
Happy reading.....
Darius pulang lebih cepat, dia benar-benar pusing dengan kantornya sekarang yang sedang di ambang kebangkrutan. Pria itu benar-benar frustasi, bahkan terlihat dari wajahnya begitu banyak pikiran.
Saat Darius masuk ke dalam rumah, om Samuel memintanya untuk segera menuju ruang keluarga, di mana saat ini tante Dina sudah menunggu, karena ada hal penting yang akan dibicarakan.
Setelah membersihkan diri, Darius pun turun ke lantai bawah menuju ruang keluarga di mana Tante Dina dan Om Samuel sedang menunggunya, dan saat dia masuk ternyata di sana juga sudah ada Fitri.
"Ada apa, Mah, Pah!" tanya Darius.
Tanpa menjawab, Om Samuel pun memberikan sebuah map di hadapan Darius, membuat pria itu menatapnya dengan heran. Lalu dia mengambil map tersebut dan membukanya.
Seketika tatapan Darius terbelalak kaget, dia menatap ke arah orang tuanya dengan tatapan tak percaya. "aapa ini, Pah?"
"Kenapa masih bertanya? Sudah jelas kan? Tadinya hak waris tidak akan Papa berikan, tapi melihat keadaanmu sekarang, se kejam-kejamnya orang tua, semarah-marah dan sekecewa-kecewanya orang tua terhadap anak, tetap papa akan memberikan. Namun semua lebih besar kepada Haris," jelas Om Samuel.
Dia membagi warisan yaitu 70% untuk Haris, dan 30% untuk Darius.bTadinya Om Samuel ingin membaginya 50% per 1 orang, tapi tidak, sebab Darius sudah sangat mengecewakannya.
"Looh, yang gak bisa gitu dong Pa. Masa cuma 30%? Aku kan di sini anak pertama, dan Haris anak kedua. Harusnya aku dong yang mendapatkan lebih besarz bukannya Harris?" ucap Darius dengan intonasi yang cukup tinggi, sebab Ia tidak terima dengan keputusan Om Samuel.
__ADS_1
"Keputusan Papa sudah bulat, tidak bisa diganggu gugat. Lagi pula kamu yang salah sendiri, dari awal papa sudah bilang kan, jangan pernah menghianati pasangan kalian. Dari awal juga Papa sudah mewanti-wanti, tapi ternyata apa? Jamu dan juga Fitri sudah berselingkuh. Kalau kamu berselingkuh dengan wanita lain, mungkin Papa masih bisa mentoleransi, tapi ini berselingkuh dengan adik iparmu sendiri. Benar-benar menjijikan! Dan satu lagi, mulai sekarang kalian pindah dari sini! Karena Papa tidak ingin rumah ini terkena sial, sebab kalian terus saja melakukan dosa!" tegas Om Samuel.
Fitri dan Darius membelakakan matanya, mereka tidak percaya jika diusir dari rumah tersebut. Kemudian Darius segera bersimpuh di kaki Om Samuel.
"Pah, aku mohon jangan usir aku sama Fitri dari sini. Aku dan Fitri tidak melakukan itu Pah, kami sudah berjanji sebelum menikah, kami--"
"Cukup! Ini pelajaran buat kamu ya Darius. Jangan semua kamu anggap enteng, itu adalah dosa yang besar, kalian tahu tidak! Dan sekarang kemasi barang-barang kalian dan pergi dari sini! Lagi pula, perceraian kamu dan juga Amanda sudah kelar kan? Kamu juga bisa menikahi Fitri, dia juga sudah ditalak sama Haris. Jadi kalian bisa hidup bahagia."
Sedangkan Tante Dina hanya diam saja, dia tidak ingin mencampuri ucapan suaminya. Karena jujur rasa kecewanya masih amat sangat dalam terhadap Putra dan juga menantunya.
Lalu Darius pun beralih menatap ke arah sang Mama. "Mah, Darius mohon jangan usir kami dari sini!" ucap Darius dengan tatapan memohon.
Mendengar hal tersebut Tante Dina seketika menatap ke arah Darius. "Kamu bilang apa? Setega itu? Di sini aiapa yang tega? Kami atau kalian? Kalian berselingkuh dan tidak memikirkan perasaan kami bagaimana, hah? Apa saat kalian melakukan dosa itu, tidak memikirkan pasangan kalian masing-masing? Apa tidak pernah terbersit di pikiran kalian?! Kenapa tidak bilang dari awal? Sudahlah, sebaiknya kalian kemasi barang-barang dan pergi dari sini! Walaupun anak yang ada dalam kandungan Fitri adalah cucu kami, tetap Mama kecewa sama kalian. Dan seharusnya kalian itu bisa berpikir dan bisa merenungi semua kesalahan, bukan malah membolak-balikkan fakta dan malah melimpahkan kesalahan kalian pada orang lain. Benar-benar keterlaluan!" geram Tante Dina, kemudian dia pergi dari sana disusul oleh om Samuel.
Ya, Tante Dina selama ini mengetahui jika Darius suka melimpahkan kesalahannya kepada Amanda, dan itu membuatnya semakin geram. Wanita itu pun tidak mengerti dengan arah pikiran dari Darius.
Dan dia berharap dengan diusirnya Darius serta Fitri dari rumah itu, membuat kedua orang tersebut sadar dan bisa bertobat, merenungi kesalahan mereka.
"Mas?" Panggil Fitri.
__ADS_1
"Kita pergi dari sini sayang," jawab Darius. Kemudian dia menggandeng Fitri. Dan saat mereka keluar dari ruangan keluarga, dua orang pelayan sudah siap dengan dua buah koper di tangannya.
"Itu adalah barang-barang kalian sudah dikemasi, jadi pergi dari sini sekarang!" ucap Om Samuel sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
"Papa dan Mama benar-benar mengusir kami dari sini?" tanya Darius dengan tatapan tak percaya.
"Apa masih kurang jelas? Pintu keluarnya ada di sana!" om Samuel menunjuk ke arah pintu utama, membuat Darius dan Fitri seketika langsung menarik kopernya lalu mereka pergi dari sana.
Darius memasukkan koper mereka ke dalam mobil. "Kita mau ke mana, Mas?" tanya Fitri.
"Kita ke hotel dulu ya, baru besok cari kontrakan," jawab Darius.
Fitri mengangguk, dia pun tidak tahu harus pergi ke mana. Dan hanya mengikuti langkah Darius, sebab mau ke apartemen juga percuma. Apartemennya Darius sudah dijual untuk menambah biaya kerugian kantornya.
'Baru ini aku harus hidup susah. Dan ini semua apa karena kesalahanku?' batin Darius.
Sementara Fitri mengusap perutnya sambil menatap jalanan yang gelap. Dia tidak menyangka jika hidupnya akan se menderita itu, padahal tadinya Fitri berpikir bahwa dia akan hidup mewah, karena Darius akan mendapatkan harta warisan dari kedua orang tuanya.
BERSAMBUNG. ....
__ADS_1