Rahasia With Ipar

Rahasia With Ipar
Maaf


__ADS_3

Darius mengerjapkan matanya saat matahari masuk dari celah-celah jendela. Dia menguap lalu menyandarkan tubuhnya di dpan ranjang. Seketika tatapannya heran saat melihat sekeliling kamar yang ternyata bukan di rumahnya.


"Aku ada di mana?" lirih Darius seketika dia menoleh ke arah samping dan alangkah terkejutnya pria tersebut saat melihat Naura.


Dia menggeser tubuhnya beberapa senti jantungnya berdetak kencang kemudian dia menyibak selimut dan saat ini Darius tidak mengenakan apapun. Pria itu pun menjadi sangat panik, bola matanya membulat. Dia takut jika terjadi apa-apa dengan dia dan Naura.


"Bagaimana mungkin bisa aku dan dia ...?" Pria itu menggantungkan ucapannya dengan tatapan tak percaya.


Kemudian Darius mengingat-ingat tentang kejadian semalam di mana dia sedang ada di bar dan minum alkohol, dan saat itu dia tidak sengaja bertemu dengan Naura. Pria itu juga ingat jika Naura ingin mengantarkannya pulang tetapi Darius menolak.


"Sial! Kenapa aku bisa seceroboh ini?" Darius menjambak rambutnya dengan frustasi.


Naura yang merasa terusik dengan pergerakan di sampingnya kemudian dia membuka mata. "Kmu sudah bangun?" ucapnya dengan lirih, dia pun duduk bersender di dipan ranjang sambil menarik selimut menutupi tubuh polos nya.


"Apa yang terjadi dengan kita semalam?" tanya Darius meyakinkan.


Mendengar pertanyaan itu Naura pun terkekeh "tidak mungkin jika kau tidak ingat dengan pertempuran kita semalam. Tentunya kau pun mengetahui dan kau pun mengingatnya." Naura mengikat rambutnya hingga menampilkan leher jenjangnya yang dipenuhi dengan bercak merah keunguan ulah Darius.


Pria tersebut menegak salivanya dengan kasar. Sekelebat bayangan tentang permainan panasnya bersama dengan Naura terlintas begitu saja. "Tidak tidak mungkin kalau kita semalam melakukan itu?" tampik Darius.


"Jangan pernah menampik akan hal itu! Sudahlah, semalam itu kita mau sama mau. Lagi pula aku tidak akan menuntut pertanggungjawaban darimu." Naura melenggang begitu saja sambil membalut tubuhnya dengan selimut.

__ADS_1


Darius ternganga saat mendengar ucapan Naura yang begitu entengnya setelah apa yang terjadi dengan mereka semalam. Tapi yang membuat dia tak percaya adalah, Naura yang begitu tidak panik karena dia telah menggagahi wanita itu.


"Apa dia serius? Dia tidak akan meminta pertanggungjawaban kepadaku dengan apa yang terjadi semalam?" monolog Darius pada dirinya sendiri.


Darius masih tak percaya, dia pun mengenakan bajunya kembali setelah itu menunggu Naura selesai mandi. Dan setelah beberapa saat, wanita itu keluar mengenakan jubah


Dia berjalan dengan begitu santainya menuju lemari, kemudian mengenakan baju di hadapan Darius, membuat pria itu hanya bisa terpaku dengan kelakuan Naura. Bahkan sesuatu telah bangun di bawah sana, karena dia pun pria yang normal melihat itu tentu saja akan membangkitkan sensasi di dalam tubuhnya.


Sedangkan Naura sengaja berpakaian dengan begitu pede-anya di hadapan Darius karena dia pikir pria tersebut sudah mengetahui seluk beluk tubuhnya bahkan setiap inci, jadi tidak usah ada lagi yang disembunyikan..


"Kenapa kau tidak meminta pertanggungjawabanku?" tanya Darius tiba-tiba.


Naura yang akan menyisir rambutnya seketika menatap ke arah pria tersebut. Dia tidak menjawab, hanya tatapannya yang begitu lekat menunjukkan jika masih ada rasa cinta di hatinya untuk pria itu, namun Naura mencoba untuk cuek.


Naura pun berjalan mendekat, kemudian dia duduk di hadapan Darius yang saat ini sudah mengenakan pakaiannya dengan lengkap. Tetapi tatapan pria itu mengarah kepada leher jenjang Naura, di mana terlihat begitu sangat jelas ganasnya Darius semalam.


"Apa perlu aku memberikan alasannya?" Darius langsung mengangguk.


"Oke. Aku sengaja tidak meminta pertanggungjawaban darimu karena selain tidak ada cinta di hatimu, bahkan kamu pun sudah menikah bukan? Aku tidak ingin menjadi perusak rumah tangga antara kamu dan juga Amanda. Aku tidak ingin sakit hati untuk kedua kalinya. Anggaplah kalau semalam itu sebuah kecelakaan biasa, dan anggap tidak ada yang pernah terjadi antara kita," ungkapnya dengan nada yang begitu enteng.


Darius mencebik, menarik sudut bibirnya sambil menatap mengejek ke arah Naura. "Sepertinya kau sudah terbiasa tidur dengan seorang pria, hingga menganggap hal ini biasa saja untukmu."

__ADS_1


Naura tentu saja tidak terima saat Darius mengatakan hal itu yang merendahkan harga dirinya sebagai seorang wanita. Dia tidak menampik bahwa semalam dia juga memang menginginkannya, tetapi hanya Darius seorang.


Tanpa berkata apapun, Naura menyibak selimut yang menutupi ranjang berwarna putih tersebut. Kemudian dia menunjuk ke arah ranjang itu. "Lihat! Apakah ini masih memenangkan asumsimu bahwa aku adalah wanita murahan?" Tatapannya sinis, namun jarinya menunjuk ke arah bercak noda darah bercampur dengan cairan semalam.


Mata Darius kembali membulat, dia tadi tidak memperhatikan tentang hal itu. Pria tersebut kemudian menatap lekat ke arah Naura tidak menyangka jika dia sudah mengambil hal yang paling berharga di dalam tubuh wanita tersebut.


"Tidak usah merasa menyesal. Aku juga semalam tidak menolak, jadi anggap saja itu kecelakaan yang disengaja. Aku tidak akan mengganggu rumah tanggamu. Jika kau mau mandi, silahkan! Baju gantinya akan disiapkan oleh asistenku di sini. Aku tidak bisa lama, karena aku ada meeting lagi." Naura melenggang keluar dari kamar untuk menuju dapur, meminta asisten rumah tangga yang ada di sana membuatkan sarapan.


Dadanya sangat sakit, tapi dia mencoba untuk kuat, setidaknya Naura senang bahwa orang yang mengambil kesuciannya adalah pria yang selama ini ia cintai. Walaupun Naura tahu bahwa dia sudah gila karena terobsesi dengan suami orang, tapi Naura masih memiliki kewarasan. Dia tidak akan menghancurkan rumah tangga orang lain dengan kejadian semalam.


Darius keluar dari apartemen itu tanpa membersihkan diri terlebih dahulu, dia melihat ke arah Naura yang masih berada di dapur meminum susunya.


"Aku akan pergi. Maaf jika semalam aku tidak bisa mengontrol diri." Pria itu menunjukkan wajah bersalahnya, karena walau bagaimanapun di sini Darius memang sangat salah.


"No problem. Aku tidak mengambil pusing tentang hal itu. Jadi tidak usah kamu pikirkan," jawab Naura dengan nada yang datar.


"Aku pulang dulu." Darius pun keluar dari apartemen tersebut dengan perasaan yang kacau.


Sementara Naura meremas gelasnya dia membuang nafasnya beberapa kali mencoba menetralkan degup jantungnya yang saat ini masih berdebar saat menatap Darius. Dia berpura-pura menjadi wanita kuat, agar tidak terlihat lemah di hadapan Darius, bahwa saat ini dirinya pun sangat hancur.


"Aku tidak akan pernah menghancurkan keluargamu bersama dengan Amanda. Aku pun seorang wanita, tapi kejadian semalam mungkin hanyalah sebuah kecelakaan, tetapi dengan perasaan yang disengaja. Maafkan aku Amanda jika aku sudah meniduri suamimu semalam. Tapi semua di luar dugaanku, tubuhku menolak dan aku tidak bisa karena hal itu. Maafkan aku!" Sesal Naura kepada Amanda.

__ADS_1


BERSAMBUNG......


__ADS_2