berdua berjalan ke arah ruang meeting dengan jantung yang berdetak kencang, namun Amanda malah sebaliknya, dia tersenyum dengan senang karena sang suami mau menuruti permintaan konyolnya itu.
Sejujurnya Amanda juga tidak ingin mempermalukan Ethan ataupun meminta suaminya untuk berpakaian aneh seperti itu. Namun, entah kenapa dia ingin sekali Ethan mengenakannya. Mungkin itu memang yang dinamakan bawaan bayi.
Saat pintu ruang meeting dibuka, tentu saja semua orang sudah berkumpul di sana. Sesuai dugaannya Ethan, para petinggi dan juga beberapa klien sudah berada di dalam ruangan tersebut.
Dan seketika tatapan mereka membulat bahkan tidak ada yang berkedip sama sekali, seolah yang masuk ke dalam ruangan itu bukanlah Ethan, melainkan seorang pelawak.
"Ppfftt! Apa benar itu Pak Ethan? Kenapa pakaiannya seperti itu," ucap salah satu klien sambil menahan tawanya.
Terdengar bisikan demi bisikan yang terlontar dari orang-orang yang berada di sana. Kendati Ethan hanya memasang wajah datar, dia berpura-pura tidak peduli dengan semua orang.
"Eeekhm!" Pria tersebut berdehem, sehingga semua yang ada di sana pun akhirnya diam sambil menundukkan kepalanya. "Jika berani dari kalian ada yang ingin meledekku, ayo bicara langsung! Jangan hanya bisanya bisik-bisik!" tegasnya dengan tatapan yang begitu tajam bak elang yang akan menyantap mangsanya.
Semua tidak ada yang menjawab, hanya bisa menundukkan kepalanya karena takut. Namun sebenarnya di dalam hati mereka tertawa terbahak-bahak saat melihat penampilan Ethan yang begitu lucu di mata mereka.
"Maaf ya bapak-bapak, ibu-ibu semua. Suami saya berpakaian seperti ini karena saya. Sebab saya sedang mengidam, dan ebtah kenapa saya ingin sekali melihat sang suami memakai semua itu," tutur Amanda.
__ADS_1
Mereka yang tadinya ingin menertawakan Ethan seketika menatap kagum ke arah pria tersebut, apalagi para wanita yang ada di sana.
"Wah! Pak Ethan ini benar-benar suami yang penyayang ya. Bahkan tidak malu berpakaian seperti itu di hadapan semua orang. Apalagi saat ini Ibu Amanda sedang hamil. Mami doakan semoga keluarga Bapak dan Ibu langgeng sampai kakek nenek dan maut memisahkan," ucap salah satu karyawan.
Ethan hanya tersenyum sambil menganggukan kepalanya, kemudian mereka pun memulai meeting. Sementara Amanda duduk di samping Ethan sambil menyandarkan kepalanya di bahu kekar pria tampan tersebut.
Entah kenapa semenjak kehamilannya, Amanda malah enggan sekali berjauhan dengan Ethan. Dia ingin selalu menempel dengan suaminya tersebut, padahal awalnya Amanda tidak seperti itu.
"Hooamm." Wanita itu mengantuk, membuat seketika meeting terhenti dan menatap ke arahnya. Dan melihat itu Amanda merasa tak enak. "Maaf-maaf, lanjutkan saja," ucapnya.
Namun perlahan matanya mengantuk, hingga tiba-tiba saja tubuhnya hampir limbung. Untung Ethan segera menahannya, lalu mengangkat tubuhnya dan mendudukkannya di pangkuan, sehingga membuat semua yang ada di sana menganga melihat tingkah pria tersebut.
"Tidurlah," ucapnya sambil mengecup kening Amanda dengan lembut. Wanita itu tidak menjawab, dia hanya menyandarkan kepalanya di bahu kekar sang suami lalu kembali melanjutkan mimpinya.
Sementara semua orang dibuat kagum dengan rasa sayang, cinta bahkan perhatian Ethan terhadap Amanda. Tidak banyak pria yang mau melakukan itu, walaupun permintaan dari sang istri yang sedang hamil. Kebanyakan dari pria mementingkan ego serta gengsinya, tetapi Ethan malah kebalikannya.
Bahkan para wanita di sana ingin sekali memiliki suami seperti Ethan. Namun sayang, hanya ada satu dari seribu di dunia ini.
"Baiklah, meeting ini selesai. Terima kasih karena sudah datang tepat waktu," ujar Ethan kepada semua orang yang ada di sana, kemudian dengan perlahan dia menggendong tubuh Amanda tanpa melepaskan bando kelinci yang ada di kepalanya.
"Betul Pak. Saya jadi pengen punya suami seperti itu," timpal salah satu karyawan wanita sambil menatap kagum ke arah pintu di mana Ethan baru saja melewatinya.
"Pengen sih boleh, tapi jangan merebut suami orang ya! Itu hanya akan menjerumuskanmu ke dalam jurang." Wanita itu langsung mengangguk, kemudian mereka pun bubar dari ruangan meeting.
.
.
Siang ini Lulu menuju rumah mama Inggit untuk bertemu dengan Amanda, tetapi ternyata Amanda tidak sedang berada di rumah karena tadi pagi dia ikut bersama suaminya ke kantor.
"Ya udah deh, Tante, kalau gitu Lulu ke kantor aja nyusul Amanda," ucapnya.
Wanita itu pun pergi untuk menuju kantor Ethan di mana saat ini Amanda tengah tertidur. Dia menaiki taksi melaju meninggalkan rumah mertua Amanda, dan sesampainya di kantor, Lulu langsung menuju lantai atas setelah dia berbicara dengan resepsionis yang ada di sana.
__ADS_1
Tok tok tok.
Lulu mengetuk pintu ruangan Ethan, dan terdengar suara seorang pria menyaut dari dalam. Dia pun langsung masuk dan cukup membuat Ethan terkejut karena kedatangannya.
"Lo, ulat bulu. Mau ngapain ke sini?"
"Enak aja lo main namain orang seenak jidat. Mana Amanda?" Lulu sama sekali tidak menjaga sopan santunnya saat berada di hadapan Ethan, karena dia pikir mereka sudah saling mengenal dan tahu karakter masing-masing.
"Dia sedang beristirahat. Memangnya kenapa?"
Bukannya menjawab, Lulu malah tertawa terbahak-bahak, karena dia baru menyadari jika Ethan saat ini sedang memakai pakaian yang menurutnya sangat lucu, hingga dia pun memegangi perutnya yang terasa sedikit keram.
"Hahaha! Lo habis mangkal di mana?" tanya Lulu setelah tawanya mereda.
"Enak aja main ngomong sembarangan. Siapa juga yang habis mangkal Lo pikir gue ini lekong!" kesel Ethan dengan tatapan tajamnya.
Namun Lulu sama sekali tidak takut dengan pria itu, sekalipun Ethan menunjukkan kesangarannya. Karena dengan pakaiannya sekarang, Ethan tidak terlihat sangat menakutkan seperti seorang singa, bahkan dia lebih lucu dari Hello Kitty. Dan lebih mirip induk betina.
"Lo tau! Dengan pakaian lo yang seperti ini, sejujurnya lo itu sangat cocok menjadi pajangan Hello Kitty gue di rumah. Jika yang di rumah itu perempuan, maka yang di sini setengahnya." Lulu makin gencar meledek Ethan dengab tawanya.
Pria itu tidak membalas, dia hanya menghela nafas dengan kasar sambil memutar bola matanya, karena semakin ia tanggapi maka dirinya akan semakin diinjak-injak oleh Lulu.
"Lulu," ucap Amanda yang baru saja keluar dari ruangan pribadi Ethan sambil mengucekbmatanya. "Lo ke sini nggak ngabarin gue dulu sih?"
"Gue tadi ke rumahnya mama Inggit, tapi katanya lu ikut ke kantor. Eh, nangka walanda. Itu ngapain suami lo pakai pakaian begitu?" Lulu menunjuk Ethan dengan dagunya, namun tawanya masih meledak-ledak.
"Iya, itu aku sengaja. Soalnya itu permintaan anakku."
Lulu yang mendengar itu pun segera menyenggol bahu Amanda. "Cie ... yang sebentar lagi mau menjadi ibu. Kita bumil couple-an nih," kelakarnya, "oh ya ... sejujurnya gue mau bertemu sama lo itu karena ada yang mau gue sampein."
"Soal apa?" Kemudian Lulu pun berbisik di telinga Amanda, membuat kedua netra wanita itu membulat dan seketika keduanya pun tertawa senang.
Sementara Ethan menatap curiga. Entah kenapa di balik kesenangan istri dan juga sahabat somplaknya itu, dia merasa jika ada sesuatu hal yang sudah direncanakan kedua wanita tersebut.
__ADS_1
'Entah kenapa, feelingkuh merasa tak enak. Biasanya tawa mereka yang seperti itu sudah memikirkan tentang sesuatu hal yang membuatku pasti tidak setuju.' batinnya.
BERSAMBUNG.....