Rahasia With Ipar

Rahasia With Ipar
Bab 157


__ADS_3

Amanda dan juga Ethan pulang ke rumah, namun sepanjang perjalanan terlihat wanita itu hanya diam sambil memandang lurus ke arah depan dan sikap istrinya itu membuat Ethan benar-benar penasaran.


"Sayang, kamu kenapa sih?" Menggenggam tangan Amanda lalu mengelusnya dengan lembut.


"Nggak apa-apa kok, Mas," jawab Amanda sambil tersenyum, namun dapat terlihat kebohongan di wajahnya.


Hingga saat mobil sampai di rumah, Ethan tanpa aba-aba langsung membuka pintu mobil sebelah Amanda dan menggendong istrinya. Kendati Amanda menolak, namun tetap saja Ethan tidak bisa untuk dicegah.


"Sekarang katakan! Ada apa?" Ethan kembali bertanya saat melihat istrinya sudah berganti pakaian tidur.


"Tidak ada apa-apa," bohong Amanda.


Melihat kebohongan sang istri dan mendengar jawabannya, Ethan pun langsung mendekat lalu merengkuh Amanda di dalam dekapannya. "Aku sudah mengenalmu mungkin tidak bertahun-tahun, tetapi aku sudah mengenal karaktermu, jadi jangan pernah berbohong! Karena kamu tidak pandai sayang." Pria itu menjawil hidung sang istri, membuat Amanda merengut kesal.


"Iya, kamu benar. Aku hanya kepikiran saja soal perjodohannya Mas Darius tadi bersama dengan Naura. Tidak menyangka kalau mama Dina dan juga Papa Samuel menjodohkan mereka. Padahal di sini Fitri masih menjadi istrinya Mas Darius."


Itu masih membuat Amanda kepikiran, bahkan dia berpikir bahwa tidak masuk akal usul dari mama Dina. Dan persetujuan dari Naura juga membuatnya merasa curiga.


"Untuk apa kamu pikirkan? Biarkan saja sayang, mereka mau melakukan apa dan bagaimana, kita jangan ikut campur karena itu bukan ranah kamu lagi. Mungkin kamu masih dianggap anak oleh Tante Dina dan juga Om Samuel, tapi kalau untuk masalah keluarga ... sepertinya kita jangan ikut campur deh!" usul Ethan, "aku hanya tidak ingin kamu banyak pikiran dan malah berdampak kepada kandunganmu. Sebaiknya sekarang kita fokus pada keluarga kecil kita dan pada anak yang sedang ada di dalam sini." Tangannya mengelus perut Amanda, kemudian dia mengecupnya dengan lembut.


"Kamu benar, Mas. Sebaiknya kita fokus pada keluarga kita saja! Tapi ya ... tidak menampik sih kalau aku memang penasaran kenapa Naura tiba-tiba saja menerima perjodohan itu? Padahal yang aku tahu Naura wanita yang baik-baik dan mungkin dia mempunyai alasan lain juga."

__ADS_1


"Maybe ... itu urusan dia. Tapi yang terpenting tidak ada hubungannya dengan kita. Kalupun Fitri melakukan apapun, itu terserah pada dia ... karena sekarang yang harus kita lakukan adalah fokus pada keluarga kecil, pada kesehatan kamu dan juga calon bayi yang ada di dalam perut."


Amanda mengangguk, membenarkan ucapan suaminya bahwa itu bukan ranahnya lagi, dan seharusnya dia tidak memikirkan akan hal itu.


.


.


Naura membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Dia tersenyum miring sambil menatap langit-langit kamarnya, memikirkan kejadian beberapa jam yang lalu saat berada di kediamannya Mama Dina.


Sungguh Naura pun tidak pernah menyangka jika dia akan dijodohkan dengan Darius. Tapi tentu saja ia tidak akan menyia-nyiakan perjodohan itu, apalagi Naura masih mempunyai rasa ditambah mereka pernah tidur.


"Kita lihat saja apa yang bakal wanita ular itu lakukan! Aku sangat yakin, dia pasti akan merencanakan sesuatu yang pastinya akan menyakitiku. Tapi sayangnya, aku bukan wanita bodoh yang mampu untuk dia kelabui." Terdengar helaan nafas dari wanita tersebut. "Aku jadi semakin tidak sabar ingin segera menikah dengan Darius, dan aku ingin melihat bagaimana wanita itu mencak-mencak, karena dapat kulihat tatapan kebencian dan penuh amarah dari matanya."


Ya. Naura menerima perjodohan itu bukan karena sebab, tapi karena dia ingin memberi pelajaran kepada wanita seperti Fitri yang tega menghianati saudaranya, bahkan tega untuk merebut suami dari saudaranya sendiri.


Bukan Naura ingin berpihak kepada Amanda akan tetapi Naura pernah mempunyai saudara yaitu seorang kakak perempuan, namun telah tiada karena bunuh diri sebab dikhianati oleh sahabatnya sendiri..


.


.

__ADS_1


Sementara saat Darius dan Fitri sampai di rumah, pria itu langsung melenggang masuk ke dalam kamar diikuti oleh Fitri sambil memutar kursi rodanya.


"Jadi kamu beneran ingin nikah sama dia, Mas? Kamu ingin menghianatiku!" bentak Fitri dengan marah.


Dia masih tidak terima, walaupun dia sudah setuju namun tetap saja Fitri merasa Darius telah menghianati cintanya. Bahkan setelah apa yang ia lakukan selama ini untuk mendapatkan pria itu, namun dengan seenak jidat Darius kembali mengkhianatinya.


"Sekarang kamu pikir deh!" Darius membalikan badannya dan menatap tajam ke arah Fitri. "Memangnya kamu mau hidup terus-terusan di rumah seperti ini? Kamu mau hidup susah terus menerus? Bayangkan ... kalau kita kembali ke sana otomatis akan ada yang melayani. Kehidupan kita juga tidak semelarat ini. Lagi pula, kamu sudah tidak bisa memuaskan ku di atas ranjang hanya aku yang bisa memuaskanmu, tapi kamu tidak," jawab Darius dengan begitu sarkas nan tajam.


Fitri tak menyangka jika Darius mampu berkata seperti itu, setelah keadaannya seperti ini. Dulu saja dia membangga-banggakan bagaimana permainan ganas Fitri di atas ranjang, tapi sekarang pria tersebut malah mengolok-ngolok dirinya.


"Tega kamu berbicara seperti itu kepadaku? Setelah apa yang kulakukan, Mas? Dulu kamu menyanjung-nyanjung diriku. Bahkan kamu membandingkan aku dengan Amanda. Kamu bilang, bahwa permainanku lebih enak, lebih menjepit, lebih ganas dari Amanda. Sekarang kamu bilang kalau aku tidak bisa memuaskan kamu? Bahkan dulu kamu sampai bisa bermain 6 ronde, Mas!" teriak Fitri dengan dada bergemuruh dan nafas naik turun, seolah dia sedang merasakan amarah yang memuncak di atas ubun-ubunnya.


"Tapi itu faktanya kan? Dulu memang iya kamu jago di atas ranjang, tidak ada duanya. Amanda pun kalah. Tapi sekarang ..mbdengan keadaan kamu seperti ini, apa kamu bisa memuaskan ku? Tidak. Hidup bukan hanya berdasarkan soal cinta saja Fitri, tapi hidup juga harus ada gairah. Jika keduanya tidak imbang, bagaimana mungkin bisa kita bertahan?"


Darius pun melenggang pergi masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Dia enggan untuk menanggapi perdebatan soal hal yang menurutnya tidaklah penting.


Sementara Fitri mengepalkan tangannya dengan sorot mata memancarkan kebencian yang begitu dalam kepada Darius. Tidak ada lagi cinta di dalam hatinya, hanya ada kemarahan yang menggebu-gebu.


"Keterlaluan kamu, Mas. Tega kamu berbicara dan memperlakukan aku seperti itu! Lihat saja! Setelah kamu menikah dengan wanita sialan itu ... tidak akan kubiarkan kalian hidup bahagia. Kamu juga akan menderita sama seperti apa yang aku rasakan saat ini, mas!"


BERSAMBUNG.....

__ADS_1


__ADS_2