Rahasia With Ipar

Rahasia With Ipar
Peringatan Amanda


__ADS_3

"Sasa," lirih Ethan.


Amanda mengerutkan keningnya saat mendengar suaminya menyebut nama wanita itu. "Siapa dia, Mas?" tanya Amanda kembali.


"Dia rekan kerjaku kemarin saat di luar kota, namanya Sasa. Oh ya, Ibu Sasa ada di sini juga? Perkenalkan ... dia adalah istri saya, Amanda."


Terlihat wajah Sasa menatap tak suka kepada Amanda, apalagi saat melihat perut wanita itu yang membencit. 'Ternyata wanita ini istrinya Ethan, sedang hamil pula. Tapi aku tidak peduli, aku tetap menyukai Ethan."


Amanda melihat ada yang tidak beres dengan wanita yang berada di hadapannya, dari tatapannya yang melihat suaminya dengan tatapan memuja, membuat dia paham mana tatapan klien dan mana tatapan menginginkan seseorang.


'Sepertinya ada bau-bau pelakor. Aku tidak akan membiarkan untuk ketiga kalinya orang masuk dalam Rumah tanggaku. Lihat saja kau!' batin Amanda sambil mengepalkan tangannya.


"Sayang, pulang yuk! Aku capek banget nih, perut aku juga sedikit sakit." Amanda memegang lengan Ethan dengan begitu manja sambil menyandarkan tangannya di dada bidang sang suami.


Matanya melihat ke arah tangan Sasa yang masih memegang lengan Ethan, dan seketika Amanda menepisnya. "Maaf ya Mbak, rekan kerja rekan kerja saja ... tapi jangan pernah berniat untuk merebut seseorang yang bukan milik Mbak."


"Maksudnya apa?" tanya Sasa tidak terima.


Amanda tidak menjawab. "Ayo Mas, kita pulang!"


"Iya Sayang, ayo!"


"Cium dulu," rengeknya sambil memanyunkan bibir.


"Hah? Sayang masa kamu minta cium di tempat umum kayak gini?" Ethan membulatkan matanya karena dia sedikit kaget saat mendengar permintaan dari istrinya yang tak pernah Amanda lakukan sejak dulu.


"Jadi kamu nggak mau? Ya udah deh aku minta cium Pak satpam aja," rengek Amanda hendak berjalan, akan tetapi langsung ditarik pinggangnya oleh Ethan, kemudian dia mendaratkan cium4n di bibir wanita itu.


Sasa yang melihat itu tentu saja sangat geram, tangannya terkepal dengan sorot mata yang tajam. 'Wanita ini sengaja ingin membuatku panas.nLihat saja! Ethan akan jadi milikku. Gak perduli walau ia udah punya pasangan."


"Sudah, sekarang kita masuk ya!" Ethan mengelap bibir Manda.

__ADS_1


"Makasih sayang!" Amanda berkata dengan nada yang begitu manja, membuat Ethan sangat senang, namun tidak dengan Sasa yang saat ini merasa kesal dan terbakar emosi.


"Jangan pernah berniat untuk menjadi pelakor dalam rumah tangga orang lain ya, Mbak! Sayangi harga dirimu, sebelum kamu hancur karena ulahmu sendiri," bisik Amanda sambil terkekeh kecil namun dengan nada mengejek.


Sasa terpaku, dia pikir Amanda tidak akan tahu jika dia mempunyai rasa kepada suaminya, tetapi ternyata kepekaan seorang istri itu sangatlah tajam, di mana insting seorang perempuan apalagi istri itu 98% selalu tepat.


"Kamu kenapa sih tadi sikapnya gitu banget sama Sasa?" tanya Ethan saat mereka sudah berada di dalam mobil.


"Kenapa? Kamu nggak suka?" Amanda menyandarkan tubuhnya di jok Ssambil mencoba memejamkan mata.


"Tidak begitu ... aku suka saja, seperti melihat istriku sedang cemburu," kekehnya, "tapi tidak semua wanita kamu harus mencurigainya sayang. Lagi pula, dia hanya rekan kerja aku tidak lebih kok."


Amanda kembali menegakkan tubuhnya dia mencubit pipi Ethan dengan gemas. "Kamu itu terlalu polos sebagai pria, Mas. Kamu harus bisa membedakan mana tatapan seorang klien, mana tatapan memuja. Yang kulihat dari dia adalah menginginkan kamu ... dan kamu juga harus menjaga jarak dengan dia! Sebab aku yakin, dia akan nempel terus kek lintah darat."


"Kamu ini ada-ada aja deh. Mana mungkin?" Ethan mencoba menampik, karena dia pikir tidak mungkin Sasa memiliki rasa kepadanya, apalagi baru satu hari mereka bertemu.


Amanda terlihat membuang nafasnya dengan kasar, dia menyandarkan tubuhnya kembali di jok dengan tatapan lurus ke depan. "Kamu lupa ya, Mas? Aku ini pernah diselingkuhi, jadi aku tahu mana tatapannya bersahabat dan tidak."


Bagi Amanda rumah tangganya bersama dengan Darius memberikan pelajaran yang begitu besar di dalam hidupnya, di mana dia bisa membedakan manusia yang bermuka satu atau manusia yang bermuka dua. Ada juga manusia berbulu embe, jadi Amanda tidak ingin gegabah untuk mengenali lawan dan juga teman.


"Dan aku mau kamu menjauhinya juga! Kalau bisa putuskan saja kerjasama dengan Sasa. Lagi pula Mas, kalau mau cari klien itu jangan merek micin. Emangnya kamu mau kalau aku memanggilnya dengan merek micin?"


"Kok micin sih, sayang?"


"Ya iyalah ... namanya aja Sasa. Sasa kan mereknya micin," celetuk Amanda dengan wajah ditekuk..


Ethan terkekeh kecil saat mendengar perkataan istrinya. "Kamu ini seperti si ikan lele aja sih, kayak manggil Sania dengan merek minyak goreng."


"Ya lagian aku heran, kenapa sih orang tua harus memberikan nama dengan Sasa? Memang tidak ada lagi nama yang lebih bagus, seperti violet atau Putri? Kenapa harus Sasa? Memangnya mereka waktu hamil ngidamnya micin?"


"Hust! Kalau ngomong dijaga sayang. Kan kamu lagi hamil." Mendengar itu Amanda langsung menutup mulutnya, dia mengusap perutnya sambil mengatakan amit-amit cabang bayi.

__ADS_1


.


.


Hari-hari telah berlalu, Amanda melewatinya dengan bahagia, apalagi kandungannya saat ini sudah mau menginjak trimester ketiga dan hari ini mereka sudah bersiap-siap untuk menuju sebuah gedung di mana acara resepsi pernikahan Akmal dan juga Sania dilangsungkan.


"Sayang, udah siap belum?" tanya Amanda sedikit berteriak.


"Iya Sayang, aku udah." Ethan keluar dari ruang ganti dengan setelan jas berwarna abu-abu dipadu dengan kemeja berwarna hitam.


"Suamiku memang tampan," puji Amanda.


Dia mengalungkan tangannya di leher kekar pria itu. "Sayang, nanti di sana mata kamu jangan jelalatan ya! Mentang-mentang banyak cewek seksi, cewek cantik, kamu terpesona. Sedangkan tubuhku kan udah gemuk, apalagi dengan perut yang semakin membuncit."


Ethan merasa gemas saat melihat wajah cemberut sang istri, kemudian dia mencubit kedua pipi Amanda lalu mengecup bibirnya dengan singkat.


"Aku tidak akan pernah melirik wanita lain, karena bidadari di dalam hidupku saat ini tengah kupeluk. Mau wanita di sana seseksi apapun ... bagiku kamu terlihat lebih menggoda. Apalagi dengan perut yang semakin membesar, rasanya aku ingin ..." Ethan mengedipkan sebelah matanya sambil menggigit bibir bawah.


Perkataan itu membuat Amanda membulatkan mata, kemudian dia mencubit dada bidang pria tersebut. "Jangan nakal ya! Ini udah mau berangkat pikiran kamu itu nggak jauh-jauh dari sel4ngk4ngan."


"Kan masih ada 20 menit lagi, kita satu ronde dulu yuk!" goda Ethan kembali.


"Nggak mau. Kita udah mau berangkat, nanti dandanan aku tuh luntur lagi, terus harus dandan lagi ... udah deh, mendingan sekarang kita turun ke bawah! Soalnya mama udah nunggu."


Namun, Ethan tidak melepaskan pinggang Amanda, dia menunjuk bibirnya dengan alis naik turun. Amanda yang mengerti pun akhirnya mengecup singkat bibir Ethan akan tetapi tengkuknya malah ditahan oleh pria itu hingga mereka pun menghabiskan beberapa detik saling bertukar saliva.


"Kamu ini nakal ya! Dibilangin nanti riasan aku luntur, tuh kan ... lipstiknya jadi berantakan. Iiihhh!" Amanda merasa kesal kemudian dia memukul lengan Ethan, sementara pria itu hanya terkekeh.


"Habis bibir kamu itu benar-benar membuat aku candu."


Amanda tidak perduli, dia berjalan ke arah cermin lalu membenarkan lipstiknya yang berantakan, setelahnya mereka turun ke lantai bawah di mana mama Inggit sudah menunggu dengan wajah.

__ADS_1


"Kalian ini apa bermain kuda-kudaan dulu? Lama banget di kamar. Kita udah telat ini, mau berangkat!" gerutunya kepada anak dan juga menantunya, sementara Amanda dan juga Ethan hanya terkekeh melihat kekesalan wanita itu.


BERSAMBUNG.....


__ADS_2