
Happy reading.....
Tante Dina mendekat ke arah Alea dan langsung mendekaP tubuh wanita itu, membuat Alea seketika membulat kaget, karena dia pikir Tante Dina akan menamparnya atau memakai dirinya.
"Maafkan anak tante ya, yang sudah menodai kamu. Maafkan atas kesalahannya," ucap Tante Dina sambil menangis.
Alea terdiam, dia seperti merasakan aliran yang begitu hangat di dalam tubuhnya, di mana Alea bisa merasakan dekapan seorang ibu, karena dia adalah anak yatim piatu.
"Tidak apa-apa Tante, mungkin ini sudah jalan takdirnya Alea," jawab gadis tersebut.
Tante Dina menghapus air matanya, kemudian dia menatap ke arah Haris. "Pokoknya kamu harus menikahi Alea! Mama akan mempersiapkan untuk pernikahan kalian, karena Alea juga sudah hamil, jadi kalian harus mempercepat pernikahan. Kalau bisa minggu ini! Tidak usah ramai-ramai hanya dihadiri keluarga dan juga beberapa rekan bisnis saja," jelas Tante Dina.
Haris mengangguk begitu pula dengan om Samuel, dia setuju dengan usulan istrinya, karena keadaan Alea yang saat ini tengah mengandung jadi untuk menghindari guncang-ganjing dari orang lain, akhirnya mereka mempercepat pernikahan keduanya.
"Sekarang Alea tinggal di mana?" tanya Tante Dina kepada Haris.
"Alea tinggal di apartemenku Mah, dia yatim piatu," jawab Haris.
Mendengar hal itu Tante Dina semakin miris, dia tidak menyangka jika putranya sudah menodai seorang gadis, apalagi yatim piatu. Dan itu membuat Tante Dina semakin empati kepada Alea dan semakin merasa bersalah.
"Ya sudah, untuk malam ini kalian nginep saja di sini! Kamu Alea, nanti tidur di kamar tamu ya," ujar Tante Dina sambil mengusap kepala Alea dengan lembut.
__ADS_1
Gadis itu hanya bisa mengangguk, dia tidak bisa berkata-kata karena menikmati sentuhan demi sentuhan seorang ibu, dari tangan Tante Dina yang sudah lama Alea tidak rasakan.
.
.
Malam ini Amanda baru saja pulang lembur, dia memutuskan untuk pergi ke sebuah Cafe karena jam juga masih menunjukkan pukul 08.00 malam.
Wanita itu melangkah lalu duduk di salah satu kursi setelah memesan makanan, namun tiba-tiba saja seorang wanita duduk di hadapan Amanda yang tak lain adalah Fitri.
Dia juga sedang makan malam di sana, tapi tidak sengaja melihat Amanda masuk ke cafe tersebut, jadi Fitri pikir tidak ada salahnya jika dia menghampiri wanita yang pernah menjadi kakaknya bahkan kakak iparnya.
Melihat Fitri berada di hadapannya, Amanda cukup terkejut, tapi dia mencoba untuk biasa saja.
"Hai_ kabar baik," jawab Amanda dengan dingin sambil meminum jusnya.
"Aku tahu mungkin kamu masih marah kepadaku, tapi--"
"Sudah tahu, kenapa masih bertanya? Apa kamu masih punya muka untuk berhadapan denganku? Ya .. aku lupa sih. Seorang pelakor itu biasanya sudah tidak mempunyai malu sama sekali, dan to the point aja! Mau ngapain kamu ke sini?" Amanda berkata sambil melipat kedua tangannya di depan dada dan menatap Intens ke arah Fitri.
Melihat sikap Amanda yang dingin, Fitri pun tersenyum tipis. Entah kenapa tidak ada rasa bersalah sama sekali di dalam hatinya karena sudah merebut Darius dari sang kakak.
__ADS_1
"Nggak mau ngapa-ngapain sih, tadi nggak sengaja aja lihat pas aku lagi makan malam, jadi tidak ada salahnya kan kalau aku menghampiri Kakakku," jawab Fitri sambil menyandarkan tubuhnya di kursi.
Kemudian makanan Amanda pun datang. "Mbak_ makanannya nggak jadi makan di sini ya, tolong dibungkus aja! Soalnya selera makan saya tiba-tiba aja hilang," ucap Amanda pada pelayan yang mengantarkan makanannya.
"Baik Mbak," jawab pelayan tersebut sambil membawa kembali makanan dari hadapan Amanda.
"Padahal kita makan malam bersama Kak, sudah lama sekali kita tidak makan bareng-bareng," ujar Fitri
Amanda tersenyum, kemudian dia pun berdecak kecil. "Ckckck! Sayangnya aku sibuk tidak mempunyai waktu. Lagi pula kamu bukanlah adikku! Jadi untuk apa? Dan selamat ya untuk pernikahan kalian! Aku doakan kalian langgeng sampai Kakek nenek, tapi ingat! Orang yang biasanya pernah selingkuh, pasti akan selingkuh lagi, entah itu dari kamu atau dari Mas Darius sendiri." Amanda mengangkat kedua bahunya sambil menatap dengan alis terangkat.
Melihat itu Fitri merasa geram, dia merasa jika Amanda sedang meledek dirinya.
"Kakak meledek aku? Nggak usah sotoy deh jadi orang! Pernikahanku sama mas Darius itu langgeng, bahkan kami sangat bahagia. Ya ... gara-gara Kakak aja sih, Mas Darius nggak dapet jatah warisan yang banyak, dan cuma sedikit. Puas Kakak sudah membuat hidup kami menderita? Apa sudah puas Kakak merebut Mas Darius dari aku? Terus sekarang Kakak membuat kami hidup sengsara." Fitri mencondongkan tubuhnya sambil menatap tajam ke arah Amanda
Melihat itu Amanda malah terkekeh kecil, dan pelayan lagi-lagi datang membawakan makanan yang sudah dibungkus.
"Dengar ya Fitri! Kamu sengsara, kamu menderita, itu bukan karena Kakak, tapi karena kalian sendiri. Coba kamu bilang dari awal kalau kamu dan juga Mas Darius ada hubungan, tentu aja dengan sangat sukarela aku akan melepaskan pria seperti itu. Apa kamu pikir aku menikah dengan mas Darius itu karena cinta? Kan kamu tahu, karena perjodohan, tapi karena aku ingin menjadi istri yang baik, jadinya aku nurut sama Mas Darius. Sudahlah, berdebat sama kamu itu hanya akan membuang waktuku saja. Sekarang tinggal nikmati hidup kalian, jangan pernah usik hidupku lagi! Anggap aja kita itu nggak pernah kenal, walaupun kita pernah menjadi adik dan kakak dari kecil, tapi penghianatan kamu membuat aku memutuskan tali persaudaraan itu, paham!" tekan Amanda sambil menunjuk dada Fitri
Kemudian dia mengibaskan rambutnya hingga menyentuh wajah Fitri, membuat wanita itu menatap kepergian Amanda dengan raut wajah kesal dan tangan terkepal.
"Lihat saja! Aku akan buktikan kepadamu Kak, kalau aku bisa lebih dari kamu!" geram Fitri sambil menatap punggung Amanda yang hilang di balik pintu.
__ADS_1
BERSAMBUNG.....